Portal Berita Ekonomi Jum'at, 21 September 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 12:57 WIB. Tembakau - PT Sadhana Arifnusa membeli tembakau rajangan Virginia RAM mencapai Rp37.000/Kg.
  • 12:56 WIB. Tembakau - PT Djarum Kudus membeli tembakau Virginia VO rajangan seharga Rp31.000/Kg.
  • 12:54 WIB. Tembakau - PT Gudang Garam melakukan pembelian tembakau Virginia VO rajangan mencapai Rp32.000-Rp33.000/Kg.
  • 12:53 WIB. Tembakau - Harga rata-rata tembakau Virginia VO rajangan mencapai Rp32.000/Kg.
  • 12:48 WIB. UKM - Pemda Yogya membantu UKM berjualan melalui daring.
  • 12:47 WIB. UKM - Sudah ada 800 UKM kuliner yang memperoleh pelatihan sebagai syarat memperoleh nomor PIRT di Yogya.
  • 12:46 WIB. UKM - 248 pelaku UKM sebagai pemasok Pemkot Yogya untuk penuhi kebutuhan konsumsi pemda tersebut.
  • 12:44 WIB. UKM - 248 orang pelaku UKM kuliner kini tercatat dalam daftar pemasok Pemkot Yogyakarta.
  • 12:43 WIB. ICF 2018 - ICF 2018 hasilkan kerja sama perdagangan antara PT PASI dan perusahaan Azerbaijan, PT Eden Group LTD.
  • 10:57 WIB. Bulog - Menurut Kadiv Regional Bulog NTB, masih ada sisa ketahanan stok beras sampai 13 bulan ke depan.
  • 10:55 WIB. Bulog - Dari target pengadaan beras, Bulog memperkirakan akan tercapai 130.000 ton hingga akhir tahun.
  • 10:54 WIB. Bulog - Dari target pengadaan 150.00 ton beras, sudah terealisasi sebanyak 110.000 ton beras.
  • 10:53 WIB. Bulog - Target pengadaan beras pada 2018 sebanyak 150.000 ton.
  • 10:51 WIB. Bulog - Bulog Divre NTB dengan Pemprov NTB berkomitmen untuk dahulukan beras produksi petani di dalam daerah.
  • 10:50 WIB. Bulog - Beras impor akan masuk sejumlah 400.000 ton pada Oktober 2018. 

Rupiah Dianggap Kokoh Jelang Pemilu 2019

Foto Berita Rupiah Dianggap Kokoh Jelang Pemilu 2019
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR RI di Jakarta, Selasa (4/9), mengatakan perlemahan rupiah terhadap dolar AS disebabkan oleh tekanan global maupun domestik.

Sri Mulyani menyebut fenomena ini dengan istilah "perfect storm" atau badai yang sempurna, karena kombinasi persoalan yang menyelimuti di luar maupun dalam negeri terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Ia menjelaskan penyebab eksternal dari depresiasi rupiah terhadap dolar AS adalah pembalikan modal ke negara maju sebagai dampak dari normalisasi kebijakan moneter dan kenaikan suku bunga oleh The Federal Reserve (Bank Sentral AS).

Kondisi ini diperparah oleh potensi terjadinya perang dagang antara AS dengan China serta guncangan ekonomi yang terjadi di negara-negara berkembang seperti Argentina maupun Turki.

Sri Mulyani mengakui lingkungan ekonomi global yang menantang seperti ini masih dapat terjadi tahun depan dan diperkirakan dapat memberikan dampak negatif terhadap negara-negara berkembang pada 2019.

Berbagai tekanan eksternal ini didukung oleh buruknya kondisi domestik yaitu defisit neraca transaksi berjalan yang hingga semester I-2018 telah tercatat 13,7 miliar dolar AS atau 2,6 persen terhadap PDB.

Realisasi tersebut sedikit mengkhawatirkan karena defisit neraca transaksi berjalan Indonesia untuk keseluruhan 2017 hanya mencapai 17,3 miliar dolar AS atau 1,7 terhadap PDB.

Untuk itu, pemerintah mulai melakukan pembenahan terhadap defisit neraca transaksi berjalan guna memperkuat fundamental ekonomi yang saat ini tercatat dianggap masih cukup baik.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini mengharapkan penguatan fundamental ekonomi tersebut dapat membedakan Indonesia dengan negara-negara berkembang lainnya yang kebijakan ekonominya tidak konsisten dengan kondisi fundamental.

"Kami berharap, dengan kehati-hatian ini, Indonesia dapat dibedakan dari 'emerging countries' lain yang fundamental ekonominya lebih rapuh dan kebijakan ekonominya tidak mencerminkan pondasi mereka," ujar Sri Mulyani.

Tag: Rupiah

Penulis: Redaksi/Ant

Editor: Ferry Hidayat

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,972.48 3,932.70
British Pound GBP 1.00 19,766.67 19,568.83
China Yuan CNY 1.00 2,179.44 2,157.79
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,898.00 14,750.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,860.64 10,751.28
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,904.46 1,885.47
Dolar Singapura SGD 1.00 10,919.89 10,810.61
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,552.82 17,372.55
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,609.89 3,570.56
Yen Jepang JPY 1.00 13,234.43 13,099.47

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5931.266 57.669 602
2 Agriculture 1584.135 11.004 20
3 Mining 1936.077 20.470 46
4 Basic Industry and Chemicals 810.673 14.455 71
5 Miscellanous Industry 1272.514 15.152 45
6 Consumer Goods 2477.630 29.722 47
7 Cons., Property & Real Estate 421.938 0.005 68
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1029.500 5.998 69
9 Finance 1067.861 11.961 91
10 Trade & Service 821.943 1.167 145
No Code Prev Close Change %
1 BKDP 62 83 21 33.87
2 HDTX 172 218 46 26.74
3 DIGI 424 530 106 25.00
4 PANI 246 306 60 24.39
5 KPAL 442 530 88 19.91
6 TRUS 170 200 30 17.65
7 OKAS 195 222 27 13.85
8 DYAN 88 100 12 13.64
9 MINA 464 525 61 13.15
10 ARTO 137 154 17 12.41
No Code Prev Close Change %
1 CNTX 680 580 -100 -14.71
2 DNAR 310 266 -44 -14.19
3 DSSA 16,300 14,000 -2,300 -14.11
4 GLOB 160 140 -20 -12.50
5 RELI 262 234 -28 -10.69
6 INPP 660 590 -70 -10.61
7 SRAJ 139 125 -14 -10.07
8 BULL 169 153 -16 -9.47
9 YPAS 700 635 -65 -9.29
10 ALMI 350 320 -30 -8.57
No Code Prev Close Change %
1 PNLF 238 232 -6 -2.52
2 BMTR 406 406 0 0.00
3 KPIG 710 690 -20 -2.82
4 BBRI 3,000 3,090 90 3.00
5 DYAN 88 100 12 13.64
6 BHIT 88 90 2 2.27
7 TLKM 3,550 3,600 50 1.41
8 INKP 17,850 18,300 450 2.52
9 ADRO 1,740 1,805 65 3.74
10 PGAS 2,020 2,080 60 2.97