Portal Berita Ekonomi Minggu, 18 November 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

7 Tantangan Utama ASEAN dan Bagaimana Menghadapinya

Foto Berita 7 Tantangan Utama ASEAN dan Bagaimana Menghadapinya
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Kawasan ASEAN yang terdiri dari Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam, menggaungkan gabungan PDB sekitar $2,77 triliun pada 2017, dengan prediksi untuk tingkat pertumbuhan PDB dari sekitar 5,3% per tahun hingga 2019. Berikut adalah tujuh tantangan yang dihadapi oleh blok tersebut dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, menurut Ishtiaq Pasha Mahmood yang merupakan seorang Profesor di National University of Singapore Business School dan Co-curator Transformation Map on ASEAN ada tujuh tantangan ASEAN di masa depan serta langkah-langkah preventif dalam menyikapinya.

1. Stabilitas geopolitik dan hubungan regional

ASEAN dibentuk pada tahun 1967, dengan kesepakatan oleh lima negara pendirinya yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand, dalam rangka mengorganisir perdamaian, stabilitas, dan kerja sama antar negara ASEAN. Negara-negara ASEAN terletak di persimpangan strategis, yang berbatasan dengan dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia, China dan India, yang menjadikan ASEAN sebagai titik fokus bagi kekuatan regional dan global.

Walaupun negara-negara anggota ASEAN juga terlibat dalam sengketa teritorial. Klaim China atas wilayah di Laut Cina Selatan, misalnya, tumpang tindih dengan klaim yang bersaing oleh Brunei Darussalam, Malaysia, Filipina, dan Vietnam. Meskipun ada tantangan, koordinasi yang lebih erat dan tujuan bersama di antara pemerintah ASEAN dapat membantu meningkatkan stabilitas dan mengurangi kemungkinan konflik.

2. Tantangan tata kelola untuk bisnis

ASEAN adalah rumah bagi berbagai macam bisnis, termasuk sejumlah konglomerat besar milik keluarga dan perusahaan yang terkait dengan negara, seperti Grup Sentral di Thailand, Grup Salim di Indonesia, Singtel yang terhubung negara di Singapura, dan Vinamilk di Viet Nam. Namun usaha kecil dan menengah (UKM) bersama dengan pengusaha mikro membentuk setidaknya 89% kegiatan bisnis di wilayah tersebut.

Kepentingan yang berakar dengan konglomerat besar, dipasangkan dengan korupsi yang tersebar luas, merusak lingkungan bisnis di kawasan itu dan sangat menyakitkan bagi perusahaan kecil. Kawasan ASEAN membutuhkan lembaga-lembaga sipil independen yang kuat untuk mencegah korupsi dan membantu wilayah tersebut bersaing secara global. Salah satu harapannya adalah inovasi digital akan memungkinkan transparansi yang lebih besar dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

3. Model bisnis baru

Kawasan ASEAN menawarkan pasar yang berkembang lebih dari 600 juta konsumen. PDB per kapita wilayah ini mengukur sekitar $6.500 (tidak termasuk Singapura, ekonomi paling maju di kawasan ini), yang lebih kecil dari China tetapi lebih dari India. Konsumen di kawasan ini sensitif terhadap harga dan permintaan kuat, menghasilkan bisnis lokal dengan margin rendah dan biaya tenaga kerja yang rendah, dan menjadi pesaing yang tangguh bagi pesaing asing.

Salah satu cara bagi pendatang baru untuk beradaptasi dan meningkatkan laba adalah dengan fokus pada kebutuhan dan kondisi konsumen tertentu di kawasan, dan bekerja mundur untuk mengembangkan solusi. Teknologi seluler dapat sangat berguna, terutama mengingat tingkat adopsi ponsel yang tinggi di wilayah tersebut. Dukungan pemerintah juga dapat memastikan perusahaan didorong untuk berinovasi dengan mengurangi beban biaya kegagalan potensial. Ini dapat dilakukan dengan apa yang disebut pendekatan regulasi “sentuhan ringan” atau "Light Touch", yang dapat mendorong kreativitas dan kewirausahaan.

4. Mengubah demografi

ASEAN adalah rumah bagi populasi muda, terpelajar, semakin urban, dan aspiratif. Konsumen di wilayah ASEAN menuntut produk dan layanan berkualitas lebih tinggi dan menghadirkan peluang bagi bisnis yang berharap dapat memanfaatkan pasar konsumen yang berkembang.

Pemerintah harus membantu mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tuntutan kawasan ekonomi yang semakin terintegrasi, melalui pendidikan dan pelatihan. Upaya saat ini oleh negara-negara ASEAN mungkin tidak memadai. Dan karena semakin banyak orang bermigrasi ke kota-kota seperti Manila atau Jakarta untuk mencari peluang yang lebih baik, mereka menciptakan tekanan pada infrastruktur dan pasar kerja yang ada.

Solusi berkelanjutan akan membutuhkan pendekatan inovatif. Masalahnya mulai dari perumahan yang terjangkau, hingga perawatan kesehatan, dan pendidikan biaya rendah berkualitas yang mengundang pemerintah ASEAN untuk bekerja erat dengan organisasi sektor swasta dan non-pemerintah.

