Portal Berita Ekonomi Senin, 30 Maret 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 18:08 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup negatif 4,45% pada level 2.416.
  • 18:08 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup negatif 0,90% pada level 2.747.
  • 17:55 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup negatif 0,04% pada level 1.717.
  • 17:53 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup negatif 1,57% pada level 19.084.
  • 17:25 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup negatif 1,32% pada level 23.175.

Walhi: Banjir-Longsor Dipicu Buruknya Tata Kelola DAS

Walhi: Banjir-Longsor Dipicu Buruknya Tata Kelola DAS - Warta Ekonomi
WE Online, Padang -

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan, musibah banjir dan longsor yang terjadi pada beberapa daerah di wilayah tersebut dalam sepekan terakhir ini dipicu buruknya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS).

"Dari analisis Walhi Sumbar di beberapa wilayah yang mengalami banjir, seperti Nagari Guguak, Kecamatan Kayu Tanam, Limapuluh Kota, Pesisir Selatan, dan Kota Padang memiliki topografis yang terjal dengan aliran sungai yang pendek," kata Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, Uslaini di Padang, Minggu (16/12/2018).

Menurutnya, topografis seperti ini menyebabkan aliran air yang cenderung tajam dan menghantam bila curah hujan tinggi. Selain itu, DAS di lokasi kejadian banjir juga terancam dan kritis.

"Ini bisa dibuktikan dari data deforestasi hutan dari Dinas Kehutanan Sumbar bahwa hutan daerah ini telah mengalami deforestasi dan degradasi dari 1999 hingga 2016 seluas 7.900 hektare atu setara dengan tiga kali luas Kota Bukittinggi," ujar Uslaini.

Ia menilai deforestasi tersebut terjadi akibat pembangunan dalam sektor legal dan ilegal. Sektor legal alih fungsi lahan misalnya, dalam pemberian izin tambang dalam kawasan hutan dan hulu sungai yang mengancam ekosistem sungai dan kondisi hutan.

Selain itu, pemberian izin oleh pemerintah dalam sektor kehutanan, seperti IUPHH-HA dan Hutan Tanaman Industri yang mengakibatkan konversi hutan primer menjadi sekunder, bahkan menjadi nonhutan, sehingga merusak ekosistem DAS dan menyebabkan longsor dan banjir.

"Walhi menilai jika alih fungsi lahan ini tidak dikendalikan dan fungsi hutan tidak dipertahankan, maka kejadian banjir akan terus terjadi setiap musim penghujan. Pemerintah seharusnya mampu mengelola secara komperhensif dalam pengelolaan DAS secara terpadu, sehingga fungsi hutan pada areal hulu DAS dapat menjadi upaya mitigasi bencana longsor dan banjir ketika intensitas hujan tinggi," ujar Uslaini.

Selain faktor cuaca, Walhi juga menyoroti soal beban kendaraan yang melebihi tonase jalan, sehingga memicu bencana terutama di jalur Padang Solok di Sitinjau Lauik yang ramai dilewati kendaraan membawa CPO dan batu bara.

"Getaran truk-truk besar itu memicu retakan di tebing jalan, namun tidak ada upaya penguatan tebing, sehingga saat hujan, air akan masuk ke retakan-retakan yang ada di sepanjang tebing dan memicu longsor, sebaiknya evaluasi kelas jalan dan jenis kendaraan serta beban kendaraan yang melewati jalur tersebut," tandas Uslaini.

Sebelumnya sebanyak 16 DAS dipulihkan oleh Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai dan Lingkungan Hidup Agam Kuantan karena kondisinya yang kritis.

"Penyebab DAS kritis itu ada macam-macam, baik karena faktor manusia hingga kondisi iklim", kata Kepala Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai dan Lingkungan Hidup Agam Kuantan, Nursida.

Menurut dia, dari 386 DAS yang dikelola, kondisinya secara umum pendek dan topografi curam serta curah hujan tinggi, sehingga berpotensi banjir dan longsor.

"Karena DAS pendek kalau pengelolaannya tidak berbasis lingkungan, maka rentan terhadap longsor dan banjir," jelas Nursida.

Ia mengemukakan, sebagian besar penyebab kritis DAS adalah faktor manusia, seperti membuka lahan di hulu hingga lereng tanpa terasering.

Nursida berharap masyarakat berpartisipasi aktif dalam pengelolaan DAS dan menjaga lingkungan supaya tidak rusak.

"Itu bisa dimulai dari tidak membuang sampah ke sungai, menanam pohon di daerah yang masih terbuka dan tidak menebang hutan sembarangan apalagi di kawasan hutan lindung," tegasnya.

Baca Juga

Tag: Longsor, Banjir

Penulis: Redaksi WE Online/Ant

Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 4,371.05 4,326.41
British Pound GBP 1.00 20,364.49 20,155.36
China Yuan CNY 1.00 2,315.45 2,292.02
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 16,417.68 16,254.32
Dolar Australia AUD 1.00 10,088.66 9,986.65
Dolar Hong Kong HKD 1.00 2,117.70 2,096.57
Dolar Singapura SGD 1.00 11,503.42 11,384.97
EURO Spot Rate EUR 1.00 18,217.06 18,029.29
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,774.18 3,723.78
Yen Jepang JPY 100.00 15,303.58 15,144.25
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4414.500 -131.071 686
2 Agriculture 900.830 -34.518 22
3 Mining 1158.862 -32.969 49
4 Basic Industry and Chemicals 557.766 -28.046 77
5 Miscellanous Industry 715.479 -41.388 51
6 Consumer Goods 1561.395 -62.619 57
7 Cons., Property & Real Estate 337.556 -5.272 89
8 Infrastruc., Utility & Trans. 789.105 -4.574 79
9 Finance 979.429 -30.165 92
10 Trade & Service 573.701 -6.984 170
No Code Prev Close Change %
1 AMAN 192 258 66 34.38
2 ACST 128 172 44 34.38
3 NASA 199 250 51 25.63
4 ARTO 472 590 118 25.00
5 IBFN 240 300 60 25.00
6 PDES 490 610 120 24.49
7 CARE 244 294 50 20.49
8 IPCM 100 120 20 20.00
9 GOLD 160 192 32 20.00
10 RMBA 230 270 40 17.39
No Code Prev Close Change %
1 ZINC 200 186 -14 -7.00
2 GGRM 44,000 40,925 -3,075 -6.99
3 AMOR 2,580 2,400 -180 -6.98
4 BFIN 258 240 -18 -6.98
5 SMRA 430 400 -30 -6.98
6 TKIM 4,300 4,000 -300 -6.98
7 JSKY 86 80 -6 -6.98
8 MBAP 1,650 1,535 -115 -6.97
9 ITMG 7,900 7,350 -550 -6.96
10 LPPF 1,365 1,270 -95 -6.96
No Code Prev Close Change %
1 BBCA 27,550 27,475 -75 -0.27
2 BBRI 3,230 3,010 -220 -6.81
3 TLKM 3,090 3,140 50 1.62
4 REAL 56 54 -2 -3.57
5 KLBF 1,010 1,045 35 3.47
6 TOWR 680 635 -45 -6.62
7 UNVR 6,800 6,425 -375 -5.51
8 IPTV 390 382 -8 -2.05
9 PGAS 760 730 -30 -3.95
10 TCPI 5,000 4,840 -160 -3.20