Portal Berita Ekonomi Rabu, 16 Januari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 08:36 WIB. ULN - BI: Total utang Indonesia baik utang pemerintah maupun swasta mencapai US$372,9 miliar.
  • 08:35 WIB. Citilink - Akhir Januari, Citilink akan hapus layanan bagasi gratis.
  • 08:35 WIB. BNI - Kuartal II 2019 BNI berencana menerbitkan surat utang hingga Rp8 triliun.
  • 08:10 WIB. PTBA - PTBA membidik penjualan batu bara pada tahun ini mencapai 24 juta-26 juta ton.
  • 08:07 WIB. Mandiri - Mandiri menargetkan punya 50.000 agen Laku Pandai di 2019.
  • 08:06 WIB. BNI - Kinerja saham BNI tercatat menguat 2,27% sepanjang tahun berjalan 2019.
  • 07:49 WIB. Himbara - Himbara memasang target pertumbuhan bisnis yang lebih moderat pada 2019.
  • 07:48 WIB. PLN - PLN akan memfasilitasi 9 pengembangan listrik swasta dalam proyek energi terbarukan.
  • 07:43 WIB. UMKM - Posisi pembiayaan UMKM ekspor sebesar 15.900 dengan penjaminan sebesar Rp310 miliar.
  • 22:01 WIB. Spotify - Pengguna aktif bulanan Spotify tembus 200 juta.
  • 22:00 WIB. Xiaomi - Xiaomi anggarkan Rp20 triliun demi AI dan IoT.
  • 21:58 WIB. Samsung - Selama 2018, situs Samsung dikunjungi 60 juta orang.
  • 21:55 WIB. Go-Pay - Go-Pay bisa dipakai untuk bayar perpanjang SIM dan SKCK.
  • 21:53 WIB. Facebook - Facebook investasi Rp4,2 triliun dalam bisnis berita lokal AS.

Mana yang Lebih Menguntungkan, Cloud Pribadi atau Cloud dari Pihak Ketiga?

Foto Berita Mana yang Lebih Menguntungkan, Cloud Pribadi atau Cloud dari Pihak Ketiga?
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Pemanfaatan komputasi awan (cloud) untuk menyimpan data menjadi salah satu langkah yang dilakukan pelaku bisnis di era digital ini. Ada perusahaan yang mengembangkan cloud secara mandiri, ada pula yang memanfaatkan layanan dari penyedia cloud pihak ketiga. Dari sisi pengamat, manakah yang lebih baik?

Saat diwawancarai oleh Warta Ekonomi, Pengamat Teknologi, Heru Sutadi, menilai, secara global, layanan cloud dari pihak ketiga lebih efisien dibandingkan mengembangkan cloud sendiri.

"Semua punya kelebihan dan kekurangan. Kalau secara internasional, cloud dari pihak ketiga dinilai lebih efisien, lebih mengikuti perkembangan teknologi dunia, keamanannya juga," ujar Heru, Jumat (14/12/2018).

Ia menjelaskan, bila menggunakan layanan cloud dari pihak ketiga, biaya modal (capital expense/capex) akan lebih rendah dari biaya operasional (operational expense/opex). Namun, ada pula risiko bertambahnya opex bila terjadi kerusakan pada cloud karena yang mengatasi potensi kerusakan adalah penyedia layanan.

"Kalau ada risiko, seperti mati listrik, itu menjadi faktor yang memengaruhi opex di penggunaan cloud pihak ketiga. Kalau misalnya opex bertambah, otomatis biaya yang dikeluarkan akan meningkat," jelas Heru.

Sementara, bila pelaku bisnis mengembangkan cloud sendiri, kerusakan itu bisa ditangani oleh tim teknisi perusahaan. Namun, biaya modal akan jauh lebih mahal karena perusahaan harus membeli server dan sebagainya.

"Kalau mengembangkan cloud sendiri, keuntungannya mudah dicek kalau ada kerusakan, tetapi biayanya lebih mahal. Apalagi yang sistemnya baru, harus beli server dan sebagainya sehingga biaya capex atau biaya awalnya lebih besar," jelas Heru lagi.

