Portal Berita Ekonomi Rabu, 20 Maret 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 21:45 WIB. KA - Progres pengerjaan rel KA Trans Sulawesi Tahap I sudah dalam masa perampungan.
  • 21:44 WIB. Pelindo II - DPR memparpanjang kerja Pansus Pelindo II.
  • 21:43 WIB. KAEF - Kimia Farma berharap dapat menyelesaikan proses akuisisi Phapros sebelum Maret 2019.
  • 21:43 WIB. KAEF - Kimia Farma menyebutkan nilai akuisisi saham Phapros berada pada rentang Rp1 triliun-Rp1,5 triliun.
  • 21:42 WIB. BNI - BNI bidik transaksi EDC Rp107 triliun tahun ini.
  • 21:42 WIB. BNI - BNI menargetkan pertumbuhan sebesar 94,5% secara yoy transaksi mesin EDC.

Kekhawatiran Perusahaan dan Konsumen Terhadap Keamanan Data Online Mereka

Kekhawatiran Perusahaan dan Konsumen Terhadap Keamanan Data Online Mereka - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Studi independen yang dilakukan oleh Kapersky Lab dengan analisi data Applied Marketing Research mensurvei 600 perusahaan menengah dengan profesional keamanan TI serta 6.000 konsumen yang memiliki perangkat lunak keamanan dipasang di perangkat mereka, dibagi rata di seluruh Perancis, Jerman, Italia, Spanyol, Inggris, dan Amerika Serikat. Dari riset yang telah dilakukan, perangkat pertama sebagai pihak yang paling tidak diinginkan kehadirannya adalah pelaku kejahatan siber dengan 45% oleh responden perusahaan dan 47% oleh responden konsumen.

Mereka khawatir bagaimana melindungi data online mereka dari serangan jahat. Peringkat ini diikuti dengan keinginan untuk melindungi dari pemerintah mereka sendiri (masing-masing 36% dan 33%), serta pemerintah dan perusahaan asing (30% dan 26%). Sebanyak satu dari tiga (29%) responden pelaku bisnis memiliki kekhawatiran para pegawainya dapat mengkses data online mereka, sementara seperempat (26%) dari konsumen khawatir dengan anggota keluarga yang dapat memantau jejak online mereka.

VP of Public Affairs di Kapersky Lab, Anton Shingarev, mengatakan bahwa hasil penelitian ini memang luar biasa. Mereka memberikan bukti lebih lanjut bahwa teknologi dan perangkat lunak adalah blackbox bagi banyak perusahaan.

"Mereka tidak tahu cara kerjanya, apa yang ada di dalam, data apa yang dikumpulkan atau bagaimana data tersebut disimpan sebagai industri," ujar Anton dilansir dari keterangan pers Kapersky Labs di Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Sementara itu, penelitian ini menemukan bahwa privasi tampaknya dianggap sebagai hal fundamenral untuk semua orang: 46% bisnis dan 51% konsumen percaya bahwa penyedia keamanan seharusnya tidak secara otomatis membagi data pribadi pengguna kepada pemerintah demi kepentinfan keamanan nasional, hal itu juga harus dikondisikan sesuai dengan keadaan.

Selain itu, 55% bisnis dan 66% konsumen mengatakan pemerintah mereka harus melakukan bisnis dengan perusahaan yang menawakan produk atau layanan berkualiras tinggi, maupun perusahaan tersebut adalah perusaan asing. Menariknya, nilai ini mengingkar menjadi 82% dan 78$ masing-masing ketika menyangkut hal-hal penting untuk keamanan nasional.

Menanggapi temuan tersebut, Milton Mueller, Profesor Georgia Institure of Technology School of Public Policy, Internet Governance Project, mengatakan survei ini membahas hubungan anatara nasionalisme keamanan nasional dan kepercayaan kepasa penyedia layaan internet. Terdapat temuan mengejutkan mengenai sikap konsumen dan perusahaan terhadap peran pemerintah dalam keamanan siber.

"Sebagai contoh, menarik untuk dilihat ketika banyak konsumen mempercayai bahwa pemerintah mereka harus menggunakan vendor terbaik terkait keamanan nasional terlepas dari mana negara asalanya, di sisi lain ketakutan yang justru hadir adalah kepada pemerintah sendiri dibandingkan pemerintah asing," ungkap Milton Mueller.

Tag: Keamanan Siber, Digital Economy

Penulis/Editor: Kumairoh

Foto: Unsplash/Rawpixel

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,813.97 3,775.19
British Pound GBP 1.00 18,965.88 18,770.50
China Yuan CNY 1.00 2,131.41 2,110.25
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,302.00 14,160.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,112.94 10,011.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,821.93 1,803.82
Dolar Singapura SGD 1.00 10,577.62 10,471.82
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,228.48 16,065.94
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,511.42 3,473.14
Yen Jepang JPY 100.00 12,814.26 12,685.90

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6482.710 2.434 629
2 Agriculture 1498.343 -4.886 21
3 Mining 1882.238 9.191 47
4 Basic Industry and Chemicals 893.733 0.232 71
5 Miscellanous Industry 1285.573 -3.740 46
6 Consumer Goods 2667.555 5.523 52
7 Cons., Property & Real Estate 460.673 -0.670 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1164.648 -9.651 72
9 Finance 1248.066 3.719 91
10 Trade & Service 828.180 -0.981 155
No Code Prev Close Change %
1 COCO 198 336 138 69.70
2 CAKK 160 216 56 35.00
3 JSKY 1,245 1,460 215 17.27
4 TFCO 580 680 100 17.24
5 INCI 560 640 80 14.29
6 URBN 1,795 2,030 235 13.09
7 TALF 308 340 32 10.39
8 MDIA 136 150 14 10.29
9 VIVA 153 168 15 9.80
10 DART 280 300 20 7.14
No Code Prev Close Change %
1 SIMA 396 298 -98 -24.75
2 JAYA 202 165 -37 -18.32
3 TRIS 236 206 -30 -12.71
4 KPAL 312 274 -38 -12.18
5 LPLI 146 130 -16 -10.96
6 AKPI 675 605 -70 -10.37
7 HERO 990 900 -90 -9.09
8 FREN 348 324 -24 -6.90
9 ABMM 2,200 2,050 -150 -6.82
10 TCPI 4,880 4,550 -330 -6.76
No Code Prev Close Change %
1 NUSA 100 101 1 1.00
2 VIVA 153 168 15 9.80
3 SIMA 396 298 -98 -24.75
4 JAYA 202 165 -37 -18.32
5 MYRX 103 104 1 0.97
6 TLKM 3,780 3,780 0 0.00
7 FREN 348 324 -24 -6.90
8 STAR 84 88 4 4.76
9 UNTR 27,500 27,825 325 1.18
10 LPPF 4,010 4,140 130 3.24