Portal Berita Ekonomi Minggu, 20 Januari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

Fundamental Ekonomi Dinilai Kuat, Depresiasi Rupiah Tak Menakutkan

Foto Berita Fundamental Ekonomi Dinilai Kuat, Depresiasi Rupiah Tak Menakutkan
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Sejumlah indikator ekonomi menunjukkan penurunan rupiah yang kini terjadi bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Lantaran itu masyarakat diingatkan tidak berpikir negatif demi menghindari akibat negatif yang tidak diinginkan.

Dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 bertema Bersatu untuk Rupiah di Ruang Serba Guna Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Senin (10/9/2018), Kepala Departemen Internasional Kemenko Perekonomian Iskandar Simorangkir mengajak publik melihat kembali krisis pada 1997-1998 sampai periode saat ini. 

"Secara historis, ini bukan pertama neraca transaksi berjalan kita mengalami defisit. Pada 2013, current account mengalami defisit -4,24% di triliwulan keduanya. Hal Itu mengakibatkan neraca primer kita mengalami deficit besar," tegas dia dalam rilis yang diterima redaksi Warta Ekonomi.

Jadi, lanjut Simorangkir, masalah terjadinya defisit pada neraca transaksi berjalan bukanlah hal baru dan tidak perlu menciptakan ketakutan yang luar biasa besar. Dibanding 2013 yang angka defisitnya mencapai -4,24%, defisit neraca berjalan tahun ini sebesar -3,04% bukanlah sebuah krisis.

"Karena ada arus modal masuk atau capital inflow, kondisi itu menjadi tidak masalah," tuturnya. 

Menurut Simorangkir, saat ini yang harus diwaspadai adalah iklim global yang penuh ketidakpastian. Situasi ini dikhawatirkan bisa memicu capital outflow

"Fenomena ketidakpastian ini memang fenomena global. Kondisi ini memicu terjadinya krisis menjadi lebih berat di Argentina. Dari awal Januari sampai Jumat, mata uang Argentina terdepresiasi 49,62%. Kalau Turki 40,7% depresiasinya. Coba bandingkan dengan kita, depresiasi hanya minus 8,5%," tegas dia.

Simorangkir menambahkan, kekhawatian berlebihan tidak diperlukan karena fundamental ekonomi di dalam negeri masih sangat kuat. Hal ini diperlihatan dengan tingkat inflasi yang masih rendah, yakni 3,2%.

Selain mewaspadai inflasi, pemerintah akan memperhatikan kondisi neraca perdagangan. Hal ini terkait sejumlah kebijakan pemerintah AS yang mencetak lebih dari US$8 miliar pada 2008. Yang mana diikuti kebijakan kenaikan tariff yang berdampak pada menurunnya perdagangan dunia.

"Akibat volume perdagangan dunia menurun, ekspor kita melambat. Apalagi CPO," katanya. 

Untuk mendorong kepercayaan masyarakat pada rupiah, Simorangkir mengatakan, pemerintah menerbitkan kebijakan kenaikan tarif PPh impor. Pemerintah juga akan mendorong penggunanan komponen lokal untuk proyek-proyek infrastruktur guna mengurangi beban impor. 

"Sejumlah kebijakan untuk mendorong ekspor juga telah diterbitkan, antara lain dengan sistem OSS dan pos border," tegas dia.

Selain itu, kata dia, pemerintah mendorong penguatan pariwisata. Pada 18 Agustus lalu, sambung dia, pemerintah memutuskan memberikan KUR pariwisata kepada UMKM tarifnya 7%.

"Saya yakin bersama dengan masyarakat, dengan pemberitaan yang seimbang, saya yakin masyarakat percaya ekonomi solid, sehingga nilai tukar kita menjadi seimbang," katanya.

Tag: Rupiah

Penulis/Editor: Rosmayanti

Foto: FMB9

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6448.156 24.376 627
2 Agriculture 1583.292 -1.764 21
3 Mining 1880.920 11.361 47
4 Basic Industry and Chemicals 889.696 -3.628 71
5 Miscellanous Industry 1443.379 27.257 46
6 Consumer Goods 2607.292 -13.145 51
7 Cons., Property & Real Estate 471.624 -0.108 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1149.241 6.910 71
9 Finance 1234.248 10.015 91
10 Trade & Service 797.089 4.778 155
No Code Prev Close Change %
1 CLAY 180 306 126 70.00
2 NATO 103 175 72 69.90
3 SQMI 306 382 76 24.84
4 KMTR 268 334 66 24.63
5 JIHD 476 590 114 23.95
6 INRU 640 785 145 22.66
7 TNCA 206 250 44 21.36
8 INCF 296 358 62 20.95
9 DUTI 3,630 4,390 760 20.94
10 PADI 920 1,090 170 18.48
No Code Prev Close Change %
1 TFCO 735 620 -115 -15.65
2 OCAP 266 226 -40 -15.04
3 YPAS 660 575 -85 -12.88
4 CTTH 126 110 -16 -12.70
5 MFMI 725 635 -90 -12.41
6 BUKK 2,000 1,800 -200 -10.00
7 PYFA 180 163 -17 -9.44
8 TIRA 270 250 -20 -7.41
9 STTP 3,750 3,490 -260 -6.93
10 ASJT 300 280 -20 -6.67
No Code Prev Close Change %
1 INPC 79 80 1 1.27
2 UNTR 26,850 26,925 75 0.28
3 INDY 2,090 2,180 90 4.31
4 ASII 8,275 8,475 200 2.42
5 TLKM 3,990 4,020 30 0.75
6 BUMI 164 174 10 6.10
7 BBRI 3,810 3,820 10 0.26
8 KPAS 210 208 -2 -0.95
9 ERAA 2,310 2,310 0 0.00
10 TSPC 1,600 1,575 -25 -1.56