Portal Berita Ekonomi Selasa, 22 Januari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 08:23 WIB. WhatsApp - Kemenkominfo: Fitur baru WhatsApp tak 100% berantas hoaks.
  • 08:23 WIB. Facebook - Masih usaha gaet remaja, Facebook bikin fitur kumpulan meme
  • 08:22 WIB. Ghosn - Carlos Ghosn janji tidak keluar Jepang.
  • 08:20 WIB. WhatsApp - WhatsApp batasi forward message siang ini.
  • 07:17 WIB. WhatsApp - WhatsApp ancam tutup akun penyebar hoaks.
  • 07:16 WIB. Google - Google Maps luncurkan fitur cek kecepatan kendaraan.
  • 07:15 WIB. WhatsApp - WhatsApp batasi pengiriman pesan berantai.
  • 06:30 WIB. Samsung - Samsung Galaxy S10 dikabarkan beri fitur baru dalam notch.
  • 06:08 WIB. Telkom - Telkom dan Moratel akan menandatangani perjanjian penggunaan Palapa Ring Barat.
  • 06:06 WIB. ADHI - ADHI berniat menambah kepemilikan saham di PT Jakarta Tollroad Development.
  • 06:06 WIB. Mandiri - Selain proyek pemerintah, Mandiri mengincar debitur korporasi swasta.
  • 06:04 WIB. Mandiri - Mandiri mengarahkan sebagian besar kredit investasi melalui skema sindikasi.
  • 06:03 WIB. BUMN - Bulog dan PTPN III akan ekspansi ke pasar ekspor.
  • 21:51 WIB. Mandiri - Sekitar 600 investor dan pelaku bisnis dari dalam dan luar negeri akan menghadiri MIF 2019.

Walhi: Banjir-Longsor Dipicu Buruknya Tata Kelola DAS

Foto Berita Walhi: Banjir-Longsor Dipicu Buruknya Tata Kelola DAS
Warta Ekonomi.co.id, Padang -

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Barat (Sumbar) menyatakan, musibah banjir dan longsor yang terjadi pada beberapa daerah di wilayah tersebut dalam sepekan terakhir ini dipicu buruknya pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS).

"Dari analisis Walhi Sumbar di beberapa wilayah yang mengalami banjir, seperti Nagari Guguak, Kecamatan Kayu Tanam, Limapuluh Kota, Pesisir Selatan, dan Kota Padang memiliki topografis yang terjal dengan aliran sungai yang pendek," kata Direktur Eksekutif Walhi Sumbar, Uslaini di Padang, Minggu (16/12/2018).

Menurutnya, topografis seperti ini menyebabkan aliran air yang cenderung tajam dan menghantam bila curah hujan tinggi. Selain itu, DAS di lokasi kejadian banjir juga terancam dan kritis.

"Ini bisa dibuktikan dari data deforestasi hutan dari Dinas Kehutanan Sumbar bahwa hutan daerah ini telah mengalami deforestasi dan degradasi dari 1999 hingga 2016 seluas 7.900 hektare atu setara dengan tiga kali luas Kota Bukittinggi," ujar Uslaini.

Ia menilai deforestasi tersebut terjadi akibat pembangunan dalam sektor legal dan ilegal. Sektor legal alih fungsi lahan misalnya, dalam pemberian izin tambang dalam kawasan hutan dan hulu sungai yang mengancam ekosistem sungai dan kondisi hutan.

Selain itu, pemberian izin oleh pemerintah dalam sektor kehutanan, seperti IUPHH-HA dan Hutan Tanaman Industri yang mengakibatkan konversi hutan primer menjadi sekunder, bahkan menjadi nonhutan, sehingga merusak ekosistem DAS dan menyebabkan longsor dan banjir.

"Walhi menilai jika alih fungsi lahan ini tidak dikendalikan dan fungsi hutan tidak dipertahankan, maka kejadian banjir akan terus terjadi setiap musim penghujan. Pemerintah seharusnya mampu mengelola secara komperhensif dalam pengelolaan DAS secara terpadu, sehingga fungsi hutan pada areal hulu DAS dapat menjadi upaya mitigasi bencana longsor dan banjir ketika intensitas hujan tinggi," ujar Uslaini.

