Portal Berita Ekonomi Rabu, 20 Februari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 08:12 WIB. Oppo - Oppo rilis A7 RAM 3 GB seharga Rp2,69 juta. 
  • 08:00 WIB. 4G - Koneksi 4G Indonesia masih lelet.
  • 07:32 WIB. Grab - Pengguna Grab bisa isi ulang saldo Ovo lewat BNI.
  • 07:31 WIB. Huawei - CEO Huawei sebut AS tak bisa hancurkan perusahaannya.
  • 07:30 WIB. Samsung - Ponsel laya lipat Samsung terungkap, namanya Galaxy Fold.
  • 07:29 WIB. China - Aplikasi Xuixi Qiangguo yang berisikan propaganda China kabarnya milik Alibaba.
  • 07:25 WIB. Blibli - Bos Blibli minta pemerintah dorong investor asing agar betah.
  • 07:20 WIB. Instagram - Instagram Stories uji coba stiker donasi.
  • 07:12 WIB. Amazon - Amazon sumbang dana lagi buat teknologi kendaraan otonom.
  • 07:08 WIB. Alibaba - Indomie hingga Kopi Kapal Api catat transaksi capai Rp122 miliar di Alibaba dalam 24 jam. 

Kenaikan Suku Bunga Hambat Pertumbuhan Ekonomi 2019

Foto Berita Kenaikan Suku Bunga Hambat Pertumbuhan Ekonomi 2019
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Ekonom Adrian Panggabean mengatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang diperkirakan berlanjut dapat menekan pertumbuhan ekonomi di 2019 menjadi 4,9% (yaer on year/yoy) atau melambat dibanding prognosa 2018 yang 5,1 %.

Namun, menurut Adrian, kenaikan suku bunga acuan itu memang perlu ditempuh otoritas moneter karena masih tingginya gejolak ekonomi eksternal yang dapat melarikan modal asing dan sebagai upaya menambal lubang defisit transaksi berjalan domestik.

"Volatilitas di pasar finansial sebagai konsekuensi kurangnya likuiditas akibat naiknya suku bunga akan terus berlanjut," kata Kepala Ekonom PT Bank CIMB Niaga Tbk itu dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (28/11/2018).

Proyeksi pertumbuhan ekonomi di 4,9% itu lebih rendah dibanding prognosa BI yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2019 di atas 5,1%.

Adrian memandang pelaku pasar memahami langkah agresivitas BI dalam menaikkan suku bunga acuan di enam bulan terakhir semata-mata untuk menyelamatkan defisit transaksi berjalan dan menarik modal asing ke pundi-pundi aset berdenominasi rupiah. Namun hal itu juga, kata dia, tidak bisa dibantah akan turut mengerem laju pertumbuhan ekonomi.

"Defisit transaksi berjalan kita memang memprihatinkan. Jadi, BI mau tidak mau menaikkan suku bunga, itu pasti pengaruhnya menurunkan pertumbuhan, tapi itu juga karena kebutuhan untuk menahan impor," ujar dia.

Sepanjang enam bulan terakhir di 2018, BI sudah menaikkan suku bunga acuan 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 1,75% ke 6%, sebuah langkah yang diterjemahkan sebagai sikap otoritas moneter yang antisipatif (preemptive) dan mendahului kurva suku bunga (ahead of the curve).

Dalam tempo tidak lama, kata Adrian, suku bunga instrumen keuangan khususnya berjangka panjang akan ikut naik dan memicu penurunan likuiditas di sistem keuangan domestik.

Meninjau pernyataan BI yang masih mempertahankan sikap preemptive dan ahead of the curve, ekonom ini memperkirakan suku bunga acuan bisa dikatrol kembali hingga 6,5-6,75% hingga akhir 2019.

Atas dasar itu pula, investor akan mencari zona nyamannya tersendiri dengan melakukan penyesuaian investasi, karena imbal hasil obligasi pemerintah bertenor 10 tahun diperkirakan akan mencapai 8,5% di akhir 2019.

Di samping posisi kebijakan moneter yang pro-stabilitas, kata Adrian, kebijakan fiskal 2019 juga tidak akan ekspansif karena rasio penerimaan pajak yang rendah.

"Hal ini juga merupakan konsekuensi dari rendahnya rasio pajak yang kemudian diaksentuasi oleh efek kebijakan suku bunga dalam menjaga rupiah, namun berdampak pada pelemahan dinamika sektor riil," kata Adrian.

Dengan proyeksi pertumbuhan eknonomi di 4,9%, inflasi 2019 diperkirakan akan di bawah 3,5% yoy.

Sementara nilai rupiah di 2019 diperkirakan bergerak di Rp14.400-Rp15.200. Jika melihat rentang perkiraan kurs tersebut yang berjarak 800 poin, maka volatilitas nilai rupiah diperkirakan tinggi.

Tag: Suku Bunga, Bank Indonesia (BI)

Penulis: Redaksi WE Online/Ant

Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/Zabur Karuru

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,784.10 3,745.33
British Pound GBP 1.00 18,313.61 18,124.73
China Yuan CNY 1.00 2,097.81 2,076.82
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,190.00 14,048.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,108.96 10,004.99
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,808.13 1,789.92
Dolar Singapura SGD 1.00 10,455.35 10,349.20
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,041.80 15,878.45
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,471.98 3,433.88
Yen Jepang JPY 100.00 12,841.63 12,709.67

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6494.667 -3.148 627
2 Agriculture 1612.273 9.233 21
3 Mining 1894.930 28.365 47
4 Basic Industry and Chemicals 879.497 -9.712 71
5 Miscellanous Industry 1359.758 -8.770 46
6 Consumer Goods 2656.426 -2.053 51
7 Cons., Property & Real Estate 454.123 1.975 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1216.559 1.577 71
9 Finance 1233.741 -2.007 91
10 Trade & Service 822.920 1.934 155
No Code Prev Close Change %
1 BNII 258 322 64 24.81
2 ALDO 2,020 2,510 490 24.26
3 MINA 615 725 110 17.89
4 MPPA 260 306 46 17.69
5 INCF 306 360 54 17.65
6 BABP 51 58 7 13.73
7 MLPL 137 155 18 13.14
8 CSIS 137 154 17 12.41
9 GIAA 426 474 48 11.27
10 KARW 87 96 9 10.34
No Code Prev Close Change %
1 SIMA 400 300 -100 -25.00
2 NAGA 332 294 -38 -11.45
3 KONI 486 438 -48 -9.88
4 PSDN 246 222 -24 -9.76
5 AKSI 388 352 -36 -9.28
6 LION 665 615 -50 -7.52
7 FISH 3,670 3,400 -270 -7.36
8 TARA 840 780 -60 -7.14
9 SOTS 322 300 -22 -6.83
10 INAI 468 440 -28 -5.98
No Code Prev Close Change %
1 FREN 298 288 -10 -3.36
2 JPFA 2,500 2,440 -60 -2.40
3 ANTM 995 1,025 30 3.02
4 BBRI 3,840 3,910 70 1.82
5 BMRI 7,275 7,200 -75 -1.03
6 EXCL 2,530 2,610 80 3.16
7 INDY 1,785 1,925 140 7.84
8 BUMI 153 154 1 0.65
9 FILM 795 785 -10 -1.26
10 ADRO 1,245 1,295 50 4.02