Portal Berita Ekonomi Jum'at, 22 Maret 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 20:29 WIB. BRI - Kapitalisasi pasar BRI tembus Rp500 triliun.
  • 20:29 WIB. BNI Syariah - BNI Syariah gandeng Unida terkait kerja sama produk dan jasa perbankan.
  • 20:29 WIB. Jargas - KESDM menargetkan pembangunan 1 juta sambungan rumah jargas dimulai pada tahun depan.
  • 20:28 WIB. MRT - BNI, Bank Mandiri, dan Astra International resmi jadi nama stasiun MRT Jakarta.
  • 20:28 WIB. Garuda - Garuda jajaki kerja sama pemberdayaan SDM berkebutuhan khusus.
  • 20:28 WIB. Garuda - Garuda dukung penguatan Kualanamu sebagai hub penerbangan domestik wilayah barat & Asia Tenggara.
  • 20:27 WIB. Garuda - Garuda batalkan pesanan 49 pesawat Boeing 737 MAX.
  • 20:27 WIB. BNI - BNI menargetkan migrasi kartu debit chip bisa rampung 100% tahun ini.
  • 20:27 WIB. Mandiri - Target Mandiri tahun ini aset under management segmen wealth management bisa tumbuh di atas 10%.
  • 20:26 WIB. Mandiri - Mandiri menggenjot segmen bisnis wealth management untuk meningkatkan pendapatan nonbunga.
  • 20:26 WIB. BTN - BTN menyebut perkembangan bisnis segmen prioritas di Bank BTN masih positif.
  • 20:25 WIB. Bulog - Perum Bulog bersiap mengimpor 100.000 ton bawang putih.
  • 17:14 WIB. Facebook - Facebook akui jutaan kata sandi tak aman.
  • 17:11 WIB. Nokia - Ponsel Nokia diduga kirim data ke China.
  • 17:10 WIB. WhatsApp - WhatsApp Business akhirnya tersedia untuk iPhone.

Mengembalikan Keperkasaan Komoditas Tambang Nasional

Mengembalikan Keperkasaan Komoditas Tambang Nasional - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Indonesia adalah negara yang kaya hasil tambang. Dengan kekayaan alam yang dimiliki negara ini seharusnya bisa menjadi negara yang lebih maju dibanding negara lain yang tidak memiliki hasil tambang. Sebab barang tambang yang dikelola dengan baik dapat berkontribusi maksimal terhadap perekonomian nasional. 

Di dalam perut bumi Indonesia ini ada belasan bahkan puluhan barang tambang. Jika digolongkan, menurut UU No 11 Tahun 1067 ada tiga bahan galian, yakni Golongan A sebagai barang tambang strategis yang meliputi minyak bumi, gas alam, batubara, nikel dan timbah. Golongan B sebagai barang tambang vital yang meliputi emas, perak, platina, tembaga, intan, belerang, besi dan bouksit. Dan Golongan C sebagai bahan industri antara lain kaolin, fosfat, gipsum, mangan, dan masih banyak lagi. 

Tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, barang tambang Indonesia juga diekspor ke sejumlah negara. Beberapa komoditas tambang yang diekspor antara lain minyak bumi, gas alam, batubara, besi, baja, timah, tembaga hingga emas. Bahan tambang diekspor dalam bentu bahan mentah, ada juga yang sudah diolah menjadi bahan setengah jadi dan bahan jadi. 

Laporan analisis komoditi ekspor badan pusat statistik (BPS) 2011-2017 menyebutkan, nilai ekspor migas mencapai US$15.744,4 juta, dan nonmigas sebesar US$153.083,8 juta. Dari sektor nonmigas sendiri juga terdapat sub sektor pertambangan mencapai 15,88%. 

BPS juga merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia Triwulan II-2018 5,27%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh 2,21%, dengan kontribusi 7,92% dari total PDB Rp3.683,9 triliun, atau Rp291,7 triliun. 

Sementara Kementerian Keuangan mencatat penerimaan negara bukan pajak (PNBP) per Agustus tahun ini mencapai Rp240,3 triliun, setara 87,2% dari target anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) 2018. Dari penerimaan tersebut mineral dan batubara (minerba) menyumbang Rp33,55 triliun, padahal target sepanjang tahun hanya Rp32,09 triliun. 

Namun jika melihat lima tahun yang lalu, angka tersebut rupanya masih jauh lebih rendah dibanding dengan capaian tahun-tahun sebelumnya. Sebelum diberlakukan UU Minerba No 4 Tahun 2009 tentang larangan ekspor bahan mentah, nilai ekspor pertambangan mencapai Rp64,13 triliun di 2012, Rp59,48 triliun di 2013, dan Rp49,53 triliun di 2014. Angkanya semakin turun setelah diberlakukan UU Minerba, menjadi Rp36,18 triliun di 2015 dan Rp30,34 triliun di 2016.

