Portal Berita Ekonomi Rabu, 12 Desember 2018

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:49 WIB. Facebook - Kantor Facebook di AS dapat ancaman bom. 
  • 16:35 WIB. Samsung - Samsung kolaborasi dengan Tesla kembangkan mobil otonom. 
  • 16:32 WIB. Facebook - Facebook akui bertemu dengan kedua Paslon Pilpres 2019.
  • 16:30 WIB. GoPro - GoPro pindahkan pabrik keluar China.
  • 16:29 WIB. Grab - Grab sebar diskon ongkir hingga 80% saat Harbolnas. 

Standardisasi dan Distribusi Jadi Tantangan Pertanian 2019

Foto Berita Standardisasi dan Distribusi Jadi Tantangan Pertanian 2019
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Kementerian Pertanian (Kemtan) menilai pengembangan produk pertanian di tahun 2019 diwarnai sejumlah tantangan yang tidak mudah. Salah satu tantangan yang sudah ada di depan mata adalah perubahan iklim. Perubahan iklim ini dinilai dapat memengaruhi pergerakan harga komoditas di pasar global. Selain perubahan iklim, faktor standarisasi produk dan biaya logistik atau distribusi juga turut menentukan.

Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Investasi Kemtan, Hari Priono, mengatakan, Kemtan melihat perubahan iklim dapat dijadikan kesempatan untuk meningkatkan produksi pertanian. Ia mengambil contoh, seperti pola tanam padi yang dulu kerap dibagi menjadi dua periode yakni Oktober-Maret dan April-September tidak lagi sepenuhnya dapat dijadikan patokan dalam pengembangan pertanian.

"Sebab di musim hujan seperti saat ini, kita masih menemukan ada juga daerah yang belum mengalami  hujan, nah kita harus melihat ini sebagai peluang. Bagaimana kita menyesuaikan diri dengan kondisi iklim," kata Hari dalam keterangan tertulis, Rabu (5/12/2018).

Hari menjelaskan, dengan kondisi perubahan iklim tersebut, maka hampir setiap bulan ada saja petani yang menanam padi. Untuk itu, ia memastikan dari sisi produktivitas tidak ada kendala yang berarti. Namun persoalan muncul ketika sudah masuk ke sektor distribusi. Sebab tidak jarang ditemukan di sejumlah titik atau pasar mengalami kelangkaan bahan pokok.

"Tapi ini bukan berarti produksi tidak ada, secara fakta, panen ada, tapi distribusinya mahal,"bebernya.

Sementara dari sisi ekspor. Mantan Sekretaris Jenderal Kemtan ini menilai, tidak bisa dilihat hitam putih. Ekspor produk-produk Indonesia ke Eropa dan Amerika Serikat (AS) tidak bisa dilihat melulu dari sisi bisnis dan perdagangan. Ia juga menekankan ada aspek sejarahnya. Negara-negara di Afrika akan lebih mudah mengekspor ke Eropa ketimbang AS. Hal itu terjadi karena negara-negara tersebut masih terhubung dalam persemakmuran (commonwealth).

Kemudian, standar produk pertanian juga sangat menentukan ke depannya. Saat ini, kesadaran konsumen akan kesehatan kian tinggi. Maka konsumen menuntut produk yang higienis meski harga tinggi. Karena itu, tidak heran bila banyak produk organik yang laris manis di pasar meski harga selangit.

"Ini tidak mudah kita terapkan ke petani kita dengan segala keterbatasan,"imbuhnya.

Untuk itu, ia mengatakan, Kemtan akan berupaya melakukan perbaikan untuk mendorong produk-produk pertanian menjadi produk yang memenuhi standar kesehatan. Untuk itu, Kemtan juga akan melakukan perbaikan khususnya dalam mempermudah perizinan dalam pengembangan produk pertanian di dalam negeri.

Tag: Pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan)

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Kumairoh

Foto: Yosi Winosa

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6115.577 38.990 621
2 Agriculture 1505.088 -1.455 20
3 Mining 1755.401 7.640 47
4 Basic Industry and Chemicals 834.495 13.819 71
5 Miscellanous Industry 1393.243 11.184 46
6 Consumer Goods 2499.289 15.900 49
7 Cons., Property & Real Estate 451.558 6.736 73
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1041.077 9.161 71
9 Finance 1164.990 2.978 91
10 Trade & Service 792.381 1.998 153
No Code Prev Close Change %
1 ZONE 298 446 148 49.66
2 SOTS 350 436 86 24.57
3 AKSI 286 344 58 20.28
4 KPAS 600 710 110 18.33
5 ESSA 272 314 42 15.44
6 PNSE 650 750 100 15.38
7 SSTM 450 510 60 13.33
8 TRAM 144 163 19 13.19
9 IBFN 246 278 32 13.01
10 YPAS 570 640 70 12.28
No Code Prev Close Change %
1 SQMI 740 555 -185 -25.00
2 TFCO 780 610 -170 -21.79
3 OCAP 306 244 -62 -20.26
4 PDES 1,700 1,445 -255 -15.00
5 APEX 1,400 1,210 -190 -13.57
6 RIMO 162 142 -20 -12.35
7 RDTX 6,150 5,550 -600 -9.76
8 HDTX 140 127 -13 -9.29
9 YULE 220 200 -20 -9.09
10 MDKI 298 274 -24 -8.05
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 370 372 2 0.54
2 RIMO 162 142 -20 -12.35
3 KPAS 600 710 110 18.33
4 PTBA 4,280 4,310 30 0.70
5 ADRO 1,285 1,255 -30 -2.33
6 TLKM 3,620 3,650 30 0.83
7 TRAM 144 163 19 13.19
8 PTPP 1,900 2,020 120 6.32
9 WSKT 1,795 1,855 60 3.34
10 PGAS 2,060 2,130 70 3.40