Portal Berita Ekonomi Rabu, 19 Juni 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 18:49 WIB. Minyak - U.S. West Texas Intermediate crude turun 3 cents menjadi $53.87 per barel.
  • 18:48 WIB. Minyak - Brent crude futures turun 46 cents at $61.68 per barel pada 1042 GMT.
  • 18:43 WIB. WIKA - Wijaya Karya telah merampungkan pembangunan Bandara Oecusse Timor Leste.
  • 18:33 WIB. Boeing - Qatar memesan 5  777F Boeing Co freighters.
  • 16:02 WIB. IHSG - IHSG ditutup hiaku 1,31% di akhir sesi II.
  • 14:47 WIB. Uber - Uber pertahankan aplikasi Careem di Timur Tengah.
  • 14:45 WIB. Ganja - Mike Tyson berencana membangun resort ganja di kompleks seluas 407 hektare.
  • 14:38 WIB. Tokopedia - Tokopedia resmi akuisisi startup Bridgestory.
  • 14:22 WIB. Facebook - DPR AS minta Facebook tunda pengembangan uang kriptonya yang bernama Libra.
  • 11:28 WIB. Gaming - Pasar electronic gaming global naik 9,6% menjadi US$152,1 miliar di tahun 2019.
  • 11:08 WIB. Berlin - Jerman akam membeli 3 jet bombardier senilai US$268,51 juta.
  • 09:00 WIB. Washington - DPR AS minta Facebook menunda uang kriptonya.

2030, Indonesia Masuk 5 Besar Produsen Tekstil Dunia

2030, Indonesia Masuk 5 Besar Produsen Tekstil Dunia - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Sesuai dengan peta jalan Making Indonesia 4.0, Indonesia ditargetkan masuk dalam jajaran lima besar produsen tekstil dan produk tekstil (TPT) di dunia pada tahun 2030. Untuk mewujudkannya, pemerintah memprioritaskan pengembangan industri TPT sebagai pionir dalam peta jalan penerapan revolusi industri keempat.

Mudhori, Direktur Industri Tekstil, Kulit, Alas Kaki, dan Aneka Kementerian Perindustrian mengatakan implementasi industri 4.0 diyakini memperkuat daya saing global sektor TPT karena meningkatkan efisiensi dan kualitas produk.

“Sektor ini tergolong kompetitif karena sudah terintegrasi dari hulu hingga hilir, serta didukung sumber daya manusia yang besar untuk mendukung kegiatan produksi,” kata Muhdori dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu (19/12/2018).

Dalam era industri 4.0, lanjut Muhdori, hampir semua sektor industri mau tidak mau harus mulai menerapkan standar operasional serta sustainability yang tinggi. Era 4.0 ini harus berorientasi otomatisasi, internet of things, 3D printing, komunikasi machine-to-machine dan human-to-machine, serta artificial intelligence.

Menurut dia, era industri 4.0 merupakan keniscayaan, sekaligus tantangan dan kebutuhan industri TPT agar lebih efisien, sambil terus meningkatkan kompetensi SDM sesuai dengan perkembangan teknologi.
Sebagai sektor padat karya berorientasi ekspor, tutur Mudhori, industri TPT selama ini memberikan kontribusi yang signifikan bagi perekonomian nasional.

Berdasarkan catatan Kemenperin, ekspor TPT terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2017, kontribusi sektor TPT terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai Rp150,43 triliun, sementara ekspornya US$12,58 miliar atau naik 6% dari tahun sebelumnya.

Jaminan Bahan Baku

Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Synthetic Fiber Indonesia (APSyFI), Redma Gita Wirawasta, menyampaikan bahwa bahan rayon lebih diminati untuk fesyen dibandingkan dengan bahan tekstil lainnya.

"Indonesia berpotensi menjadi salah satu pemain industri rayon terbesar di dunia, ditopang oleh ketersediaan lahan yang luas dan iklim yang mendukung. Kondisi ini membuat Indonesia unggul secara komparatif dibandingkan dengan negara produsen rayon lainnya," ujar Gita.

Gita menegaskan, kelangsungan industri serat rayon membutuhkan pasokan bahan baku secara berkesinambungan melalui hutan tanaman industri.

"Pabrik rayon yang didukung tanaman industri tidak hanya memperkuat struktur industri TPT, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor yang selama ini menjadi isu daya saing TPT nasional. Industri hulu ini bahkan mampu menghasilkan devisa karena sebagian produksinya diekspor," tegas Gita.

Kemenperin mencatat, kapasitas produksi industri serat rayon di dalam negeri sekitar 470 ribu ton pada tahun 2016. Kapasitasnya diperkirakan mencapai 565 ribu ton pada tahun 2017 dan ditargetkan tembus 700 ribu ton pada tahun 2018.

