Portal Berita Ekonomi Jum'at, 14 Desember 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 07:15 WIB. Google - Google prediksi pemilu dan tokoh politik bakal jadi trending di 2019.
  • 07:02 WIB. California - California berencana kenakan pajak untuk SMS. 
  • 07:00 WIB. Fintech - Kemenkominfo telah blokir 400 Fintech ilegal dari OJK. 
  • 06:58 WIB. YLKI - YLKI sebut perlindungan konsumen belanja online rendah. 
  • 06:54 WIB. Apple - Apple investasikan Rp14,5 triliun untuk kampus di Texas. 

Indonesia Perlu Kebijakan Antisipatif Hadapi Ekonomi 2019

Foto Berita Indonesia Perlu Kebijakan Antisipatif Hadapi Ekonomi 2019
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Perekonomian Indonesia tahun depan diprediksi masih dihadapkan pada banyak tantangan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi sebesar 4,9% atau sedikit lebih rendah dari rerata 2018 yang berada di 5%.

Volatilitas di pasar finansial, sebagai konsekuensi kurangnya likuiditas akibat naiknya suku bunga, akan terus berlanjut. Kondisi tersebut muncul akibat tekanan dari faktor eksternal dan kondisi pasar domestik yang kemudian berimbas pada pertumbuhan ekonomi nasional. 

Demikian yang disampaikan Chief Economist PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga), Adrian Panggabean pada Diskusi Media Bersama Chief Economist CIMB Niaga di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Rabu (28/11/2018). Dalam diskusi tersebut, Adrian memaparkan analisisnya terkait proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.

"Dari sisi global, tantangan yang akan menekan pertumbuhan ekonomi Indonesia berasal dari prospek berlanjutnya normalisasi suku bunga acuan Amerika Serikat (AS) atau Fed Fund Rate (FFR) sebanyak dua sampai tiga kali pada tahun depan, perlambatan ekonomi di China, prospek normalisasi moneter di Zona Eropa, gesekan geopolitk yang berimbas pada harga minyak, serta prospek berlanjutnya perang dagang antara AS dan Cina," kata Adrian.

Adrian melanjutkan, dinamika yang terjadi pada tingkat global tersebut akan menyebabkan berlanjutnya rotasi antarkelas aset yang kemudian berdampak dengan berlanjutnya pergeseran ekuilibrium kurs global. Kesemuanya perlu direspons pemerintah lewat penyesuaian kebijakan fiskal, moneter, dan perdagangan. Harapannya agar daya tarik pasar keuangan domestik tetap terjaga.

"Jika tahun depan suku bunga acuan FFR naik dua sampai tiga kali dan posisi defisit transaksi berjalan belum membaik secara signifikan, maka Bank Indonesia (BI) diprediksi akan menaikkan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR) ke arah 6,50-6,75%," jelasnya.

Namun, kenaikan suku bunga acuan tersebut akan menyebabkan berkurangnya likuiditas di sistem keuangan domestik, naiknya long-term rates, sehingga volatilitas pasar finansial tahun depan akan lebih tinggi dari tahun ini. Prospek bergerak naiknya long-term rates berpotensi mengurangi aktivitas pembiayaan, termasuk pembiayaan lewat pasar modal.

"Bila suku bunga acuan BI terus bergerak naik ke arah 6,50-6,75%, saya memperkirakan rerata yield obligasi tenor 10 tahun akan berada di kisaran 8,5% di 2019, atau naik sekitar 100 bps dari rerata di 2018," tambah Adrian.

Adapun faktor lain yang turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun depan adalah kebijakan fiskal pemerintah yang tidak ekspansif. Hal ini juga merupakan konsekuensi dari rendahnya nisbah pajak atau tax-ratio Indonesia yang kemudian diaksentuasi oleh efek kebijakan suku bunga dalam menjaga nilai rupiah, namun berdampak pada pelemahan dinamika sektor riil. 

