Portal Berita Ekonomi Rabu, 24 April 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 10:48 WIB. BTN - Penghimpunan dana BTN tumbuh 10,98% yoy menjadi Rp215,83 triliun.
  • 10:46 WIB. PGN - PGN menggelar BUMN Goes to Campus di universitas Katolik Santo Thomas Medan.
  • 10:45 WIB. WIKON - Wijaya Karya Industri & Konstruksi meresmikan produksi perdana gelagar baja untuk pasar Filipina.
  • 10:04 WIB. Perundingan Dagang - AS-China akan kembali melakukan perundingan dagang pada akhir April 2019 mendatang. 
  • 10:02 WIB. Perang Dagang - Trump perkuat sinyal perang dagang dengan Uni Eropa. 
  • 09:59 WIB. Rupiah - Rupiah melemah 0,36% ke level Rp14.125 per dolar AS. 
  • 09:07 WIB. IHSG - IHSG dibuka merah 0,04% ke level 6.460,27 di awal sesi I. 

Pertamina Akui Kekurangan Campuran B20

Pertamina Akui Kekurangan Campuran B20 - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

PT Pertamina (Persero) menyatakan kekurangan pasokan FAME (Fatty Acid Methyl Eter) atau bahan campuran biodiesel 20% atau B20 dari Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BBN). 

Dari 112 terminal BBM, baru 69 terminal BBM yang sudah menerima penyaluran FAME. Sementara sebagian besar daerah yang belum tersalurkan FAME berada di kawasan timur seperti Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua, dan Sulawesi.

"Seluruh instalasi Pertamina sudah siap blending B20. Namun penyaluran B20 tergantung pada suplai FAME, di mana hingga saat ini suplai belum maksimal didapatkan," kata Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati, melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (21/9/2018).

Sementara itu, Direktur Pemasaran Retail Pertamina, Mas'ud Khamid, menjelaskan keberhasilan Pertamina untuk mendukung program pemerintah tersebut memang sangat bergantung keberlanjutan pasokan FAME dari para produsen.  

Dia mencontohkan, terminal BBM Plumpang di Jakarta sepanjang 15-20 September 2018 tidak bisa optimal memproduksi B20 karena kekurangan pasokan dari produsen FAME. Sementara di sisi lain,  Pertamina tetap harus memproduksi B20 demi memenuhi kebutuhan masyarakat. 

"Pertamina punya 112 terminal BBM, kami siap semua untuk mengolahnya sepanjang pasokan ada dari mitra yang produksi FAME. Begitu FAME datang bisa langsung kami blending dan jual," tegasnya.

Mas'ud menyebutkan,  total kebutuhan FAME Pertamina untuk dicampurkan ke solar subsidi dan non-subsidi yaitu sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun. "Total konsumsi solar subsidi dan non-subsidi 29 juta kiloliter per tahun, " jelasnya.

Terkait adanya denda sebesar Rp6.000 per liter bagi badan usaha BBM yang tidak melakukan pencampuran FAME, Mas'ud menyatakan pihaknya akan berdiskusi dengan pemerintah terkait hal ini. 

"Denda ini kami dukung supaya disiplin. Tapi  kalau kondisi di lapangan suplai FAME-nya tidak ada,  kami juga tidak bisa mengolah dan menyalurkan B20. Jadi ini harus didiskusikan lagi dengan pemerintah," ujar dia.

Mas'ud menegaskan perseroan berkomitmen terus mendukung seluruh kebijakan pemerintah.

Pertamina berharap perluasan penggunaan B20 pada produk BBM Diesel ini dapat mendorong penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan bagi kendaraan pribadi, sekaligus dapat mengurangi impor BBM, sehingga akan berdampak pada perbaikan neraca perdagangan dan penggunaan devisa negara. 

Pada dasarnya, menurut Mas'ud, PT Pertamina (Persero) mendukung kebijakan mandatory B20 yang dicanangkan pemerintah mulai 1 September 2018.

Saat ini 112 terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Pertamina telah siap mengolah minyak sawit untuk dicampur ke Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar guna penerapan B20 dan menyalurkannya kepada masyarakat.

Tag: PT Pertamina (Persero)

Penulis: Redaksi WE Online/Ant

Editor: Vicky Fadil

Foto: Antara/Wahyu Putro A

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,782.13 3,743.97
British Pound GBP 1.00 18,347.13 18,157.82
China Yuan CNY 1.00 2,110.41 2,089.28
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,183.00 14,041.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,986.25 9,883.46
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,808.85 1,790.72
Dolar Singapura SGD 1.00 10,440.96 10,334.90
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,907.65 15,742.77
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,433.31 3,396.47
Yen Jepang JPY 100.00 12,678.11 12,548.93

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6462.822 48.079 632
2 Agriculture 1471.418 6.415 21
3 Mining 1816.490 35.325 47
4 Basic Industry and Chemicals 835.511 4.182 71
5 Miscellanous Industry 1327.492 19.942 46
6 Consumer Goods 2506.880 31.053 52
7 Cons., Property & Real Estate 491.243 -0.634 75
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1162.999 14.156 73
9 Finance 1303.709 2.892 91
10 Trade & Service 815.278 5.604 156
No Code Prev Close Change %
1 HRME 466 580 114 24.46
2 ABBA 147 169 22 14.97
3 LUCK 840 960 120 14.29
4 BCAP 149 170 21 14.09
5 ALMI 525 595 70 13.33
6 CNTX 505 570 65 12.87
7 GSMF 110 123 13 11.82
8 JSKY 1,080 1,200 120 11.11
9 ZINC 555 615 60 10.81
10 MYTX 75 83 8 10.67
No Code Prev Close Change %
1 TRIS 266 200 -66 -24.81
2 ARTA 535 406 -129 -24.11
3 MTPS 1,210 920 -290 -23.97
4 CPRI 168 131 -37 -22.02
5 TRIO 155 121 -34 -21.94
6 IIKP 125 99 -26 -20.80
7 MTSM 238 202 -36 -15.13
8 BBLD 565 480 -85 -15.04
9 GHON 1,500 1,275 -225 -15.00
10 MKPI 17,175 15,000 -2,175 -12.66
No Code Prev Close Change %
1 CPRI 168 131 -37 -22.02
2 BGTG 82 83 1 1.22
3 TLKM 3,780 3,850 70 1.85
4 TRAM 111 112 1 0.90
5 ABBA 147 169 22 14.97
6 FREN 312 298 -14 -4.49
7 BUMI 113 125 12 10.62
8 ERAA 1,495 1,585 90 6.02
9 UNTR 26,075 27,200 1,125 4.31
10 ESTI 109 100 -9 -8.26