Sebagai informasi, pada 2019, kapasitas produksi industri rayon nasional diproyeksikan mencapai 1 juta ton, dan akan naik lagi menjadi 1,2 juta ton pada tahun 2021. Ketika ditanya mengenai tuduhan sebuah organisasi international, Canopy, yang menyatakan sumber bahan baku serat rayon berasal dari hutan Ancient dan Endangered di Sumatra dan Kalimantan, Gita membantah hal itu.

“Tuduhan seperti ini harus dibuktikan oleh mereka,” tegasnya.

Dia menekankan pentingnya peran pemerintah dalam mendukung perkembangan industri TPT nasional.

Pakar kehutanan, Machmud Thohari, juga mempertanyakan laporan Canopy yang mengklasifikasikan hutan dengan menggunakan istilah ancient forest dan endangered forest.

“Sejauh pengetahuan yang saya miliki, istilah hutan ancient dan endangered tidak lazim digunakan dalam mengklasifikasikan hutan secara ilmiah,” tegasnya.

Menurut dia, istilah ancient forest mungkin dimaksudkan sebagai old forest atau hutan yang umurnya tua, demikian juga istilah endangered forest tidak dipakai dalam klasifikasi hutan.

“Istilah endangered lazim digunakan untuk mengklasifikasi spesies yang artinya terancam punah,” jelas Machmud.

Gubernur Riau Wan Thamrin Hasyim juga menyayangkan tuduhan Canopy tersebut karena memojokkan potensi industri strategis di Provinsi Riau.

“Tuduhan itu harus diklarifikasi sebab bisa menghambat investor dan pertumbuhan ekonomi Riau,” ujarnya.

Sekedar informasi, Perkembangan Ekspor dan Serapan Tenaga Kerja Sektor TPT tahun 2017 mencapai US$12,58 dengan 2,73 tenaga kerja. Sementara tahun 2018 diproyeksi mencapai 13,5US$ dengan 2,95 tenaga kerja, dan proyeksi 2019 mencapai US$15,0 dengan 3,11 tenaga kerja

Tag: Tekstil, Kementerian Perindustrian (Kemenperin)

Penulis/Editor: Kumairoh

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,824.23 3,785.66
British Pound GBP 1.00 18,022.16 17,842.30
China Yuan CNY 1.00 2,081.78 2,061.17
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,342.00 14,200.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,864.43 9,763.92
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,832.47 1,814.21
Dolar Singapura SGD 1.00 10,487.75 10,382.39
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,060.17 15,898.32
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,435.21 3,398.76
Yen Jepang JPY 100.00 13,219.65 13,085.15

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6339.262 81.932 636
2 Agriculture 1407.708 18.720 21
3 Mining 1616.036 27.374 46
4 Basic Industry and Chemicals 759.365 19.786 71
5 Miscellanous Industry 1319.906 24.495 47
6 Consumer Goods 2463.827 18.712 52
7 Cons., Property & Real Estate 491.971 8.540 76
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1197.863 24.917 74
9 Finance 1292.680 13.837 90
10 Trade & Service 804.545 2.212 159
No Code Prev Close Change %
1 SFAN 188 318 130 69.15
2 APLN 187 234 47 25.13
3 DUTI 4,750 5,825 1,075 22.63
4 WICO 510 615 105 20.59
5 ABMM 1,870 2,180 310 16.58
6 BRAM 10,725 12,500 1,775 16.55
7 NICK 236 274 38 16.10
8 PNSE 520 600 80 15.38
9 BOLA 370 422 52 14.05
10 ARMY 220 250 30 13.64
No Code Prev Close Change %
1 PLIN 4,750 3,700 -1,050 -22.11
2 GLOB 320 258 -62 -19.38
3 INAF 3,230 2,700 -530 -16.41
4 MFMI 605 525 -80 -13.22
5 LRNA 161 141 -20 -12.42
6 BMAS 348 310 -38 -10.92
7 OKAS 168 150 -18 -10.71
8 FORU 100 90 -10 -10.00
9 MINA 1,235 1,115 -120 -9.72
10 RICY 184 167 -17 -9.24
No Code Prev Close Change %
1 MNCN 1,130 1,125 -5 -0.44
2 INKP 7,325 8,175 850 11.60
3 APLN 187 234 47 25.13
4 TLKM 3,980 4,100 120 3.02
5 BBRI 4,260 4,290 30 0.70
6 PGAS 1,950 2,060 110 5.64
7 INAF 3,230 2,700 -530 -16.41
8 CENT 95 93 -2 -2.11
9 CCSI 246 232 -14 -5.69
10 BOLA 370 422 52 14.05