Di sisi lain, tingkat inflasi sepanjang 2019 diperkirakan akan tetap rendah. "Saya melihat baik headline inflation maupun core inflation tahun depan akan berada di bawah median target BI," katanya. 

Adrian menjelaskan, sejalan dengan telah naiknya suku bunga acuan sebanyak 175 bps sejak Mei 2018, ditambah dengan harapan bahwa pemerintah akan melakukan rescheduling temporer terhadap sejumlah proyek-proyek infrastruktur untuk menjaga defisit transaksi berjalan yang telah sangat lebar, maka tekanan impor diperkirakan akan mulai berkurang di 2019. 

"Saya melihat defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) di 2019 kemungkinan besar akan lebih rendah dibanding 2018. CAD diperkirakan akan berada di kisaran 2,5% dari PDB. Dengan mengacu pada prospek CAD tersebut, dan senarai faktor global termasuk di dalamnya stabilitas dalam indeks dolar AS (DXY) serta prospek depresiasi mata uang Yuan (CNY), saya melihat rentang perdagangan rupiah di 2019 akan berada di level 14.400-15.200 per dolar AS," tuturnya. 

Adrian melanjutkan, "Bila dilihat secara fundamental, dari perspektif pandang purchasing power dan perbedaan long-term rates, nilai rupiah yang wajar untuk 2019 sebetulnya berada di kisaran 14.300-14.800. Namun secara teknikal, dengan memasukkan faktor sentimen dan faktor cross-currency movement, maka rentang perdagangan rupiah bisa mencapai 14.400-15.200 per dolar AS."

Adrian mengingatkan, dinamika perekonomian yang menantang pada 2019 bukanlah hal yang harus ditakuti. "Di balik volatilitas tersebut selalu ada opportunity, karena itu perlu kehati-hatian dan kejelian dari seluruh pelaku ekonomi, serta formulasi kebijakan yang tepat dan antisipatif oleh pemangku kebijakan ekonomi dalam menghadapi tantangan perekonomian di 2019,” tutup Adrian.

Tag: Ekonomi Indonesia

Penulis: Fajar Sulaiman

Editor: Rosmayanti

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6177.720 62.143 621
2 Agriculture 1516.070 10.982 20
3 Mining 1776.514 21.113 47
4 Basic Industry and Chemicals 846.848 12.353 71
5 Miscellanous Industry 1420.317 27.074 46
6 Consumer Goods 2515.883 16.594 49
7 Cons., Property & Real Estate 455.102 3.544 73
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1062.130 21.053 71
9 Finance 1176.328 11.338 91
10 Trade & Service 791.531 -0.850 153
No Code Prev Close Change %
1 AKSI 344 430 86 25.00
2 SOTS 436 545 109 25.00
3 PNSE 750 935 185 24.67
4 ZONE 446 555 109 24.44
5 KICI 212 260 48 22.64
6 SAFE 171 206 35 20.47
7 JKSW 60 68 8 13.33
8 KAEF 2,550 2,850 300 11.76
9 TRAM 163 180 17 10.43
10 OASA 318 350 32 10.06
No Code Prev Close Change %
1 SQMI 555 418 -137 -24.68
2 INPP 605 480 -125 -20.66
3 GMTD 14,900 13,425 -1,475 -9.90
4 BTEK 137 125 -12 -8.76
5 SMDM 152 139 -13 -8.55
6 DSSA 14,725 13,500 -1,225 -8.32
7 BBLD 492 454 -38 -7.72
8 AKPI 780 720 -60 -7.69
9 ETWA 78 72 -6 -7.69
10 OCAP 244 226 -18 -7.38
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 372 360 -12 -3.23
2 KPAS 710 705 -5 -0.70
3 RIMO 142 151 9 6.34
4 TLKM 3,650 3,750 100 2.74
5 TRAM 163 180 17 10.43
6 PGAS 2,130 2,150 20 0.94
7 PTBA 4,310 4,500 190 4.41
8 BBRI 3,620 3,680 60 1.66
9 CPIN 6,500 6,950 450 6.92
10 UNTR 29,300 29,300 0 0.00