5. Pertumbuhan inklusif dan pembangunan berkelanjutan

Negara-negara anggota ASEAN menjangkau spektrum yang luas dari tingkat pendapatan, mulai dari GDP per kapita Singapura sebesar $57.714 hingga $1.384 di Kamboja dan Myanmar $1.298 pada tahun 2017. Dalam beberapa tahun terakhir, negara-negara berpendapatan rendah telah membuat keuntungan penting.

Namun, keuntungan ekonomi regional telah gagal menghapus perbedaan signifikan di antara negara-negara anggota ASEAN. Edisi Global Findex terbaru Bank Dunia 2017 menunjukkan bahwa sementara 98% orang dewasa di Singapura dan 85% di Malaysia memiliki rekening bank, hanya 22% dari orang dewasa Kamboja dan 26% orang dewasa di Myanmar yang mempunyai rekening bank. Kesenjangan ini menggambarkan kebutuhan akan investasi yang luas dan kuat di bidang infrastruktur, lembaga keuangan, dan perencanaan strategis.

6. Ekonomi digital regional

Asia Tenggara adalah rumah bagi populasi pengguna internet yang paling cepat berkembang di dunia, dengan lebih dari 125.000 pengguna baru diperkirakan online setiap hari sepanjang tahun 2020. Sebagian besar pertumbuhan itu akan datang melalui penggunaan telepon seluler, dan memiliki potensi untuk merangsang industri baru, melompati model bisnis legacy dan secara mendasar mengubah kehidupan jutaan orang.

Namun, adopsi teknologi sangat berbeda di antara negara-negara ASEAN, dan ada kebutuhan untuk membangun infrastruktur internet regional.

7. Integrasi ekonomi

Dengan diluncurkannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015, negara-negara anggota ASEAN telah membentuk kelompok yang lebih ketat dan lebih terintegrasi. MEA bertujuan untuk mengembangkan pasar tunggal dan kapasitas produksi industri, meningkatkan daya saing, mendukung pertumbuhan inklusif, dan lebih mengintegrasikan kawasan ini ke dalam ekonomi global.

Selain itu, Trans-Pacific Partnership (TPP) yang telah direvisi dan ditandatangani oleh negara-negara ASEAN, Australia, Kanada dan lain-lain pada tahun 2018, menyusul penarikan AS dari perjanjian tersebut.

 

Tag: Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), Daerah Khusus Ibukota Jakarta (DKI Jakarta)

Penulis/Editor: Hafit Yudi Suprobo

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6012.350 56.614 616
2 Agriculture 1444.624 20.661 20
3 Mining 1863.510 10.282 47
4 Basic Industry and Chemicals 792.445 13.262 71
5 Miscellanous Industry 1418.243 2.734 45
6 Consumer Goods 2347.362 0.220 49
7 Cons., Property & Real Estate 420.337 3.422 72
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1092.429 22.357 71
9 Finance 1137.981 14.830 91
10 Trade & Service 810.548 3.800 150
No Code Prev Close Change %
1 POLA 135 228 93 68.89
2 SOSS 1,560 1,950 390 25.00
3 SURE 2,350 2,930 580 24.68
4 RUIS 230 282 52 22.61
5 ARTO 158 190 32 20.25
6 TRUK 126 151 25 19.84
7 NUSA 254 294 40 15.75
8 ISSP 79 91 12 15.19
9 APEX 1,520 1,720 200 13.16
10 HOME 107 118 11 10.28
No Code Prev Close Change %
1 YULE 190 131 -59 -31.05
2 YPAS 690 525 -165 -23.91
3 AKPI 900 780 -120 -13.33
4 SQMI 248 216 -32 -12.90
5 RELI 280 246 -34 -12.14
6 TAMU 2,700 2,400 -300 -11.11
7 TIRA 154 138 -16 -10.39
8 UNIT 282 254 -28 -9.93
9 IDPR 775 700 -75 -9.68
10 HDTX 197 178 -19 -9.64
No Code Prev Close Change %
1 ESTI 108 99 -9 -8.33
2 BBRI 3,410 3,490 80 2.35
3 TLKM 3,910 4,050 140 3.58
4 BBCA 24,175 24,825 650 2.69
5 HMSP 3,480 3,420 -60 -1.72
6 WSKT 1,500 1,530 30 2.00
7 SMGR 10,300 11,000 700 6.80
8 KPAS 585 540 -45 -7.69
9 ERAA 1,725 1,840 115 6.67
10 BBTN 2,300 2,400 100 4.35

Recommended Reading

Sabtu, 17/11/2018 18:25 WIB

B20 Diyakini Turunkan Impor Migas, Benarkah?

Jum'at, 16/11/2018 19:53 WIB

Melambat, ULN Indonesia Tumbuh 4,2%

Jum'at, 16/11/2018 18:21 WIB

Beginilah Proses Migrasi Mitra Grab ke Go-Jek

Jum'at, 16/11/2018 10:37 WIB

2018, Pertumbuhan Ekonomi Diproyeksikan 5,1%

Jum'at, 16/11/2018 07:24 WIB

Bank Mayapada Rombak Jajaran Direksi