Portal Berita Ekonomi Minggu, 15 Desember 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:08 WIB. Peringkat Kemudahan Berbisnis - Singapura (2), Malaysia (12), Thailand (21), China (31), India (63), Vietnam (70), Indonesia (73), Filipina (95)
  • 08:55 WIB. Peringkat Anti Korupsi - Singapura (3), Malaysia (61), India (78), China (87), Indonesia (89), Filipina (99), Thailand (99), Vietnam (117)

Implementasi T+2 Diyakini Tak Pengaruhi Transaksi Perdagangan di Pasar Modal

Implementasi T+2 Diyakini Tak Pengaruhi Transaksi Perdagangan di Pasar Modal - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini jika transaksi perdagangan yang terjadi di pasar modal tidak akan terpengaruh oleh implementasi percepatan penyelesaian transaksi di bursa saham dari sebelumnya pada hari bursa ke 3 (T+3) menjadi hari bursa ke 2 setelah transaksi bursa (T+2).

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Hoesen menuturkan jika banyak faktor yang mempengaruhi transaksi perdagangan. Pernyataan tersebut menepis isu yang menyebutkan jika transaksi perdagangan cenderung menurun ketika terjadi perubahan penyelesaian transaksi.

“Menurut saya faktornya banyak trading value turun atau enggak. Ini kan market masih jalan kita belum tahu apa di akhir,” jelasnya, di Jakarta, Senin (26/11/2018).

Hoesen menyebutkan jika pihaknya saat ini pihaknya masih fokus untuk memantau potensi risiko operasional yang terjadi dari perubahan tersebut mulai dari level SRO, broker, emiten hingga investor.

"Sekarang ini saatnya bagi kami (OJK) untuk melihat kemungkinan-kemungkinan adanya operational risk yang terjadi di broker, SRO, emiten dan investor, termasuk bank kustodian," jelasnya.

Lebih lanjut, Hoesen mengungkapkan jika implementasi transaksi bursa T+2 yang diterapkan BEI sudah menyesuaikan international best practice mengenai efisiensi penyelesaian transaksi bursa maupun pelaksanaan T+2 di pasar modal global. BEI pun akan memantau penggabungan sistem yang terjadi di PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) maupun antar-perusahaan efek dan bank kustodian.

"Selain itu, perlu dilihat proses penjualan efek forced sell," imbuhnya.

Pasalnya, pengaturan pelaksanaan penjualan efek secara paksa (forced sell) merupakan bagian dari pokok peraturan transaksi bursa T+2. Pengaturan pelaksanaan forced sell oleh perantara pedagang efek pada saat dana menunjukkan saldo negatif, memiliki penyesuaian.

Penyesuaian tersebut, lanjut dia, berupa kewajiban perantara pedagang efek menginformasikan kepada nasabah. Semula paling lambat pada T+4 disesuaikan menjadi paling lambat T+3 atau satu hari setelah tanggal penyelesian yang disepakati untuk transaksi di luar Bursa.

Selanjutnya, kewajiban perantara pedagang efek melakukan penjualan efek secara paksa atas efek nasabah pada T+4 atau dua hari setelah tanggal penyelesaian yang disepakati untuk transaksi di luar Bursa, jika nasabah belum memenuhi kewajiban.

Hoesen berharap penerapan transaksi bursa T+2 bisa meningkatkan likuiditas melalui percepatan re-investment dari modal investor, efisiensi operasional dan menambah kapasitas transaksi perusahaan sekuritas.

“Poinnya bukan masalah value-nya saat ini sebagai masa transisi yang penting buat kita tidak ada settlement yang gagal 28-29 karena masalah operasional. Mekanisme sudah ada kalau ada kalau gagal serah dikonversi jadi Alternate Cash Settlement (ACS) 125% dari tertingi, itung tertinggi sudah ditentukan T+0 tanggal 23 T+0 tanggal 26 dan T+3 tanggal 28,” pungkasnya.

Sebelumnya, BEI menjelaskan bahwa jika broker gagal memberikan kewajiban sahamnya pada saat penyelesaian transaksi atau T+2, dapat dikenakan sanksi ACS 125% dari harga tertinggi atas efek yang jatuh tempo penyelesaiannya pada tanggal yang sama.

Baca Juga

Tag: Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Penulis: Annisa Nurfitriyani

Editor: Kumairoh

Foto: Antara/Sigid Kurniawan

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,747.08 3,709.59
British Pound GBP 1.00 18,951.81 18,757.67
China Yuan CNY 1.00 2,014.21 1,993.88
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,051.91 13,912.09
Dolar Australia AUD 1.00 9,726.73 9,622.99
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,800.56 1,782.46
Dolar Singapura SGD 1.00 10,394.96 10,285.44
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,708.63 15,550.93
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,395.00 3,357.16
Yen Jepang JPY 100.00 12,830.45 12,701.63

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6197.318 57.921 668
2 Agriculture 1424.860 10.203 20
3 Mining 1528.809 26.762 50
4 Basic Industry and Chemicals 976.378 16.198 77
5 Miscellanous Industry 1215.025 42.951 50
6 Consumer Goods 2023.673 9.223 56
7 Cons., Property & Real Estate 506.323 -1.997 83
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1122.442 14.680 76
9 Finance 1313.749 10.641 90
10 Trade & Service 768.113 0.709 166
No Code Prev Close Change %
1 ZBRA 72 97 25 34.72
2 IFII 300 374 74 24.67
3 TAMU 260 324 64 24.62
4 DWGL 180 218 38 21.11
5 UNIT 153 182 29 18.95
6 TIRA 214 252 38 17.76
7 MEGA 5,750 6,750 1,000 17.39
8 BIRD 2,470 2,890 420 17.00
9 NICK 260 300 40 15.38
10 SINI 1,200 1,350 150 12.50
No Code Prev Close Change %
1 MAMI 79 52 -27 -34.18
2 IBFN 318 246 -72 -22.64
3 YULE 199 154 -45 -22.61
4 AMAG 302 234 -68 -22.52
5 LMSH 398 310 -88 -22.11
6 BIKA 197 160 -37 -18.78
7 BVIC 119 98 -21 -17.65
8 BKSW 172 142 -30 -17.44
9 PEGE 230 190 -40 -17.39
10 HERO 875 725 -150 -17.14
No Code Prev Close Change %
1 MNCN 1,485 1,590 105 7.07
2 IPTV 505 510 5 0.99
3 TLKM 3,950 3,990 40 1.01
4 BNLI 1,310 1,275 -35 -2.67
5 TCPI 6,175 6,200 25 0.40
6 REAL 266 298 32 12.03
7 ADRO 1,475 1,590 115 7.80
8 BBRI 4,250 4,280 30 0.71
9 ASII 6,550 6,850 300 4.58
10 ACES 1,590 1,550 -40 -2.52