Portal Berita Ekonomi Rabu, 20 Maret 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:42 WIB. Facebook - Pendiri WhatsApp Brian Acton kembali ajak hapus Facebook.

Kadin Bahas Potensi Tapioka dan Mocaf Dukung Ketahanan Pangan Nasional

Kadin Bahas Potensi Tapioka dan Mocaf Dukung Ketahanan Pangan Nasional - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Komite Tetap (Komtap) Ketahanan Pangan Kadin Indonesia menggelar diskusi (FGD) bersama Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) dan sejumlah akademisi dan peneliti bertema "Tapioka, Mocaf, dan Protein Berbasis Singkong untuk Memperkuat Ketahanan Pangan Nasional" di Menara Kadin, Jakarta, Rabu (12/12/2018).

Ketua Komtap Ketahanan Pangan Franciscus Welirang dalam sambutannya mengatakan, Indonesia adalah negara yang telah dikarunia dengan kekayaan umbi-umbian, termasuk singkong atau ubi kayu. Namun, ada beberapa hal yang mengganjal terkait posisi umbi-umbian sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri.

"Hal pertama, ketahanan pangan adalah soal ketersediaan (pasokan) dan keterjangkauan (harga) pangan tertentu bagi masyarakat. Setelah itu, baru bicara tentang kemandirian pangan yang jauh lebih sulit karena pertanian atau perkebunan biasanya berkaitan dengan cuaca," kata Franciscus dalam keterangan tertulisnya, Kamis (13/12/2018).

Ia menjelaskan, dari kedua aspek ketahanan pangan tersebut, singkong layak dikedepandankan sebagai sumber pangan yang perlu dikembangkan. Singgkong dapat dikembangkan menjadi tanaman pangan yang potensial, selain produktivitasnya tinggi (40-100 ton per hektare), juga kandungan kalori dan gizinya memadai. Kandungan kalori umbi segar (kadar air 60%) adalah 153 kalori memadai untuk konsumsi langsung sebagai bahan pangan pokok.

Apalagi, dari daun hingga umbinya dapat dimanfaatkan dan bernilai ekonomis. Salah satu produk olahan singkong ialah tepung tapioka, yang dibutuhkan secara global. Sementara itu, mocaf (modified cassava flour) merupakan tepung singkong yang dimodifikasi dan bisa menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan tapioka. Meski demikian, kedua produk tersebut belum mampu mengatasi kebutuhan gizi yang ideal.

"Singkong tergolong rendah protein, tapi sangat kaya karbohidrat. Karena itu, kepentingan FGD ini mendapatkan masukan dari para pakar atau peneliti tentang potensi diversifikasi yang memungkinkan peningkatan proteinnya," lanjut Franciscus yang akrab disapa Franky ini.

Menurut Franky, pengembangan atau budi daya singkong layak mendapat perhatian tidak hanya dari aspek kebutuhan pangan. Industri pun membutuhkan bahan baku berbasis singkong. Sektor-sektor yang membutuhkan, selain industri makanan olahan, yakni industri kertas, kanji, kayu lapis, dan bioethanol.

Tantangan lain yang disebutkan Francis ialah terkait dialektika kepentingan petani dan industri. Menurut dia, seharusnya masing-masing pihak diuntungkan dengan semakin beragamnya kebutuhan industri akan bahan baku berbasis singkong. Yang dibutuhkan adalah pihak yang mampu memfasilitasi kedua kepentingan.

"Karena industri butuh pasokan bahan baku stabil, sedangkan petani butuh bahannya terjual. Jadi, seharusnya titik temunya sangat jelas," kata Franky.

Contoh nyata disampaikan oleh Hindarta Rusli dari MSI Medan. Sebagai pelaku industri, dia menjelaskan bagaimana membangun basis produksi bersama petani lokal. Demi menjamin kepastian dan stabilitas pasokan, pihaknya memfasilitasi masyarakat dengan sarana alat angkut.

