Portal Berita Ekonomi Senin, 16 Desember 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:08 WIB. Peringkat Kemudahan Berbisnis - Singapura (2), Malaysia (12), Thailand (21), China (31), India (63), Vietnam (70), Indonesia (73), Filipina (95)
  • 08:55 WIB. Peringkat Anti Korupsi - Singapura (3), Malaysia (61), India (78), China (87), Indonesia (89), Filipina (99), Thailand (99), Vietnam (117)

Produktivitas Pekerja Jadi Tantangan Besar Capai Program Indonesia 2045

Produktivitas Pekerja Jadi Tantangan Besar Capai Program Indonesia 2045 - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Indonesia perlu melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produktivitas para pekerjanya. Hal ini penting untuk bisa menjadikan Indonesia kompetitif dan memiliki daya saing tinggi dalam berbagai bidang dan sukses dalam program Indonesia 2045.

Berdasarkan data Asian Productivity Organization 2015, Indonesia berada di urutan ke-4 dalam hal produktivitas tenaga kerja, di bawah Thailand, Malaysia, dan Singapura. Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja pun terbilang stagnan, yaitu di angka 3,5% selama 2000-2015 atau setelah krisis ekonomi 1997/1998. Padahal sebelum krisis tersebut, pertumbuhan produktivitas bisa mencapai rata-rata 6,4% (periode 1990-1995).

"Negara tetangga lain, seperti Vietnam sudah bersiap menyusul karena negara tersebut terus mendorong peningkatan produktivitas tenaga kerjanya yang pada periode sama telah mencapai pertumbuhan rata-rata sebesar 4,5%. Dalam mendorong pertumbuhan tersebut, Indonesia perlu meningkatkan kesiapan tenaga kerja, salah satunya agar lebih melek teknologi dan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi," jelas peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman dalam siaran pers, Kamis (13/12/2018).

Ilman menambahkan, studi World Economic Forum 2017/2018 menemukan bahwa Indonesia, walau telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan daya saing dan lainnya dalam Global Competitiveness Index, namun masih tertinggal jauh dalam kesiapan teknologi (peringkat 80),serta perangkat hukum ketenagakerjaan yang masih kaku (peringkat 90). Dua hal ini didorong oleh beberapa faktor, salah satunya penentuan gaji yang tidak fleksibel.

"Perlu adanya instrumen hukum yang lebih memotivasi adanya kerja sama antarinstitusi pendidikan, pemerintahan, dan industri untuk menghasilkan pekerja yang memiliki kualifikasi yang dibutuhkan industri dan siap beradaptasi dengan teknologi. Selain itu, Balai Latihan Kerja (BLK) yang sudah dan akan dibangun perlu dilengkapi dengan fasilitas teknologi yang up to date, hal ini juga termasuk pada pusat BLK yang dicanangkan untuk pekerja migran," jelasnya.

Melalui implementasi hal tersebut, pekerja dalam negeri diharapkan bisa mencapai produktivitas yang lebih tinggi dan mendorong perekonomian yang disokong oleh penanaman modal asing langsung. Selain itu, diharapkan pekerja migran yang selama ini mendorong perekonomian melalui sumbangan cadangan devisanya dapat memberikan kontribusi perekonomian yang lebih tinggi dengan semakin tingginya keterampilan tenaga kerja tersebut.

Sudah saatnya, lanjut Ilman, pekerja Indonesia yang dikirimkan ke luar negeri bukan hanya yang memiliki keterampilan rendah karena kontribusi ekonomi yang mereka sumbangkan tidak mampu mendorong kesejahteraan mereka. Diharapkan pekerja Indonesia dengan keterampilan di atas rata-rata mampu meningkatkan kesejahteraannya.

Untuk mengejar target PDB 5 besar dunia, pemerintah berniat mendorong sektor manufaktur sebagai lokomotif perekonomian utama. Hal ini sebenarnya langkah yang strategis, mengingat Indonesia perlu terus mendorong sektor industri sebagai langkah dalam menjalankan proses transformasi struktural untuk menjadi negara maju. Namun, pemerintah perlu menyelesaikan permasalahan besar yang menaungi sektor manufaktur di Indonesia, yaitu produktivitas para pekerjanya.

Baca Juga

Tag: pekerja, pekerja migran

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Rosmayanti

Foto: Kementerian PUPR

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,747.08 3,709.59
British Pound GBP 1.00 18,951.81 18,757.67
China Yuan CNY 1.00 2,014.21 1,993.88
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,051.91 13,912.09
Dolar Australia AUD 1.00 9,726.73 9,622.99
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,800.56 1,782.46
Dolar Singapura SGD 1.00 10,394.96 10,285.44
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,708.63 15,550.93
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,395.00 3,357.16
Yen Jepang JPY 100.00 12,830.45 12,701.63

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6197.318 57.921 668
2 Agriculture 1424.860 10.203 20
3 Mining 1528.809 26.762 50
4 Basic Industry and Chemicals 976.378 16.198 77
5 Miscellanous Industry 1215.025 42.951 50
6 Consumer Goods 2023.673 9.223 56
7 Cons., Property & Real Estate 506.323 -1.997 83
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1122.442 14.680 76
9 Finance 1313.749 10.641 90
10 Trade & Service 768.113 0.709 166
No Code Prev Close Change %
1 ZBRA 72 97 25 34.72
2 IFII 300 374 74 24.67
3 TAMU 260 324 64 24.62
4 DWGL 180 218 38 21.11
5 UNIT 153 182 29 18.95
6 TIRA 214 252 38 17.76
7 MEGA 5,750 6,750 1,000 17.39
8 BIRD 2,470 2,890 420 17.00
9 NICK 260 300 40 15.38
10 SINI 1,200 1,350 150 12.50
No Code Prev Close Change %
1 MAMI 79 52 -27 -34.18
2 IBFN 318 246 -72 -22.64
3 YULE 199 154 -45 -22.61
4 AMAG 302 234 -68 -22.52
5 LMSH 398 310 -88 -22.11
6 BIKA 197 160 -37 -18.78
7 BVIC 119 98 -21 -17.65
8 BKSW 172 142 -30 -17.44
9 PEGE 230 190 -40 -17.39
10 HERO 875 725 -150 -17.14
No Code Prev Close Change %
1 MNCN 1,485 1,590 105 7.07
2 IPTV 505 510 5 0.99
3 TLKM 3,950 3,990 40 1.01
4 BNLI 1,310 1,275 -35 -2.67
5 TCPI 6,175 6,200 25 0.40
6 REAL 266 298 32 12.03
7 ADRO 1,475 1,590 115 7.80
8 BBRI 4,250 4,280 30 0.71
9 ASII 6,550 6,850 300 4.58
10 ACES 1,590 1,550 -40 -2.52