Ia menambahkan, yang lebih penting, penempatan data center perusahaan. Baik cloud yang dikembangkan sendiri maupun layanan cloud pihak ketiga, harus menempatkam data center secara fisik di Indonesia agar sesuai dengan PP PSTE Nomor 82.

"Kalau misalnya perusahaan bisa bangun (cloud) sendiri tidak masalah juga. Yang harus diperhatikan, kalau di Indonesia, penempatan data fisiknya harus di dalam negeri," papar Heru.

Penempatan data fisik di Indonesia berkaitan dengan kedaulatan data. Terutama untuk data yang berkaitan dengan perbankan, pembayaran, asuransi, investasi, bursa efek. Data dan informasi memiliki kekuatan tinggi di era digital seperti saat ini.

"Karena kalau zaman sekarang, data dan informasi memiliki nilai tinggi. Siapa yang memiliki data dan informasi terbanyak, akan menguasai dunia. Memangnya kita mau negara ini dikuasai negara lain karena data?" tambah Heru.

Menurutnya, semua bisa dimulai dengan penempatan data. Kemudian, pelaku bisnis juga perlu belajar untuk mengolah data. Peraturannya juga harus disusun di masa yang akan datang.

"Paling tidak, kita mulai dari penempatan data, kemudian belajar mengolah data, semuanya harus diatur juga nanti," tutupnya.

Tag: Digital Economy, Industri 4.0

Penulis: Tanayastri Dini Isna

Editor: Kumairoh

Foto: Tanayastri Dini Isna

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,909.74 3,869.89
British Pound GBP 1.00 18,754.69 18,562.19
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,093.06
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,667.00 14,521.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,673.18 10,561.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,872.96 1,854.27
Dolar Singapura SGD 1.00 10,659.93 10,553.05
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,630.91 16,462.46
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,501.31 3,462.33
Yen Jepang JPY 100.00 12,933.86 12,801.73

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6408.784 72.668 625
2 Agriculture 1585.036 -7.210 21
3 Mining 1844.340 15.139 47
4 Basic Industry and Chemicals 895.845 21.295 71
5 Miscellanous Industry 1394.631 2.064 46
6 Consumer Goods 2652.095 37.658 51
7 Cons., Property & Real Estate 480.742 8.835 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1130.455 19.871 71
9 Finance 1213.694 9.336 91
10 Trade & Service 786.524 2.437 153
No Code Prev Close Change %
1 TIRA 186 250 64 34.41
2 INPP 525 650 125 23.81
3 LPCK 1,900 2,340 440 23.16
4 OCAP 268 330 62 23.13
5 MLPL 84 99 15 17.86
6 MTSM 177 206 29 16.38
7 SDMU 55 62 7 12.73
8 UNIT 240 268 28 11.67
9 IMAS 2,560 2,840 280 10.94
10 HDFA 158 174 16 10.13
No Code Prev Close Change %
1 ARTA 1,310 1,000 -310 -23.66
2 ABDA 5,600 4,480 -1,120 -20.00
3 BEEF 318 268 -50 -15.72
4 TFCO 765 665 -100 -13.07
5 KICI 290 260 -30 -10.34
6 SKBM 560 510 -50 -8.93
7 TPMA 242 222 -20 -8.26
8 POLI 1,575 1,445 -130 -8.25
9 INTD 175 161 -14 -8.00
10 RIGS 228 210 -18 -7.89
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 348 342 -6 -1.72
2 INPC 74 79 5 6.76
3 UNTR 26,000 25,600 -400 -1.54
4 WSKT 1,975 2,090 115 5.82
5 TRAM 182 190 8 4.40
6 ASII 8,150 8,150 0 0.00
7 PTSN 1,630 1,520 -110 -6.75
8 TLKM 3,850 3,930 80 2.08
9 KPAS 220 222 2 0.91
10 BBRI 3,790 3,780 -10 -0.26