Portal Berita Ekonomi Rabu, 12 Desember 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:35 WIB. Samsung - Samsung kolaborasi dengan Tesla kembangkan mobil otonom. 
  • 16:32 WIB. Facebook - Facebook akui bertemu dengan kedua Paslon Pilpres 2019.
  • 16:30 WIB. GoPro - GoPro pindahkan pabrik keluar China.
  • 16:29 WIB. Grab - Grab sebar diskon ongkir hingga 80% saat Harbolnas. 
  • 16:00 WIB. IHSG - Penutupan sesi II, HSG menguat 0,64% ke level 6.115,58. 
  • 13:37 WIB. Tokopedia - Valuasi Tokopedia naik menjadi US$7 miliar. 
  • 13:37 WIB. Tokopedia - Tokopedia dapat suntikan dana US$1,1 miliar dari SoftBank Vision Fund dan Alibaba Group.

HARKANNAS 2018, Ajak Kaum Milennial Cinta Makan Ikan

Foto Berita HARKANNAS 2018, Ajak Kaum Milennial Cinta Makan Ikan
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Hari Ikan Nasional (HARKANNAS) 2018 kembali digelar untuk yang ke-5 kalinya. HARKANNAS sendiri merupakan event tahunan yang diperingati setiap tanggal 21 November, ini tertuang sesuai dengan Keputusan Presiden No. 3 Tahun 2014 tanggal 24 Januari 2014. Untuk HARKANNAS tahun ini, mengangkat tema “Dengan Protein Ikan, Kita Membangun Bangsa”.

Rifky Effendi Hardijanto, Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), menuturkan di tengah era digital, dimana perkembangan media massa berbasih internet dan media sosial (medsos) sudah sangat menjamur dikalangan masyarakat sebagai wadah informasi yang dianggap cepat, tepat dan efisien. Oleh karenanya, pada peringatan HARKANNAS kali ini, KKP ingin mempromosikan dan mengajak seluruh kaum milennial  untuk cinta makan ikan.

“Yang membedakan HARKANNAS tahun ini dengan tahun sebelumnya yaitu kita ingin membangun budaya makan ikan ke arah yang kekinian alias lebih modern. Makanya kami ingin melibatkan kaum milennial untuk terus menggencarkan dan mempromosikan cinta makan ikan,” kata dia di Jakarta, Senin (21/11/2018).

Untuk bisa mengakomodir itu, sambung Rifky, dia telah meng-gas yang namanya Seafood Lovers . Karena, berdasarkan data dari Kementrian Pariwisata, 45% kunjungan wisata di Indnesia baik wisata dari mancanegara maupun domestik adalah wisata kuliner. Padahal hampir seluruh daerah di Indonesia mempunyai makanan khas yang berbahan baku seafood. Oleh karenanya kami ingin gaungkan agar kuliner seafood asli daerah bisa dikenal di penjuru dunia.

“Kita sebagai salah satu penghasil ikan dunia. Tapi makanan yang dikenal dan diakui dunia baru rendang, nasi goreng, sate, gado-gado, soto hampir maoyoritas berbahan baku daging. Nah, kami ingin mempromosikan makanan khas seafood nusantara,” sambungnya.

Tingkatkan Ekspor

Selain peningkatan membangun konsumsi ikan yang kerah kekinian, yang tidak kalah penting adalah ekspor hasil perikanan. Karena ini merupakan salah satu penambah devisa negara, yang punya andil besar menggairahkan ekonomi bangsa.

Setidaknya menurut Rifky, ada 3 komoditas produk perikanan yang menjadi primadona ekspor yakni Udang, Tuna dan Patin. Yang mana nilai ekspor hingga September 2018, untuk Udang menduduki posisi tertinggi pertama yaitu sebesar US$1.302,5 juta (37%)  dan kedua Tuna sebesar US$433,6 juta (12,3%). Nilai ini naik dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2017, dengan kenaikan sebesar 4% untuk Udang dan 21,9% untuk Tuna.

“Ke depan bukan hanya udang saja, tapi tuna, dan patin akan kita tingkatkan ekspornya,” ujarnya.

Oleh karenanya untuk Patin  sendiri, Indonesia baru saja me-launcing Patin dengan brand “Indonesian Pangasius–The Better Choice”, yang diluncurkan bebarengan dengan pameran SEAFEX di Dubai pada 30 Oktober 2018 lalu. Harapannya setelah branding ini.  Patin akan menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan yang mampu memanangkan pasar dunia. Pasalnya, Patin atau Indonesian Pangasius ini memiliki keunggulan yang dikembangkan dengan probiotik dan dibudidayakan dalam kolam dengan air tanah yang bersih, dan dengan kepadatan yang lebih rendah dibandingkan negara lain.

Branding itu sangat penting. Karena dengan brand itulah kita bisa dikenal oleh dunia. Jadi ketika brand sudah dikenal. Dunia bisa langsung ambil ikan dari kita tidak lewat perantara negara lain. Sehingga secara nilai ekspor perikanan nasional terus meningkat,” ujarnya.

Selain itu juga, yang tidak kalah dan tetap harus perhatian adalah konsumsi perikanan dalam neger. Yang mana, HARKANNAS ini juga merupakan momentum untuk memperkuat kerja sama dan membangun koordinasi fungsional yang efektif dengan seluruh komponen pemerintah dan masyarakat dalam rangka menjadikan ikan sebagai salah satu solusi peningkatan gizi masyarakat. Untuk itu, kami mengajak seluruh komponen masyarakat untuk terus membudayakan konsumsi ikan sebagai makanan pokok setiap hari.

