Portal Berita Ekonomi Selasa, 20 November 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 20:29 WIB. Startup - Alpha JWC Ventures menginjeksi dana serie A ke startup periklanan digital Target Media Nusantara.
  • 20:26 WIB. Liga 1 - Persija Jakarta 3 vs 0 Persela Lamongan
  • 05:54 WIB. UEFA Nations League - Denmark 0 vs 0 Republik Irlandia

Schroders: Aksi Jual Karena ‘Kepanikan’ Negara Berkembang Terpukul

Foto Berita Schroders: Aksi Jual Karena ‘Kepanikan’ Negara Berkembang Terpukul
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

PT Schroders Investment Management Indonesia memandang aksi jual di pasar modal Indonesia merupakan 'kepanikan' akan efek kejadian Turki, Argentina, dan Brazil.

Senior Vice President Intermediary Business Schroders, Adrian Maulana mengatakan jika negara berkembang, termasuk Indonesia terpukul karena kejadian tersebut. 

"Negara-negara tersebut (negara berkembang) mengalami twin defisit, yaitu Current Account Deficit (CAD) dan Fiscal Deficit. Bedanya, negara-negara lain itu alami inflasi tinggi. Sedangkan inflasi kita rendah di 3,2% (Inflasi Turki 18%, Argentina 31%)," ungkapnya ketika dihubungi di Jakarta, Senin (10/9/2018).

Lebih lanjut ia meyebutkan, selama ekonomi Amerika Serikat (AS) membaik, suku bunga akan terus meningkat, mata uang dolar AS terus menguat, kemudian harga minyak masih tinggi, maka negara-negara dengan CAD akan rentan.

Adapun, katalis akan membantu apabila suku bunga The Fed naik secara gradual (tidak agresif), lalu risiko perang dagang tidak memburuk dan minyak cenderung menurun. 

"Hari ini, valuasi obligasi dan saham sudah lebih menarik. Tinggal butuh kebijakan pemerintah yang lebih struktural dan konkret untuk meredam volatilitas. Kalau dilihat, kan obligasi pemerintah 10 tahun di kisaran 8,6% dan IHSG -8,29%," jelasnya.

Menurutnya, Indonesia berhasil melewati masa krisis pada 2013 dan 2015. Saat itu, yield obligasi nyaris di posisi 9%, tapi kemudian membaik. Saat ini, lanjutnya, yield memang sudah menarik, namun investor asing belum agresif masuk ke pasar obligasi karena volatilitas dolar-rupiah yang terefleksikan dalam Non-Delivarable Forward (NFD) dan premi efek Swap yang masih mahal untuk asing melakukan hedging dalam rupiah. 

"Tapi kalau negatif sentimen sudah turun, volatilitas dolar-rupiah mereda, maka spread antara hedging cost dan nominal yield jadi positif, maka asing akan melirik kembali pasar SUN Indonesia. Apalagi spread US Treasury dan SUN lebih 5%," jelasnya.

Ia malah menganjurkan investor lokal tidak terlambat masuk ke pasar obligasi (langsung maupun reksadana) karena yield sudah menarik dan investor lokal tidak memiliki liability dalam USD.

"Jadi yang lokal, jangan sampai terlambat masuk," pungkasnya. 

Tag: Pasar Modal, PT Schroders Investment Management Indonesia

Penulis: Annisa Nurfitriyani

Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/Muhammad Adimaja

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 href="Download_Data/" />Download_Data/ - Sep
2 href="Market_Summary/" />Market_Summary/ - Dec
3 href="MockTestReportingDRC/" />MockTestReportingDRC/ - Oct
4 href="PSPNDC/" />PSPNDC/ - Mar
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10

Recommended Reading

Selasa, 20/11/2018 17:39 WIB

Kelangkaan Semen Masih Terjadi di Palu

Selasa, 20/11/2018 14:24 WIB

Mitsubishi Akan Copot Carlos Ghosn

Selasa, 20/11/2018 13:49 WIB

Xiaomi Ambil Alih Bisnis Smartphone Meitu

Selasa, 20/11/2018 08:44 WIB

Bos Besar Nissan Ditangkap Otoritas Jepang

Selasa, 20/11/2018 06:27 WIB

Malaysia Jadi Gerbang Masuk Bawang Ilegal

Selasa, 20/11/2018 00:15 WIB

Relaksasi DNI Bakal Gaet Investasi Asing