Portal Berita Ekonomi Sabtu, 23 Maret 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 14:42 WIB. JSMR - Menteri Rini puas atas sistem transaksi tanpa henti di jalan tol yang dikembangkan Jasa Marga.
  • 13:45 WIB. Indocement - Indocement menargetkan pertumbuhan pendapatan sebesar 4% pada 2019.
  • 13:44 WIB. Kargo - PT AP Aviasi optimistis mampu meningkatkan pertumbuhan kinerja kargo di Bandara Kualanamu hingga 20%.
  • 13:44 WIB. Garuda - Pilot Garuda gadungan ditangkap di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
  • 13:42 WIB. PTPN IX - PTPN IX melakukan penyulingan perdana minyak atsiri serai wangi di Kabupaten Batang.
  • 13:42 WIB. BRI - BRI meraih dua penghargaan dari The Asian Banker.
  • 13:42 WIB. BRI - BRI bakal mengembangkan ekosistem keuangan guna meraup sumber pendanaan murah.
  • 11:29 WIB. PRDA - Prodia Widyahusada mencatatkan laba bersih sebesar Rp175,45 miliar pada tahun 2018.

Tiga Pelajaran Penting dari Kondisi Ekonomi 2018

Tiga Pelajaran Penting dari Kondisi Ekonomi 2018 - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menilai ada tiga pelajaran penting yang dapat diambil dari kondisi perekonomian global dan domestik di tahun ini. Untuk diketahui, 2018 merupakan tahun yang penuh tantangan, di mana ekonomi global bergerak tidak stabil.

Hal itu, kata Gubernur BI Perry Warjiyo dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi dunia di 2018 yang cukup tinggi kemungkinan akan melandai di 2019.

"Pertumbuhan ekonomi AS diperkirakan akan menurun, sedangkan Uni Eropa dan Tiongkok melandai. Tekanan inflasi mulai tinggi di AS dan cenderung akan meningkat di Uni Eropa dan sejumlah negara lain," ujar Perry dalam Pertemuan Tahunan BI di Jakarta, Selasa (27/11/2018).

Tantangan kedua, yakni kenaikan suku bunga AS yang akan diikuti oleh normalisasi kebijakan moneter di Uni Eropa dan sejumlah negara maju. Perry mengatakan, setelah The Fed menaikkan suku bunga acuan tiga kali sebanyak 75 bps, kemungkinan The Fed akan naikkan lagi di Desember 2018 dan tiga kali di 2019.

Ketiga, ketidakpastian global mendorong tingginya premi risk investment di negara-negara emerging market. Ketegangan dagang hingga akhirnya terjadi krisis ekonomi di Argentina dan Turki, serta sejumlah risiko geopolitik, turut memberikan sentimen negatif ke negara emerging market.

"Ketiga hal tersebut mendorong menguatnya mata uang dolar AS serta berdampak pada pembalikan modal asing dan pelemahan mata uang emerging market, termasuk Indonesia," tukasnya.

Dari kondisi perekonomian itu, kata Perry, Indonesia dapat mengambil tiga pelajaran penting untuk menghadapi ekonomi global pada 2019 yang diperkirakan masih kurang kondusif.

"Pertama, ketahanan ekonomi perlu kita perkuat lagi. Inflasi kita jaga rendah, nilai tukar rupiah stabil, defisit fiskal aman, dan stabilitas sistem keuangan terjaga. Defisit transaksi berjalan perlu diturunkan di tingkat aman. Daya saing harus ditingkatkan, industrialisasi ditingkatkan, ekspor kita dorong agar tidak tergantung komoditas primer, dan investasi langsung terus kita tingkatkan," jelas Perry.

Kemudian, yang penting adalah sinergi kebijakan ekonomi nasional yang erat harus semakin diperkuat. Sementara kebijakan moneter, fiskal diarahkan ke stabilitas nilai tukar.

"Deregulasi ditempuh untuk peningkatan kapasitas ekonomi nasional. Perbaikan sistem investasi dipercepat dan diperkuat lagi. Potensi demografi dan ekonomi digital perlu dimanfaatkan," tutupnya.

Tag: Bank Indonesia (BI)

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Rosmayanti

Foto: Fajar Sulaiman

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,794.23 3,755.47
British Pound GBP 1.00 18,692.75 18,500.55
China Yuan CNY 1.00 2,125.36 2,104.15
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,228.00 14,086.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,103.30 10,001.06
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,813.38 1,795.26
Dolar Singapura SGD 1.00 10,546.29 10,439.49
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,182.93 16,018.60
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,506.16 3,466.90
Yen Jepang JPY 100.00 12,850.43 12,718.74

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6525.274 23.498 629
2 Agriculture 1490.781 9.164 21
3 Mining 1887.862 3.129 47
4 Basic Industry and Chemicals 910.367 -5.244 71
5 Miscellanous Industry 1284.891 0.529 46
6 Consumer Goods 2663.462 4.407 52
7 Cons., Property & Real Estate 465.570 -1.138 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1170.915 5.940 72
9 Finance 1263.236 12.361 91
10 Trade & Service 828.467 0.865 155
No Code Prev Close Change %
1 COCO 420 525 105 25.00
2 GLOB 352 440 88 25.00
3 CAKK 270 326 56 20.74
4 ECII 825 990 165 20.00
5 SMMA 7,700 9,000 1,300 16.88
6 TGKA 3,010 3,500 490 16.28
7 ANDI 1,605 1,805 200 12.46
8 FISH 3,400 3,760 360 10.59
9 LPLI 135 149 14 10.37
10 BKSW 175 193 18 10.29
No Code Prev Close Change %
1 SIMA 224 168 -56 -25.00
2 KICI 310 260 -50 -16.13
3 IDPR 735 640 -95 -12.93
4 PYFA 198 177 -21 -10.61
5 ATIC 990 895 -95 -9.60
6 JMAS 895 810 -85 -9.50
7 LAND 1,085 1,010 -75 -6.91
8 MTSM 240 224 -16 -6.67
9 UNIT 242 226 -16 -6.61
10 AKSI 400 374 -26 -6.50
No Code Prev Close Change %
1 NUSA 101 97 -4 -3.96
2 HOME 102 102 0 0.00
3 GGRM 88,000 85,900 -2,100 -2.39
4 BBRI 3,980 4,060 80 2.01
5 TLKM 3,800 3,820 20 0.53
6 INKP 10,200 9,800 -400 -3.92
7 FREN 308 328 20 6.49
8 CTRA 975 1,030 55 5.64
9 UNTR 27,800 28,000 200 0.72
10 GIAA 555 555 0 0.00