“Ikan merupakan sumber protein yang sangat besar, dengan makan ikan kita bisa lebih sehat dan turut serta dalam mencerdaskan generasi penerus bangsa. Oleh karenanya, kami mengajak seluruh elemen masyarakat bukan sekedar mengkonsumi saja tapi turut serta menggerakan makan ikan menjadi suatu budaya bangsa,” tuturnya.

Sementara, lanjut Rifky lagi, untuk konsumsi ikan nasional per kapita per tahun trennya selalu naik. Yang mana jika merujuk data sepanjang 5 tahun belakangan, target konsumsi ikan per kapita tahunnya selalu meningkat, tahun 2014 sebesar 38,14 kg (kilogram) per kapita per tahun tahun, 2015; 40,9 kg per kapita per tahun tahun, 2016 ; 43,88 kg per kapita per tahun tahun, 2017; 47,12 kg per kapita per tahun tahun, 2018; 50 kg per kapita per tahun tahun, sementara untuk tahun 2019 target konsumi perikanan nasional menjadi 54,49 per kapita per tahun tahun.

Hampir pertahunnya target konsumsi ikan nasinal selalu terpenuhi bahkan tidak jarang melebihi target yang ditetapkan. Seperti pada tahun 2015 konsumsi ikan masyarakat mencapai 41,1 kg per kapita per tahun, berhasil melampaui yang ditargetkan sebesar 40,9 kg per kapita per tahun. 

“Ini bukti kalau masyarakat kita sudah mulai sadar akan pentingnya mengkonsumsi ikan bagi kesehatan,” lanjutnya.

Meski demikian, sambung Rifky lagi, kita tidak harus berhenti sampai disitu, mari kita terus mendengungkan akan pentingnya makan ikan.  Agar konsumsi ikan nasional kita per kapita pertahunnya terus naik. Kita jangan sampai kalah dengan negara tetangga, seperti Malaysia (70 kg per kapita per tahun) dan Singapura (80 kg per kapita per tahun),  dan Jepang (mendekati 100 kg per kapita per tahun).

“Kita negara kepualauan mempunyai komoditas ikan yang beragam baik ikan tangkapan (laut) atau ikan budidaya, dan stok ikan kita terus berlebih. Harapannya konsumsi ikan nasional kita bisa menyamai negara-negara lain syukur-syukur bisa menyamai negara Jepang,” sambungnya.

Karena, menurut Rifky lagi, pemerintah tidak ingin lagi mendengar adanya kasus gizi ganda (kelebihan dan kekurangan gizi), stunting (bayi lahir pendek) dan lain-lain. Ini, adalah contoh beberapa masalah yang dihadapi bangsa Indonesia yang erat kaitannya dengan pangan dan gizi. Untuk itu, dengan makan ikan diharapkan mampu menjadi solusi atas masalah-masalah seperti itu. Khususnya, dalam mendukung ketersediaan sumber pangan bergizi bagi masyarakat.

“Ikan merupakan komoditas pangan yang mudah didapat di Indonesia, disamping itu harganya juga terjangkau. Dan selain itu juga mempunyai kandungan gizi yang tinggi terutama kandungan protein dan omega 3. Makanya mari budayakan makan ikan,” tegasnya.

Tag: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Hari Ikan Nasional (HARKANNAS)

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Kumairoh

Foto: Yosi Winosa

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6076.587 -34.773 620
2 Agriculture 1506.543 8.473 20
3 Mining 1747.761 9.817 47
4 Basic Industry and Chemicals 820.676 -23.288 71
5 Miscellanous Industry 1382.059 4.150 45
6 Consumer Goods 2483.389 -20.063 49
7 Cons., Property & Real Estate 444.822 -4.105 73
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1031.916 -11.848 71
9 Finance 1162.012 -1.035 91
10 Trade & Service 790.383 -0.185 153
No Code Prev Close Change %
1 SOTS 280 350 70 25.00
2 DEAL 394 492 98 24.87
3 OASA 246 298 52 21.14
4 TFCO 650 780 130 20.00
5 MERK 6,475 7,725 1,250 19.31
6 KPAS 505 600 95 18.81
7 RODA 388 450 62 15.98
8 PTSN 805 920 115 14.29
9 PDES 1,500 1,700 200 13.33
10 ARTA 406 458 52 12.81
No Code Prev Close Change %
1 TRIO 290 220 -70 -24.14
2 YPAS 725 570 -155 -21.38
3 NUSA 158 136 -22 -13.92
4 RIMO 186 162 -24 -12.90
5 LUCK 705 615 -90 -12.77
6 MPOW 120 105 -15 -12.50
7 KPAL 338 300 -38 -11.24
8 CPIN 7,000 6,300 -700 -10.00
9 SILO 3,850 3,500 -350 -9.09
10 LPIN 950 865 -85 -8.95
No Code Prev Close Change %
1 RIMO 186 162 -24 -12.90
2 SRIL 366 370 4 1.09
3 KPAS 505 600 95 18.81
4 NUSA 158 136 -22 -13.92
5 PTBA 4,020 4,280 260 6.47
6 TLKM 3,680 3,620 -60 -1.63
7 WSKT 1,845 1,795 -50 -2.71
8 BHIT 57 60 3 5.26
9 BBRI 3,610 3,620 10 0.28
10 DEAL 394 492 98 24.87