Portal Berita Ekonomi Jum'at, 22 Februari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 20:43 WIB. Pertamina - Pertamina MOR IV memasok kebutuhan BBM dan Pelumas Polda Jateng.
  • 20:42 WIB. Pertamina - Pertamina meresmikan dua titik BBM satu harga di Maluku dan Papua.
  • 20:42 WIB. Perindo - Perindo fokus perkuat ekspor perikanan ke Jepang dan AS.
  • 20:42 WIB. AXA - Axa Mandiri menargetkan premi nasabah prioritas naik 10% tahun ini.
  • 20:41 WIB. PTPN - Berdasarkan perkiraan PTPN, stok GKP pada awal tahun depan hanya 300.000-400.000 ton.
  • 20:41 WIB. PTPN - PTPN Holding akan meminta kuota untuk impor gula mentah pada tahun ini.
  • 20:41 WIB. Energi - Pertamina bersinergi dengan PLN terkait pemanfaatan listrik di lingkungan Pertamina RU II.

Strategi Jadikan Industri Pertahanan Kuat, Mandiri, dan Berdaya Saing

Foto Berita Strategi Jadikan Industri Pertahanan Kuat, Mandiri, dan Berdaya Saing
Warta Ekonomi.co.id, Surabaya -

Kebijakan Pertahanan Negara 2015-2019 di antaranya mengatur tentang strategi pengelolaan industri pertahanan (inhan), sehingga senantiasa mampu menjadi industri yang kuat, mandiri, dan berdaya saing.

Demikian disampaikan, Kepala Badan Sarana Pertahanan Kementerian Pertahanan, Laskda Agus Setyadi, dalam Diskusi Media Forum Merdeka Barat (FMB) 9 dengan tema "Membangun Indonesia dalam Perspektif Peningkatan Daya Saing Daerah", bertempat di Ruang Hayam Wuruk, Gedung Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Kamis (22/11/2018).

“Kita memang berupa mewujudkan industri pertahanan yang kuat . Karena, tidak ada negara besar di dunia yang industri pertahanannya berada di level bawah. Amerika Serikat, industri pertahanannya yang paling kuat,” ujar Agus Setiyadi.

Oleh karena itu, Agus mengatakan, pemerintah melakukan sejumlah langkah. Antara lain, pembinaan potensi teknologi dan industri pertahanan, menggelar kerja sama internasional, KLO (konten lokal), melakukan penjualan produk industri pertahanan, mempromosikan produk inhan, dan mengembangkan teknologi dan industri pertahanan.

“Sesuai arahan Bapak Presiden, kita mendapat 7 program prioritas nasional, pertama, inhan yang strategis. Kita lihat inggris, inhannya sangat kuat. Lalu Prancis, yang menguasai hampir 40% di dnunia. Lalu Korsel dengan produk-produk kapal dan kapal selam yang sudah bisa di-upgrade oleh Korea itu sendiri,” katanya.

Sejumlah langkah yang disiapkan, menurut Agus, antara lain, pembinaan potensi teknologi dan industri pertahanan, melakukan penjualan produk industri pertahanan, menggelar kerja sama internasional, mempromosikan produk inhan, dan mengembangkan teknologi dan industri pertahanan. Terkait penjualan produk inhan, Agus mengungkapkan satu hal yang membanggakan. Pasalnya, menurut dia, kini inhan Indonesia sudah layak dianggap sebagai pesaing inhan-inhan lain di dunia.

“Melihat penjualan tersebut, saat ini, industri pertahanan Indonesia sudah menjadi pesaing bagi industri pertahanan-industri pertahanan lain yang ada di dunia,” ujar Agus. 

Seiring dengan peningkatan daya saing, Agus mengatakan, pemerintah memiliki target pada 2019 inhan Indonesia, dalam hal ini PT Pindad, akan mampu memproduksi secara massa kendaraan tempur berjenis medium tank. Sedangkan PT PAL ditargetkan akan melakukan serah terima Kapal Selam. Diketahui, pada 2018, Kapal Selam Ardadedali selesai dibangun. 

“Dua kapal selam sebelumnya sudah dikirimkan dan dioperasionalkan. Sekarang sudah yang ketiga, dalam proses pengerjaan dan ditargetkan serah terima pada 2019. Terkait kapal selam juga, dengan kita menguasai industri kapal selam, kemampuan SDM dan bargaining power kita meningkat. Kita dalam negoisasi dengan PT PAL untuk membangun kapal selam sendiri,” tambah Agus.

Bukan hanya itu, pemerintah melalui PT DI, PT Dahana, PT Pindad, dan Lapan juga menargetkan sertifikasi dan produksi massal Roket R-Han 122. Selain juga, tuntasnya pembangunan sistem rudal yang dilakukan PT DI dan PT Infoglobal.

