Portal Berita Ekonomi Selasa, 21 Mei 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 14:40 WIB. CPO - Peluang ekspor CPO ke China terbuka di tengah perang dagang.
  • 14:38 WIB. Huawei - Google Blokir Huawei dari Play Store dan Android Updates.
  • 14:37 WIB. Unilever - Unilever membagikan dividen Rp9 triliun.
  • 13:55 WIB. TPMA - Trans Power Marine menebar dividen senilai US$4,93 juta.
  • 13:53 WIB. Daerah - Kontribusi mitra Go-Jek Rp1,7 triliun bagi ekonomi Makassar.
  • 11:22 WIB. Infrastruktur - Astra Infra mengincar proyek tol di jalur Trans Jawa.
  • 11:20 WIB. Ekonomi - Sektor konsumsi akan diandalkan pemerintah untuk merealisasikan target pertumbuhan ekonomi 2020.

Mana yang Lebih Menguntungkan, Cloud Pribadi atau Cloud dari Pihak Ketiga?

Mana yang Lebih Menguntungkan, Cloud Pribadi atau Cloud dari Pihak Ketiga? - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Pemanfaatan komputasi awan (cloud) untuk menyimpan data menjadi salah satu langkah yang dilakukan pelaku bisnis di era digital ini. Ada perusahaan yang mengembangkan cloud secara mandiri, ada pula yang memanfaatkan layanan dari penyedia cloud pihak ketiga. Dari sisi pengamat, manakah yang lebih baik?

Saat diwawancarai oleh Warta Ekonomi, Pengamat Teknologi, Heru Sutadi, menilai, secara global, layanan cloud dari pihak ketiga lebih efisien dibandingkan mengembangkan cloud sendiri.

"Semua punya kelebihan dan kekurangan. Kalau secara internasional, cloud dari pihak ketiga dinilai lebih efisien, lebih mengikuti perkembangan teknologi dunia, keamanannya juga," ujar Heru, Jumat (14/12/2018).

Ia menjelaskan, bila menggunakan layanan cloud dari pihak ketiga, biaya modal (capital expense/capex) akan lebih rendah dari biaya operasional (operational expense/opex). Namun, ada pula risiko bertambahnya opex bila terjadi kerusakan pada cloud karena yang mengatasi potensi kerusakan adalah penyedia layanan.

"Kalau ada risiko, seperti mati listrik, itu menjadi faktor yang memengaruhi opex di penggunaan cloud pihak ketiga. Kalau misalnya opex bertambah, otomatis biaya yang dikeluarkan akan meningkat," jelas Heru.

Sementara, bila pelaku bisnis mengembangkan cloud sendiri, kerusakan itu bisa ditangani oleh tim teknisi perusahaan. Namun, biaya modal akan jauh lebih mahal karena perusahaan harus membeli server dan sebagainya.

"Kalau mengembangkan cloud sendiri, keuntungannya mudah dicek kalau ada kerusakan, tetapi biayanya lebih mahal. Apalagi yang sistemnya baru, harus beli server dan sebagainya sehingga biaya capex atau biaya awalnya lebih besar," jelas Heru lagi.

Ia menambahkan, yang lebih penting, penempatan data center perusahaan. Baik cloud yang dikembangkan sendiri maupun layanan cloud pihak ketiga, harus menempatkam data center secara fisik di Indonesia agar sesuai dengan PP PSTE Nomor 82.

"Kalau misalnya perusahaan bisa bangun (cloud) sendiri tidak masalah juga. Yang harus diperhatikan, kalau di Indonesia, penempatan data fisiknya harus di dalam negeri," papar Heru.

Penempatan data fisik di Indonesia berkaitan dengan kedaulatan data. Terutama untuk data yang berkaitan dengan perbankan, pembayaran, asuransi, investasi, bursa efek. Data dan informasi memiliki kekuatan tinggi di era digital seperti saat ini.

"Karena kalau zaman sekarang, data dan informasi memiliki nilai tinggi. Siapa yang memiliki data dan informasi terbanyak, akan menguasai dunia. Memangnya kita mau negara ini dikuasai negara lain karena data?" tambah Heru.

Menurutnya, semua bisa dimulai dengan penempatan data. Kemudian, pelaku bisnis juga perlu belajar untuk mengolah data. Peraturannya juga harus disusun di masa yang akan datang.

"Paling tidak, kita mulai dari penempatan data, kemudian belajar mengolah data, semuanya harus diatur juga nanti," tutupnya.

Tag: Digital Economy, Industri 4.0

Penulis: Tanayastri Dini Isna

Editor: Kumairoh

Foto: Tanayastri Dini Isna

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,876.15 3,836.82
British Pound GBP 1.00 18,500.33 18,315.59
China Yuan CNY 1.00 2,106.68 2,085.81
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,534.00 14,390.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,048.81 9,942.05
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,851.80 1,833.42
Dolar Singapura SGD 1.00 10,567.88 10,461.65
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,231.57 16,065.00
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,475.37 3,438.47
Yen Jepang JPY 100.00 13,193.54 13,060.45

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5907.121 80.253 633
2 Agriculture 1351.935 -9.947 21
3 Mining 1609.598 10.601 47
4 Basic Industry and Chemicals 707.320 17.072 71
5 Miscellanous Industry 1203.823 30.883 46
6 Consumer Goods 2359.388 12.835 52
7 Cons., Property & Real Estate 435.075 5.924 76
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1079.565 21.890 74
9 Finance 1184.407 20.731 90
10 Trade & Service 783.451 0.917 156
No Code Prev Close Change %
1 HDFA 140 180 40 28.57
2 JAST 460 575 115 25.00
3 HRME 260 324 64 24.62
4 MTPS 915 1,140 225 24.59
5 DUTI 4,440 5,500 1,060 23.87
6 BELL 386 458 72 18.65
7 MKPI 12,000 13,975 1,975 16.46
8 JSKY 1,065 1,230 165 15.49
9 MYTX 65 74 9 13.85
10 SSTM 352 400 48 13.64
No Code Prev Close Change %
1 RELI 244 202 -42 -17.21
2 LPGI 4,100 3,400 -700 -17.07
3 INPP 840 710 -130 -15.48
4 BIPP 88 75 -13 -14.77
5 PEHA 1,800 1,550 -250 -13.89
6 MTSM 202 176 -26 -12.87
7 IBFN 228 200 -28 -12.28
8 NICK 322 286 -36 -11.18
9 TRIS 266 238 -28 -10.53
10 NIPS 288 260 -28 -9.72
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 3,790 3,750 -40 -1.06
2 SRIL 328 342 14 4.27
3 MNCN 920 925 5 0.54
4 CPRI 67 73 6 8.96
5 TLKM 3,510 3,600 90 2.56
6 BBCA 25,900 26,900 1,000 3.86
7 ESTI 96 95 -1 -1.04
8 BMRI 7,075 7,225 150 2.12
9 SMGR 10,550 11,250 700 6.64
10 UNTR 24,825 24,500 -325 -1.31