Portal Berita Ekonomi Jum'at, 22 Februari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 23:18 WIB. PEP - Pertamina EP Asset 3 Subang Field lepasliarkan keluarga Owa Jawa.
  • 23:17 WIB. PTPN - Menteri BUMN: PTPN bakal bertransformasi jadi BUMN Agrikultur modern.
  • 23:15 WIB. Pelindo II - Pelindo II mengincar pendapatan Rp13,5 triliun tahun ini.
  • 23:15 WIB. WTR - Wijaya Karya Realty menerbitkan MTN senilai Rp205 miliar.
  • 23:15 WIB. BNI - BNI menargetkan pendapatan non bunga tumbuh dobel digit sepanjang 2019.
  • 23:14 WIB. PGN - PGN berencana untuk bidik pasar luar negeri.
  • 23:14 WIB. PTPN - PTPN IX menjalin kerja sama distribusi pemasaran produk hilir dengan Jeera Foundation.
  • 23:14 WIB. Mandiri - Mandiri sabet gelar best domestic private bank.
  • 20:43 WIB. Pertamina - Pertamina MOR IV memasok kebutuhan BBM dan Pelumas Polda Jateng.
  • 20:42 WIB. Pertamina - Pertamina meresmikan dua titik BBM satu harga di Maluku dan Papua.
  • 20:42 WIB. Perindo - Perindo fokus perkuat ekspor perikanan ke Jepang dan AS.
  • 20:42 WIB. AXA - Axa Mandiri menargetkan premi nasabah prioritas naik 10% tahun ini.
  • 20:41 WIB. PTPN - Berdasarkan perkiraan PTPN, stok GKP pada awal tahun depan hanya 300.000-400.000 ton.
  • 20:41 WIB. PTPN - PTPN Holding akan meminta kuota untuk impor gula mentah pada tahun ini.
  • 20:41 WIB. Energi - Pertamina bersinergi dengan PLN terkait pemanfaatan listrik di lingkungan Pertamina RU II.

Di Depan Pengusaha, BI Jelaskan Alasan Pelemahan Rupiah

Foto Berita Di Depan Pengusaha, BI Jelaskan Alasan Pelemahan Rupiah
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menilai defisit transaksi berjalan menjadi salah satu faktor yang membuat nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami tekanan dan tertahan di level Rp14.700-Rp14.800 per dolar AS.

"Transaksi berjalan selalu di defisit. Neraca jasa, transportasi, neraca pendapatan, dan bayar dividen di situ defisit besar. Ini yang jadi masalah nilai tukar secara fundamental lemah," kata Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo di hadapan para pengusaha yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) di Jakarta, Jumat (14/9/2018).

Menurutnya, faktor ini pula yang menyebabkan nilai tukar rupiah lebih dalam dibandingkan mata uang negara lain, seperti Thailand dan Singapura.

"Indonesia dan Filipina melemah, kenapa Thailand dan Singapura (tidak) lebih rendah dari Indonesia? Masuk yang sifatnya struktural, yakni di kondisi transaksi berjalan kita," ungkapnya. 

Dia mengemukakan, untuk menahan laju pelemahan rupiah, salah satu caranya dengan meningkatkan aliran modal asing masuk ke dalam dan menahannya agar tak ke luar Indonesia.

Namun, diakuinya, mengundang masuk dana asing ke Indonesia bukan perkara mudah dalam kondisi ekonomi global yang masih bergejolak akibat ketegangan perang dagang AS-Tiongkok, krisis Turki, dan rencana kenaikan suku bunga AS. Hal ini membuat beberapa negara berlomba-lomba menarik aliran dana asing masuk ke negaranya.

"Ada diferensial dolar AS dan rupiah yield bonds 5%, dan mengalami selisih depresiasi 8%. (Bagi) Investor, return yang menarik akan menempatkan dananya di Indonesia. Interest Rate Differential (perbedaan suku bunga dengan negara lain) sampai hari ini depresiasi 7,5-8%. Ini gambaran rupiah masih belum stabil dalam dua minggu terakhir. Pelemahan cukup besar," jelasnya.

Oleh sebab itu, agar pasar keuangan Indonesia menarik di mata investor asing, BI harus menaikkan suku bunga acuannya 125 bps, meski konsekuensinya dapat menahan laju pertumbuhan ekonomi.

Dengan yield obligasi negara yang menarik, diharapkan dana asing dapat mengalir deras ke Indonesia dan mampu menjaga pasokan valas dalam negeri.

"Hampir semua negara berlomba-lomba untuk mendapatkan aliran modal. Ini poin BI untuk naikkan suku bunga," ucapnya.

Tag: Rupiah, Bank Indonesia (BI)

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Rosmayanti

Foto: Fajar Sulaiman

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,773.17 3,734.94
British Pound GBP 1.00 18,447.47 18,263.53
China Yuan CNY 1.00 2,107.04 2,086.19
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,149.00 14,009.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,042.96 9,942.19
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,802.90 1,785.04
Dolar Singapura SGD 1.00 10,446.69 10,342.56
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,044.97 15,882.00
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,467.04 3,430.22
Yen Jepang JPY 100.00 12,776.77 12,646.93

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6501.378 -36.388 628
2 Agriculture 1604.794 -11.878 21
3 Mining 1940.127 4.527 47
4 Basic Industry and Chemicals 888.309 -14.973 71
5 Miscellanous Industry 1338.979 -8.175 46
6 Consumer Goods 2638.097 -16.371 51
7 Cons., Property & Real Estate 455.949 -3.945 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1207.267 -6.802 72
9 Finance 1235.093 -8.628 91
10 Trade & Service 834.167 6.854 155
No Code Prev Close Change %
1 INTD 141 190 49 34.75
2 OCAP 72 97 25 34.72
3 JAYA 432 540 108 25.00
4 INPS 2,400 3,000 600 25.00
5 SIMA 258 322 64 24.81
6 BALI 895 1,115 220 24.58
7 PNSE 675 840 165 24.44
8 CLAY 1,395 1,725 330 23.66
9 SQMI 272 332 60 22.06
10 MFMI 650 790 140 21.54
No Code Prev Close Change %
1 ALDO 1,425 1,095 -330 -23.16
2 TALF 332 260 -72 -21.69
3 IBFN 266 232 -34 -12.78
4 INCI 570 510 -60 -10.53
5 KOIN 302 272 -30 -9.93
6 POLI 1,160 1,055 -105 -9.05
7 PJAA 1,500 1,400 -100 -6.67
8 SMDM 178 168 -10 -5.62
9 SDPC 110 104 -6 -5.45
10 TBIG 4,440 4,200 -240 -5.41
No Code Prev Close Change %
1 UNTR 26,500 27,950 1,450 5.47
2 BMRI 7,325 7,100 -225 -3.07
3 ADRO 1,415 1,410 -5 -0.35
4 PGAS 2,640 2,650 10 0.38
5 BNLI 1,055 1,055 0 0.00
6 JPFA 2,330 2,340 10 0.43
7 INDY 2,180 2,170 -10 -0.46
8 BUMI 163 158 -5 -3.07
9 SQMI 272 332 60 22.06
10 ANTM 1,035 1,055 20 1.93