UU Minerba sebetulnya dirancang untuk meningkatkan nilai tambah barang tambang dengan diekspor dalam bentuk barang jadi atau setengah jadi. Namun melihat dampak yang ditimbulkan pemerintah saat ini sedang menyusun revisi UU Minerba guna mengembalikan keperkasaan komoditas tambang nasional. 

UU Minerba juga bentuk komitmen pemerintah dalam mendorong pertumbuhan pertambangan Indonesia. Beberapa poin penting lainnya adalah digantinya sistem kontrak karya (KK) menjadi izin usaha pertambangan (IUP), izin pertambangan rakyat (IPR), dan izin usaha pertambangan khusus (IUPK). 

Sistem itu pula yang telah diterapkan untuk mengambil alih PT Freeport Indonesia. Melalui UU tersebut, pemerintah akhirnya berhasil menandatangani kesepakatan terkait divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia. Dengan kepemilikan setengah saham Freeport pemerintah akan mendapatkan pula separuh keuntungan yang selama ini didapatkan Freeport Indonesia. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan dengan memegang saham mayoritas, pemerintah dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Sebab Pemerintah Provinsi Papua dan Kabupaten Mimika mendapatan 10% dari 51% saham yang kini dimiliki Indonesia. 

Melihat kebijakan pemerintah tersebut, prinsipnya sangat baik untuk memaksimalkan sumber daya alam pertambangan agar berkontribusi lebih banyak bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Namun sepertinya UU tersebut masih ada beberapa kelemahan dan masih perlu disempurnakan. Diharapkan pemerintah segera menemukan formula yang telah dalam rancangan revisinya, agar UU benar-benar ampuh dalam memaksimalkan komoditas tambang yang dimiliki.

Tag: minerba, Pertambangan

Penulis: Agus Aryanto

Editor: Vicky Fadil

Foto: Freeport Indonesia

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,794.23 3,755.47
British Pound GBP 1.00 18,692.75 18,500.55
China Yuan CNY 1.00 2,125.36 2,104.15
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,228.00 14,086.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,103.30 10,001.06
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,813.38 1,795.26
Dolar Singapura SGD 1.00 10,546.29 10,439.49
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,182.93 16,018.60
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,506.16 3,466.90
Yen Jepang JPY 100.00 12,850.43 12,718.74

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6525.274 23.498 629
2 Agriculture 1490.781 9.164 21
3 Mining 1887.862 3.129 47
4 Basic Industry and Chemicals 910.367 -5.244 71
5 Miscellanous Industry 1284.891 0.529 46
6 Consumer Goods 2663.462 4.407 52
7 Cons., Property & Real Estate 465.570 -1.138 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1170.915 5.940 72
9 Finance 1263.236 12.361 91
10 Trade & Service 828.467 0.865 155
No Code Prev Close Change %
1 COCO 420 525 105 25.00
2 GLOB 352 440 88 25.00
3 CAKK 270 326 56 20.74
4 ECII 825 990 165 20.00
5 SMMA 7,700 9,000 1,300 16.88
6 TGKA 3,010 3,500 490 16.28
7 ANDI 1,605 1,805 200 12.46
8 FISH 3,400 3,760 360 10.59
9 LPLI 135 149 14 10.37
10 BKSW 175 193 18 10.29
No Code Prev Close Change %
1 SIMA 224 168 -56 -25.00
2 KICI 310 260 -50 -16.13
3 IDPR 735 640 -95 -12.93
4 PYFA 198 177 -21 -10.61
5 ATIC 990 895 -95 -9.60
6 JMAS 895 810 -85 -9.50
7 LAND 1,085 1,010 -75 -6.91
8 MTSM 240 224 -16 -6.67
9 UNIT 242 226 -16 -6.61
10 AKSI 400 374 -26 -6.50
No Code Prev Close Change %
1 NUSA 101 97 -4 -3.96
2 HOME 102 102 0 0.00
3 GGRM 88,000 85,900 -2,100 -2.39
4 BBRI 3,980 4,060 80 2.01
5 TLKM 3,800 3,820 20 0.53
6 INKP 10,200 9,800 -400 -3.92
7 FREN 308 328 20 6.49
8 CTRA 975 1,030 55 5.64
9 UNTR 27,800 28,000 200 0.72
10 GIAA 555 555 0 0.00