Pada kesempatan tersebut, Agus juga mengungkapkan bahwa ekspor produk inhan sepanjang 2015-2018 mencapai US$284,1 juta. Sedangkan untuk penjualan dalam negeri di kurun yang sama mencapai Rp4,5 triliun.

Untuk ekspor, Agus membeberkan, angka penjualan sebesar US$161 juta dilakukan PT Dirgantara Indonesia dengan produk CN-235 sebanyak 2 unit ke Senegal, NC-212 sebanyak 3 unit ke Vietnam, NC-212 sebanyak 2 unit ke Thailand.  Sedangkan melalui PT PAL sebesar US$86,9 juta ke Filipina dengan produk beripa 2 unit kapal SSV.

Sebagai Informasi, ekspor juga dilakukan PT Pindad dengan produk panser Anoa, kendaraan tempur, senjata, dan amunisi untuk memenuhi kebutuhan sejumlah negara di Asean, Afrika, UAE, Korsel, Nigeria, dan juga Timor Leste.  Sementara itu, PT Lundin juga melakukan ekspor ke Rusia dan Swedia dengan produk berupa kapal Sea Rider senilai US$3,6 juta. Ekspor juga dilakukan PT Infoglobal.

Pada kesempatan tersebut, Agus juga mengungkapkan bahwa ekspor produk inhan sepanjang 2015-2018 mencapai US$284,1 juta. Sedangkan untuk penjualan dalam negeri di kurun yang sama mencapai Rp4,5 triliun.

Sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, Agus mengatakan, industri strategis menjual ke TNI-AU senilai Rp1,83 triliun, untuk TNI-AL Rp1,29 triliun, untuk TNI-AD sebesar Rp 1,19 triliun. Sedangkan untuk Markas Besar TNI, penjualan inhan dalam kurun 2015-2018 mencapai angka Rp180,4 miliar.  

Demi mengerek kemampuan inhan, Agus menyampaikan, pada tahun ini, pemerintah mengalokasikan Rp3,8 triliun khusus untuk industri pertahanan.

Turut hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 kali ini antara lain Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M Nasir, Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, dan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi.

Tag: Forum Merdeka Barat (FMB) 9, industri pertahanan

Penulis/Editor: Kumairoh

Foto: Forum Merdeka Barat (FMB) 9

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,773.17 3,734.94
British Pound GBP 1.00 18,447.47 18,263.53
China Yuan CNY 1.00 2,107.04 2,086.19
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,149.00 14,009.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,042.96 9,942.19
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,802.90 1,785.04
Dolar Singapura SGD 1.00 10,446.69 10,342.56
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,044.97 15,882.00
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,467.04 3,430.22
Yen Jepang JPY 100.00 12,776.77 12,646.93

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6501.378 -36.388 628
2 Agriculture 1604.794 -11.878 21
3 Mining 1940.127 4.527 47
4 Basic Industry and Chemicals 888.309 -14.973 71
5 Miscellanous Industry 1338.979 -8.175 46
6 Consumer Goods 2638.097 -16.371 51
7 Cons., Property & Real Estate 455.949 -3.945 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1207.267 -6.802 72
9 Finance 1235.093 -8.628 91
10 Trade & Service 834.167 6.854 155
No Code Prev Close Change %
1 INTD 141 190 49 34.75
2 OCAP 72 97 25 34.72
3 JAYA 432 540 108 25.00
4 INPS 2,400 3,000 600 25.00
5 SIMA 258 322 64 24.81
6 BALI 895 1,115 220 24.58
7 PNSE 675 840 165 24.44
8 CLAY 1,395 1,725 330 23.66
9 SQMI 272 332 60 22.06
10 MFMI 650 790 140 21.54
No Code Prev Close Change %
1 ALDO 1,425 1,095 -330 -23.16
2 TALF 332 260 -72 -21.69
3 IBFN 266 232 -34 -12.78
4 INCI 570 510 -60 -10.53
5 KOIN 302 272 -30 -9.93
6 POLI 1,160 1,055 -105 -9.05
7 PJAA 1,500 1,400 -100 -6.67
8 SMDM 178 168 -10 -5.62
9 SDPC 110 104 -6 -5.45
10 TBIG 4,440 4,200 -240 -5.41
No Code Prev Close Change %
1 UNTR 26,500 27,950 1,450 5.47
2 BMRI 7,325 7,100 -225 -3.07
3 ADRO 1,415 1,410 -5 -0.35
4 PGAS 2,640 2,650 10 0.38
5 BNLI 1,055 1,055 0 0.00
6 JPFA 2,330 2,340 10 0.43
7 INDY 2,180 2,170 -10 -0.46
8 BUMI 163 158 -5 -3.07
9 SQMI 272 332 60 22.06
10 ANTM 1,035 1,055 20 1.93