Portal Berita Ekonomi Minggu, 20 Januari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 15:06 WIB. Multifinance - OJK mencatat penyaluran pembiayaan multifinance tumbuh 5,14% menjadi Rp433,9 triliun.
  • 15:03 WIB. BPJS - BPJS Kesehatan optimis tingkat kepesertaan mencapai 95% pada tahun 2019 ini.

Garap Pasar Amerika-Eropa, KKP Maksimalkan Industri Patin Melalui Pemanfaatan ICS

Foto Berita Garap Pasar Amerika-Eropa, KKP Maksimalkan Industri Patin Melalui Pemanfaatan ICS
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rifky Efendi Hardijanto mengatakan, potensi pasar ikan patin Amerika dan Eropa terbuka lebar. Oleh karenanya, KKP ingin memaksimalkan pemanfaatan Integrated Cold Storage (ICS) untuk mendongkrak industri ikan patin nasional.

"Pangsa pasar ikan patin Amerika dan Eropa besar. Saat ini pasar itu kosong karena mulai ditinggalkan Vietnam. Maka ini potensi besar bagi Indonesia untuk mengisi kekosongan itu," kata Rifky saat memberikan sambutan pada Temu Bisnis Pemanfaatan ICS Kabupaten Kampar yang mengangkat tema Mendukung Industri Patin Nasional, Selasa (23/10), di Jakarta.

Bicara sejarah, sambung Rifky, 20 tahun lalu Vietnam mencanangkan menjadi produsen patin dunia, yang mampu mengisi pasar patin dunia. Hanya saja, seiring berjalannya waktu, Vietnam tidak menjaga kualitas. Maka dari itu, pasar Amerika dan Eropa tidak lagi melakukan impor patin dari Vietnam.

"Tentu saja, ini peluang buat Indonesia untuk garap pasar Amerika dan Eropa," tambahnya.

Bicara produksi patin, per tahun, Vietnam mampu memproduksi patin sebanyak 1,195 juta ton, sedangkan Indonesia baru 437 ribu juta ton. Ekspor patin nasional memang belum terlalu tinggi karena untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

"Makanya, ke depan kami produksi bukan hanya untuk konsumsi dalam negeri, tapi lebih kami tingkatkan lagi yang berorientasi untuk ekspor," ujarnya.

Untuk bisa memasuki ekspor, tentu saja langkah yang harus ditempuh selain produksi, yaitu industrinya. Maka dari itu, KKP akan memanfaatkan ICS. Dalam ICS, ada processing dan cold storage, sehingga keluar dari ICS, produk bisa langsung diekspor.

"Dengan ICS, produk yang keluar sudah bisa langsung kami ekspor," tuturnya.

Adapun untuk daerah produsen patin Indonesia saat ini, wilayah Sumatera masih menyumbang produksi patin terbesar nasional sebesar 68,07%, Riau 8,14%, Kalimantan Selatan 10,06%, Kalimantan Tengah 8,81%, Jambi 6,43%, dan Jabar 6,4%.

"Untuk itu, daerah-daerah produsen atau sentra patin akan terus kami maksimal dengan memaksimalkan ICS-nya, sehingga ekspor patin nasional bisa terus kami tingkatkan," paparnya.

Selain itu, KKP akan membuat brand untuk patin nasional bernama Indonesia Pangasius, yang artinya Patin Indonesia. Nama ini direncanakan diluncurkan pada pameran di Dubai akhir bulan ini.

"Branding itu penting. Jika patin Vietnam namanya Dori Fish, Patin kita namanya Indonesia Pangasius. Pangasius sendiri diambil dari nama Pangasius Hypophthalmus, nama ilmiah dari ikan patin sendiri," katanya.

Salah satu daerah yang ICS-nya akan dikembangkan oleh KKP adalah Kabupaten Kampar, Riau. ICS di sana berkapasitas 100 ton. 

Di tempat yang sama, Bupati Kampar, Azis Zaenal mengatakan bahwa atas nama masyarakat Kabupaten Kampar dan Riau pada umumnya, pihaknya sangat berterima kasih kepada KKP yang sudah memberikan perhatian. Dengan pengembanganan ICS ini, diharapkan mampu meningkatkan ekonomi dan peningkatan pendapatan masyarakat Kampar.

"Kami, baik dari pusat mapun daerah punya visi yang sama, yaitu meningkatkan ekonomi masyarakat secara nasional pada umumnya. Oleh karenanya, sinergitas dan harmonisasi antarpusat dan daerah sangat penting guna memajukan pendapatan ekonomi dan taraf hidup masyarakat. Harapannya, sektor perikanan, baik di kabupaten kami dan daerah lain, mampu memberikan kontribusi terhadap perekonomian secara nasional," tandasnya.

Tag: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Rosmayanti

Foto: KKP

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6448.156 24.376 627
2 Agriculture 1583.292 -1.764 21
3 Mining 1880.920 11.361 47
4 Basic Industry and Chemicals 889.696 -3.628 71
5 Miscellanous Industry 1443.379 27.257 46
6 Consumer Goods 2607.292 -13.145 51
7 Cons., Property & Real Estate 471.624 -0.108 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1149.241 6.910 71
9 Finance 1234.248 10.015 91
10 Trade & Service 797.089 4.778 155
No Code Prev Close Change %
1 CLAY 180 306 126 70.00
2 NATO 103 175 72 69.90
3 SQMI 306 382 76 24.84
4 KMTR 268 334 66 24.63
5 JIHD 476 590 114 23.95
6 INRU 640 785 145 22.66
7 TNCA 206 250 44 21.36
8 INCF 296 358 62 20.95
9 DUTI 3,630 4,390 760 20.94
10 PADI 920 1,090 170 18.48
No Code Prev Close Change %
1 TFCO 735 620 -115 -15.65
2 OCAP 266 226 -40 -15.04
3 YPAS 660 575 -85 -12.88
4 CTTH 126 110 -16 -12.70
5 MFMI 725 635 -90 -12.41
6 BUKK 2,000 1,800 -200 -10.00
7 PYFA 180 163 -17 -9.44
8 TIRA 270 250 -20 -7.41
9 STTP 3,750 3,490 -260 -6.93
10 ASJT 300 280 -20 -6.67
No Code Prev Close Change %
1 INPC 79 80 1 1.27
2 UNTR 26,850 26,925 75 0.28
3 INDY 2,090 2,180 90 4.31
4 ASII 8,275 8,475 200 2.42
5 TLKM 3,990 4,020 30 0.75
6 BUMI 164 174 10 6.10
7 BBRI 3,810 3,820 10 0.26
8 KPAS 210 208 -2 -0.95
9 ERAA 2,310 2,310 0 0.00
10 TSPC 1,600 1,575 -25 -1.56