Portal Berita Ekonomi Minggu, 18 November 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

Pimpinan Perusahaan Pegang Peranan Penting Tangkal Serangan Siber

Foto Berita Pimpinan Perusahaan Pegang Peranan Penting Tangkal Serangan Siber
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Serangan siber ransomware WannaCry beberapa waktu lalu sempat heboh menginfeksi dan mengenkripsi lebih dari 200.000 komputer di 99 negara, diiringi tuntutan tebusan dalam 20 bahasa. Serangan tersebut menyasar berbagai korporasi besar, universitas, hingga kementerian sejumlah negara. Indonesia tak luput dari target dengan diserangnya sejumlah komputer di berbagai rumah sakit umum. 

Setelah kejadian global tersebut, menarik untuk mengetahui bagaimana persepsi pimpinan senior korporasi global dalam menghadapi serangan siber yang menjadi isu utama di era industri 4.0 ini, di mana berbagai sektor industri telah menerapkan Internet of Things (IoT) dalam basis operasional sehari-hari mereka.  

Adam Shrok, Managing Director of Cyber Risk Grant Thornton US memaparkan, "WannaCry memberi kita pelajaran penting untuk selalu menganalisis dan menempatkan pembaruan keamanan pada komputer dan perangkat seluler karena begitu Malware berada di dalam sebuah organisasi, mereka akan segera menyebar. Penting untuk bereaksi cepat dan membatasi kerusakan yang timbul. Meski, akan jauh lebih baik untuk melakukan persiapan berikut pencegahan serangan siber."

Menurutnya, jumlah serangan siber secara global memang belum meningkat secara dramatis pada tahun lalu.

"Meski begitu, kami mencatat kenaikan serangan 6,8% sejak 2015. Dampak terhadap pendapatan perusahaan-perusahaan relatif masih kecil, di mana dunia usaha melaporkan hanya penurunan pendapatan perusahaan sebesar 1-2% yang diakibatkan oleh serangan siber," tambah Adam. 

Namun, tren kenaikan tersebut harus diwaspadai karena sewaktu-waktu serangan siber dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Laporan Grant Thornton International Business Report (IBR) menunjukkan perubahan siginifikan atas pandangan para pimpinan senior perusahaan terhadap bagaimana serangan siber akan mempengaruhi bisnis mereka. 

Manajemen keamanan siber menjadi bagian dalam proses bisnis, sehingga dunia usaha memiliki perspektif yang lebih lengkap dengan menyertakan risiko ancaman siber yang dapat mengancam operasional bisnis secara keseluruhan.  

Dengan populasi besar dan roda ekonomi yang berputar pesat, Indonesia menjadi salah satu target utama serangan siber, khususnya yang dilakukan oleh peretas internasional. Berdasarkan laporan Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure Coordinator Center, tercatat jumlah serangan dari luar Indonesia mencapai lebih dari 205 juta serangan sepanjang 2017 dengan serangan paling banyak berasal dari Malware.

Para pimpinan senior perusahaan dinilai penting untuk mengambil langkah pencegahan, mengingat potensi banyaknya serangan siber yang akan datang. Namun pada kenyataannya, para pimpinan senior memiliki berbagai sikap berbeda terhadap risiko serangan siber, tergantung pada industri, sektor, dan bahkan tipe kepribadian. 

"Sangat penting untuk menyadari bahwa setiap bisnis tidak pernah bisa 100% aman dari serangan siber dan tingkat toleransi risiko yang dimiliki pelaku bisnis juga berperan besar akan strategi perusahaan menghadapi serangan siber," ungkap Johanna Gani, Managing Partner Grant Thornton Indonesia.

Dengan teknologi yang selalu berubah, lanjut Johanna, serangan siber pun beradaptasi dengan cepat tanpa mengenal batasan fisik, lokasi, dan waktu untuk menyerang.

"Bisnis harus memiliki strategi manajemen risiko yang kuat yang selaras dengan strategi bisnis yang lebih luas untuk memitigasi risiko di masa depan," pungkasnya.

Tag: Siber, Grant Thornton

Penulis: Ning Rahayu

Editor: Rosmayanti

Foto: F5 Labs

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6012.350 56.614 616
2 Agriculture 1444.624 20.661 20
3 Mining 1863.510 10.282 47
4 Basic Industry and Chemicals 792.445 13.262 71
5 Miscellanous Industry 1418.243 2.734 45
6 Consumer Goods 2347.362 0.220 49
7 Cons., Property & Real Estate 420.337 3.422 72
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1092.429 22.357 71
9 Finance 1137.981 14.830 91
10 Trade & Service 810.548 3.800 150
No Code Prev Close Change %
1 POLA 135 228 93 68.89
2 SOSS 1,560 1,950 390 25.00
3 SURE 2,350 2,930 580 24.68
4 RUIS 230 282 52 22.61
5 ARTO 158 190 32 20.25
6 TRUK 126 151 25 19.84
7 NUSA 254 294 40 15.75
8 ISSP 79 91 12 15.19
9 APEX 1,520 1,720 200 13.16
10 HOME 107 118 11 10.28
No Code Prev Close Change %
1 YULE 190 131 -59 -31.05
2 YPAS 690 525 -165 -23.91
3 AKPI 900 780 -120 -13.33
4 SQMI 248 216 -32 -12.90
5 RELI 280 246 -34 -12.14
6 TAMU 2,700 2,400 -300 -11.11
7 TIRA 154 138 -16 -10.39
8 UNIT 282 254 -28 -9.93
9 IDPR 775 700 -75 -9.68
10 HDTX 197 178 -19 -9.64
No Code Prev Close Change %
1 ESTI 108 99 -9 -8.33
2 BBRI 3,410 3,490 80 2.35
3 TLKM 3,910 4,050 140 3.58
4 BBCA 24,175 24,825 650 2.69
5 HMSP 3,480 3,420 -60 -1.72
6 WSKT 1,500 1,530 30 2.00
7 SMGR 10,300 11,000 700 6.80
8 KPAS 585 540 -45 -7.69
9 ERAA 1,725 1,840 115 6.67
10 BBTN 2,300 2,400 100 4.35