Portal Berita Ekonomi Senin, 21 Januari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 18:51 WIB. PLN - PLN sedang mengupayakan pemenuhan daya listrik untuk kompor listrik.
  • 18:49 WIB. PLN - PLN masih mempunyai batas hutang 300% atau hingga Rp2.000 triliun.
  • 18:46 WIB. Kemenpupera - Kemenpupera menargetkan pembangunan 51.000 unit rumah untuk MBR melalui skema pembiayaan BP2BT.
  • 18:22 WIB. AFPI - AFPI menargetkan penyaluran pinjaman Rp40 triliun pada 2019.
  • 17:55 WIB. AP I - Bandara NYIA sudah mencapai 30% fisik pembangunan.
  • 17:54 WIB. AP I - AP I buka peluang rute penerbangan dari Asia dan Timur Tengah via Bandara NYIA.
  • 17:53 WIB. Telkomsel - Telkomsel melalui T-Cash jalin kerja sama strategis dengan CRP Group.

Dipicu Kekhawatiran Pasokan, Harga Minyak Naik Lagi

Foto Berita Dipicu Kekhawatiran Pasokan, Harga Minyak Naik Lagi
Warta Ekonomi.co.id, New York -

Harga minyak dunia terus meningkat pada akhir perdagangan, Rabu (17/10/2018) pagi WIB, karena investor khawatir bahwa sanksi-sanksi AS terhadap Iran dan ketegangan antara AS dan Arab Saudi atas hilangnya seorang wartawan Saudi dapat mempengaruhi pasokan minyak mentah global.

Laporan bahwa ekspor minyak mentah Iran mungkin turun lebih cepat daripada yang diperkirakan menjelang sanksi-sanki baru AS terhadap Teheran mulai 4 November memberikan dukungan untuk harga minyak.

Dalam dua minggu pertama Oktober, Iran mengekspor 1,33 juta barel per hari (bph) minyak mentah ke negara-negara termasuk India, China dan Turki, menurut data Refinitiv Eikon. Itu turun dari 1,6 juta barel per hari selama periode yang sama pada September.

Ekspor Oktober adalah penurunan tajam dari 2,5 juta barel per hari pada April sebelum Presiden AS Donald Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir multilateral dengan Iran pada Mei, dan memerintahkan pengenaan kembali sanksi-sanksi ekonomi terhadap negara itu, data menunjukkan.

Sementara itu, para pedagang juga terus mengawasi hubungan antara AS dan Arab Saudi setelah hilangnya seorang jurnalis.

Arab Saudi telah berada di bawah tekanan sejak jurnalis Saudi terkemuka Jamal Khashoggi, seorang kritikus Riyadh yang bekerja untuk Washington Post, menghilang pada 2 Oktober setelah mengunjungi kantor konsulat Saudi di Istanbul, Turki.

Senator AS Lindsey Graham, seperti dikutip Reuters, menuduh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman memerintahkan pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi dan mengatakan pangeran itu membahayakan hubungan dengan Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump mengatakan putra mahkota Saudi bermaksud memperluas penyelidikan terhadap hilangnya Khashoggi dan bahwa pangeran tidak tahu apa yang terjadi di konsulat Turki di mana Khashoggi menghilang.

"Fokus dalam perdagangan minyak selama beberapa minggu ke depan kemungkinan akan terjadi di Iran dan Arab Saudi," kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, dalam sebuah catatan, seperti dikutip Reuters.

"Kami tidak memperkirakan Kerajaan menjadi akomodatif terhadap permintaan Gedung Putih untuk produksi yang lebih kuat," katanya, menambahkan bahwa Saudi dapat memotong sebanyak 500.000 barel per hari produksinya "sebagai tembakan peringatan jika AS memilih untuk menerapkan semua jenis sanksi dalam menanggapi perkembangan Khashoggi".

Pedagang khawatir bahwa ketegangan yang memburuk antara kedua negara dapat mengakibatkan pembatasan produksi minyak mentah global.

Namun kenaikan minyak mentah lebih lanjut tertahan oleh ekspektasi produksi minyak serpih AS dan persediaan minyak mentah AS yang lebih tinggi.

Minyak mentah AS, West Texas Intermediate untuk pengiriman November naik 0,14 dolar AS menjadi menetap di 71,92 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember bertambah 0,63 dolar AS atau 0,8 persen menjadi ditutup pada 81,41 dolar per barel di London ICE Futures Exchange.

Tag: Minyak

Penulis: Redaksi/Ant

Editor: Vicky Fadil

Foto: Reuters/Jorge Silva

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6448.156 24.376 627
2 Agriculture 1583.292 -1.764 21
3 Mining 1880.920 11.361 47
4 Basic Industry and Chemicals 889.696 -3.628 71
5 Miscellanous Industry 1443.379 27.257 46
6 Consumer Goods 2607.292 -13.145 51
7 Cons., Property & Real Estate 471.624 -0.108 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1149.241 6.910 71
9 Finance 1234.248 10.015 91
10 Trade & Service 797.089 4.778 155
No Code Prev Close Change %
1 CLAY 180 306 126 70.00
2 NATO 103 175 72 69.90
3 SQMI 306 382 76 24.84
4 KMTR 268 334 66 24.63
5 JIHD 476 590 114 23.95
6 INRU 640 785 145 22.66
7 TNCA 206 250 44 21.36
8 INCF 296 358 62 20.95
9 DUTI 3,630 4,390 760 20.94
10 PADI 920 1,090 170 18.48
No Code Prev Close Change %
1 TFCO 735 620 -115 -15.65
2 OCAP 266 226 -40 -15.04
3 YPAS 660 575 -85 -12.88
4 CTTH 126 110 -16 -12.70
5 MFMI 725 635 -90 -12.41
6 BUKK 2,000 1,800 -200 -10.00
7 PYFA 180 163 -17 -9.44
8 TIRA 270 250 -20 -7.41
9 STTP 3,750 3,490 -260 -6.93
10 ASJT 300 280 -20 -6.67
No Code Prev Close Change %
1 INPC 79 80 1 1.27
2 UNTR 26,850 26,925 75 0.28
3 INDY 2,090 2,180 90 4.31
4 ASII 8,275 8,475 200 2.42
5 TLKM 3,990 4,020 30 0.75
6 BUMI 164 174 10 6.10
7 BBRI 3,810 3,820 10 0.26
8 KPAS 210 208 -2 -0.95
9 ERAA 2,310 2,310 0 0.00
10 TSPC 1,600 1,575 -25 -1.56