Selain faktor cuaca, Walhi juga menyoroti soal beban kendaraan yang melebihi tonase jalan, sehingga memicu bencana terutama di jalur Padang Solok di Sitinjau Lauik yang ramai dilewati kendaraan membawa CPO dan batu bara.

"Getaran truk-truk besar itu memicu retakan di tebing jalan, namun tidak ada upaya penguatan tebing, sehingga saat hujan, air akan masuk ke retakan-retakan yang ada di sepanjang tebing dan memicu longsor, sebaiknya evaluasi kelas jalan dan jenis kendaraan serta beban kendaraan yang melewati jalur tersebut," tandas Uslaini.

Sebelumnya sebanyak 16 DAS dipulihkan oleh Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai dan Lingkungan Hidup Agam Kuantan karena kondisinya yang kritis.

"Penyebab DAS kritis itu ada macam-macam, baik karena faktor manusia hingga kondisi iklim", kata Kepala Badan Pengelola Daerah Aliran Sungai dan Lingkungan Hidup Agam Kuantan, Nursida.

Menurut dia, dari 386 DAS yang dikelola, kondisinya secara umum pendek dan topografi curam serta curah hujan tinggi, sehingga berpotensi banjir dan longsor.

"Karena DAS pendek kalau pengelolaannya tidak berbasis lingkungan, maka rentan terhadap longsor dan banjir," jelas Nursida.

Ia mengemukakan, sebagian besar penyebab kritis DAS adalah faktor manusia, seperti membuka lahan di hulu hingga lereng tanpa terasering.

Nursida berharap masyarakat berpartisipasi aktif dalam pengelolaan DAS dan menjaga lingkungan supaya tidak rusak.

"Itu bisa dimulai dari tidak membuang sampah ke sungai, menanam pohon di daerah yang masih terbuka dan tidak menebang hutan sembarangan apalagi di kawasan hutan lindung," tegasnya.

Tag: Longsor, Banjir

Penulis: Redaksi/Ant

Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/Aditya Pradana Putra

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6450.834 2.678 627
2 Agriculture 1642.122 58.830 21
3 Mining 1896.174 15.254 47
4 Basic Industry and Chemicals 890.201 0.505 71
5 Miscellanous Industry 1423.572 -19.807 46
6 Consumer Goods 2599.505 -7.787 51
7 Cons., Property & Real Estate 465.509 -6.115 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1154.795 5.554 71
9 Finance 1239.207 4.959 91
10 Trade & Service 794.825 -2.264 155
No Code Prev Close Change %
1 NATO 175 236 61 34.86
2 CLAY 306 382 76 24.84
3 SQMI 382 476 94 24.61
4 YPAS 575 710 135 23.48
5 HEXA 2,920 3,600 680 23.29
6 BNLI 705 855 150 21.28
7 VOKS 250 300 50 20.00
8 INRU 785 910 125 15.92
9 KMTR 334 382 48 14.37
10 DSSA 15,600 17,825 2,225 14.26
No Code Prev Close Change %
1 MTSM 206 157 -49 -23.79
2 AGRS 490 402 -88 -17.96
3 PADI 1,090 920 -170 -15.60
4 CANI 248 210 -38 -15.32
5 NAGA 280 240 -40 -14.29
6 SKYB 160 142 -18 -11.25
7 AKSI 394 350 -44 -11.17
8 PLIN 3,400 3,040 -360 -10.59
9 KIOS 2,000 1,790 -210 -10.50
10 MYTX 105 94 -11 -10.48
No Code Prev Close Change %
1 HOME 150 144 -6 -4.00
2 BUMI 174 174 0 0.00
3 ERAA 2,310 2,240 -70 -3.03
4 BNLI 705 855 150 21.28
5 PNLF 296 296 0 0.00
6 ASII 8,475 8,325 -150 -1.77
7 BHIT 69 68 -1 -1.45
8 BBRI 3,820 3,800 -20 -0.52
9 SSMS 1,205 1,210 5 0.41
10 INDY 2,180 2,130 -50 -2.29