"Kami siapkan traktor kecil untuk mengangkut dari kebun ke jalan yang lebih besar. Lalu, kami angkut dengan truk untuk dibawa ke pabrik. Hanya dengan cara itu kepastian bahan baku produksi dalam jumlah besar bisa terpenuhi," ujar Rusli.

Sementara itu, diversikasi produk yang bertujuan meningkatkan kadar protein dalam aneka pangan berbasis singkong telah dikembangkan sejumlah peneliti. Salah satunya Endang Sukara, Akademisi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) yang menjadi salah satu narasumber FGD. Dia memaparkan, singkong merupakan sumber pangan terbesar, setelah beras, gandum, dan jagung.

"Singkong kaya karbohidrat, sehingga mudah bikin kenyang, tapi rendah protein, sehingga tidak memperbaiki gizi," papar Endang.

Untuk mengatasi kekurangan tersebut, pihaknya mengembangkan mikroprotein. Salah satunya kapang tempe atau Rhizopus Oligosporus. Bahan ini memiliki daya rombak dan sintesis yang tinggi. Kapang dapat ditumbuhkan dalam substrat cair, mencerna ubi kayu, dan mengubahnya menjadi biomasa dengan kandungan protein tinggi.

"Dengan cara ini, peran singkong sebagai sumber pangan utama bisa bermanfaat secara penuh karena juga berfaedah untuk perbaikan gizi," tandas Endang.

Tag: Kamar Dagang dan Industri (Kadin)

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Rosmayanti

Foto: Kadin Indonesia

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,813.97 3,775.19
British Pound GBP 1.00 18,965.88 18,770.50
China Yuan CNY 1.00 2,131.41 2,110.25
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,302.00 14,160.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,112.94 10,011.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,821.93 1,803.82
Dolar Singapura SGD 1.00 10,577.62 10,471.82
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,228.48 16,065.94
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,511.42 3,473.14
Yen Jepang JPY 100.00 12,814.26 12,685.90

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6482.710 2.434 629
2 Agriculture 1498.343 -4.886 21
3 Mining 1882.238 9.191 47
4 Basic Industry and Chemicals 893.733 0.232 71
5 Miscellanous Industry 1285.573 -3.740 46
6 Consumer Goods 2667.555 5.523 52
7 Cons., Property & Real Estate 460.673 -0.670 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1164.648 -9.651 72
9 Finance 1248.066 3.719 91
10 Trade & Service 828.180 -0.981 155
No Code Prev Close Change %
1 COCO 198 336 138 69.70
2 CAKK 160 216 56 35.00
3 JSKY 1,245 1,460 215 17.27
4 TFCO 580 680 100 17.24
5 INCI 560 640 80 14.29
6 URBN 1,795 2,030 235 13.09
7 TALF 308 340 32 10.39
8 MDIA 136 150 14 10.29
9 VIVA 153 168 15 9.80
10 DART 280 300 20 7.14
No Code Prev Close Change %
1 SIMA 396 298 -98 -24.75
2 JAYA 202 165 -37 -18.32
3 TRIS 236 206 -30 -12.71
4 KPAL 312 274 -38 -12.18
5 LPLI 146 130 -16 -10.96
6 AKPI 675 605 -70 -10.37
7 HERO 990 900 -90 -9.09
8 FREN 348 324 -24 -6.90
9 ABMM 2,200 2,050 -150 -6.82
10 TCPI 4,880 4,550 -330 -6.76
No Code Prev Close Change %
1 NUSA 100 101 1 1.00
2 VIVA 153 168 15 9.80
3 SIMA 396 298 -98 -24.75
4 JAYA 202 165 -37 -18.32
5 MYRX 103 104 1 0.97
6 TLKM 3,780 3,780 0 0.00
7 FREN 348 324 -24 -6.90
8 STAR 84 88 4 4.76
9 UNTR 27,500 27,825 325 1.18
10 LPPF 4,010 4,140 130 3.24