Portal Berita Ekonomi Sabtu, 19 Januari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

Indonesia Bidik Kenaikan Ekspor Certain Uncoated Paper di AS

Foto Berita Indonesia Bidik Kenaikan Ekspor Certain Uncoated Paper di AS
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Produk Certain Uncoated Paper (CUP) Indonesia berhasil mendapat keringanan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) dan Bea Masuk Anti-Subsidi/Imbalan (BMI) dari Amerika Serikat (AS). Sebagian perusahaan Indonesia yang mengikuti peninjauan kembali administratif (Administrative Review/AR) mendapatkan penurunan signifikan marjin subsidi dari 21,22% menjadi 11,71% pada 2015 dan 5,13% pada 2016.

Keputusan ini dikeluarkan Kementerian Perdagangan AS (USDOC) dan dipublikasikan dalam Hasil Akhir Tinjauan Kembali Kewajiban Administratif Antidumping 2015-2016 (Final Result of 2015-2016 Countervailing Duty Administrative Review) untuk produk CUP dari Indonesia pada 9 Oktober 2018. CUP merupakan produk kertas yang digunakan untuk keperluan kantor seperti fotokopi, buku, map, dan brosur.

"Keberhasilan Indonesia dengan perusahaan tertuduh dalam penanganan perbaikan marjin subsidi melalui mekanisme AR tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai ekspor CUP Indonesia ke AS. Keberhasilan upaya itu akan mengembalikan nilai ekspor sebelum dikenakannya BMAD dan BMI sebesar US$225 juta," ujar Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Oke Nurwan dalam pernyataan resmi, Senin (22/10/2018).

Sebelumnya, pengenaan BMAD dan BMI menurunkan secara drastis tren nilai ekspor CUP Indonesia ke AS pada periode 2013-2017 sebesar 43,21%, dari US$111,37 juta pada 2013 menjadi US$16,76 juta pada 2017. Penurunan terutama terlihat dari nilai ekspor pada 2015 yang mencapai US$106,15 juta menjadi hanya US$34,76 juta pada 2016.

"Hasil tinjauan kembali itu menunjukkan penurunan marjin subsidi yang signifikan bagi sebagian produsen kertas Indonesia yang mengikuti proses itu, terhadap pengenaan BMAD dan Bea BMI oleh USDOC terhitung mulai 29 Februari 2016," jelas Oke.

Sementara itu, Direktur Perdagangan Pradnyawati menambahkan, proses peninjauan ini akan menilai kembali apakah BMAD dan BMI yang dikenakan sesuai dengan kondisi saat ini.

"Penilaian kembali pemberlakuan BMAD dan BMI dapat dilakukan setiap tahun atas permohonan pihak terkait," imbuhnya.

Lebih lanjut Pradnyawati mengungkapkan, penyesuaian marjin dilakukan karena pihak USDOC memutuskan menerima sebagian besar argumen Pemerintah Indonesia. Saat ini, Otoritas AS menggunakan data dari perusahaan tertuduh setelah sebelumnya menggunakan data dari Malaysia sebagai tolak ukur. Pihak importir dari perusahaan tertuduh nantinya akan menerima pengembalian kelebihan deposit sesuai dengan marjin aktual dalam periode investigasi.

Kerja sama Indonesia dengan perusahaan tertuduh dalam upaya menurunkan marjin subsidi terhadap pengenaan BMAD dan BMI dimulai sejak USDOC menginisiasi AR pada 9 Mei 2017. Dalam upaya menjawab tuduhan subsidi, Indonesia telah berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga, serta pihak perbankan dalam menyusun dan menyampaikan tanggapan kuisioner utama dan empat kuesioner tambahan kepada USDOC sampai pada pelaksanaan verifikasi langsung oleh USDOC pada Mei 2018.

Selain itu, Indonesia telah melakukan pertemuan konsultasi dengan Kementerian Perdagangan dan Investasi (MITI) Malaysia di Kuala Lumpur. Pertemuan ini dimaksudkan untuk memperoleh data dan informasi terkait harga ekspor kayu untuk produksi kertas Malaysia ke seluruh dunia sebagai pembanding terhadap harga kayu Indonesia yang dinilai tidak sesuai setelah diberi subsidi oleh Pemerintah Indonesia.

Hasil konsultasi dan kajian tersebut kemudian digunakan untuk memperkuat argumen Indonesia dengan menjadikan harga ekspor kayu Malaysia sebagai tolak ukur dalam menentukan marjin dumping dan marjin subsidi.

Tag: Ekspor, Kementerian Perdagangan (Kemendag)

Penulis/Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6448.156 24.376 627
2 Agriculture 1583.292 -1.764 21
3 Mining 1880.920 11.361 47
4 Basic Industry and Chemicals 889.696 -3.628 71
5 Miscellanous Industry 1443.379 27.257 46
6 Consumer Goods 2607.292 -13.145 51
7 Cons., Property & Real Estate 471.624 -0.108 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1149.241 6.910 71
9 Finance 1234.248 10.015 91
10 Trade & Service 797.089 4.778 155
No Code Prev Close Change %
1 CLAY 180 306 126 70.00
2 NATO 103 175 72 69.90
3 SQMI 306 382 76 24.84
4 KMTR 268 334 66 24.63
5 JIHD 476 590 114 23.95
6 INRU 640 785 145 22.66
7 TNCA 206 250 44 21.36
8 INCF 296 358 62 20.95
9 DUTI 3,630 4,390 760 20.94
10 PADI 920 1,090 170 18.48
No Code Prev Close Change %
1 TFCO 735 620 -115 -15.65
2 OCAP 266 226 -40 -15.04
3 YPAS 660 575 -85 -12.88
4 CTTH 126 110 -16 -12.70
5 MFMI 725 635 -90 -12.41
6 BUKK 2,000 1,800 -200 -10.00
7 PYFA 180 163 -17 -9.44
8 TIRA 270 250 -20 -7.41
9 STTP 3,750 3,490 -260 -6.93
10 ASJT 300 280 -20 -6.67
No Code Prev Close Change %
1 INPC 79 80 1 1.27
2 UNTR 26,850 26,925 75 0.28
3 INDY 2,090 2,180 90 4.31
4 ASII 8,275 8,475 200 2.42
5 TLKM 3,990 4,020 30 0.75
6 BUMI 164 174 10 6.10
7 BBRI 3,810 3,820 10 0.26
8 KPAS 210 208 -2 -0.95
9 ERAA 2,310 2,310 0 0.00
10 TSPC 1,600 1,575 -25 -1.56