Portal Berita Ekonomi Selasa, 23 Juli 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 21:15 WIB. Inggris - Boris Johnson raih 92.153 suara sedangkan Jeremy Hunt hanya 46.656 
  • 21:12 WIB. Huawei - Pendapatan Huawei naik 30% pada semester I di tengah tekanan AS.
  • 21:10 WIB. Perdana Menteri Baru - Mantan Menlu Inggris Boris Johnson menjadi PM baru Inggris
  • 20:49 WIB. Beijing -  Mantan PM China Li Peng meninggal dunia pada usia 92.
  • 20:47 WIB. Washington  - IMF menurunkan prakiraan pertumbuhan ekonomi global  2019, serta memberi warning untuk tahun 2020.
  • 20:45 WIB. Alibaba - Alibaba menyambut UKM asal AS untuk memakai platformnya.
  • 20:42 WIB. China - Bank Sentral China merasa nyaman dengan tingkat suku bunga sekarang.
  • 20:37 WIB. Papua - Daftar antrian haji di Papua sudah lewat 10 tahun.
  • 16:41 WIB. Apple - Apple dikabarkan bakal beli bisnis modem Intel.
  • 16:28 WIB. Tekno - Rudiantara tegaskan Traveloka dan Tokopedia bukan penyelenggara umrah.

Ovo: Tingginya Penetrasi Cash Jadi Tantangan Pembayaran Digital di Indonesia

Ovo: Tingginya Penetrasi Cash Jadi Tantangan Pembayaran Digital di Indonesia - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Beberapa waktu lalu, Bank Indonesia mengatakan, pertumbuhan pembayaran digital di Indonesia terbilang besar. Namun, dari segi volume transaksi, pembayaran tunai masih merajai pasar dengan persentase 90%. Hal tersebut dinilai sebagai tantangan untuk menuju cashless society.

Salah satu pelaku di sektor pembayaran digital, Director of Enterprise Payment Ovo, Harianto Gunawan mengatakan, perkembangan pembayaran digital bertujuan untuk mempercepat inklusi finansial. Namun, ada pembayaran tunai yang menghambat realisasi tujuan itu.

"Perkembangan uang elektronik tujuannya untuk mempercepat inklusi finansial, tantangannya satu, yaitu cash. Mereka masih menguasai 90% pasar di Indonesia. Indonesia masih jauh untuk menuju cashless society karena angkanya masih 10%. Kompetitor kami adalah cash," kata Harianto pada Kamis (20/12/2018).

Sebetulnya, menurutnya, dukungan geografi dan populasi untuk meningkatkan transaksi digital sudah tersedia di Indonesia. Namun, masih dominannya cash, serta kepercayaan masyarakat menjadi dua tantangan tersendiri untuk pelaku pembayaran digital seperti Ovo.

Harianto menjelaskan, "Kepercayaan sangat penting, bagaimana caranya untuk membuat publik percaya dengan satu produk. Jadi, kami putuskan untuk banyak jalin kerja sama dengan partner yang memiliki ekosistem yang sudah establish."

Melalui strategi tiga pilarnya, Hariatno ingin membuktikan, penggunaan pembayaran digital dapat membantu para pengguna dalam kehidupan sehari-hari dan mitra mereka sendiri.

"Trust ini yang mau sama-sama kami coba hadapi dengan memberikan bukti kalau penggunaan pembayaran digital bisa membantu para stakeholders," tambah Harianto.

Ovo sendiri telah bermitra dengan Bank Mandiri, Alfamart, Grab, Moka, dan Tokopedia. Dengan kemitraan tersebut, Ovo berhasil masuk ke berbagai segmen di pasar. Lebih lanjut, mereka akan memperluas hubungan kemitraan pada 2019 nanti.

"Segmen market kami sebagai penyedia layanan pembayaran digital, dari yang belum terjamah produk perbankan hingga menengah ke atas. Dari mitra offline, segmen di mal itu middle up, di online segmennya hampir semua ada, transportasi pun ada yang mobil dan motor. Segmen market kami hampir ada di setiap level. Kami mau coba berikan semua manfaat untuk tiap segmen," papar Harianto.

Sejak November 2017, Ovo bertumbuh lebih dari 400% dengan 115 juta perangkat tahun ini dan tersebar di seluruh Indonesia. Volume total transaksi mereka juga meningkat 75 kali lipat. Pencapaian tersebut diraih dengan strategi tiga pilar, yakni dengan gerai ritel, Online to Offline (O2O), dan e-commerce.

Tag: OVO, Cashless

Penulis: Tanayastri Dini Isna

Editor: Rosmayanti

Foto: Tanayastri Dini Isna

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,744.00 3,706.58
British Pound GBP 1.00 17,507.41 17,325.92
China Yuan CNY 1.00 2,040.60 2,020.26
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,043.00 13,903.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,869.42 9,768.25
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,797.94 1,779.83
Dolar Singapura SGD 1.00 10,310.57 10,204.04
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,729.56 15,567.19
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,411.81 3,375.33
Yen Jepang JPY 100.00 13,000.37 12,867.19

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6456.539 53.245 652
2 Agriculture 1359.948 0.169 21
3 Mining 1656.555 1.125 49
4 Basic Industry and Chemicals 836.222 20.201 72
5 Miscellanous Industry 1262.035 -2.850 49
6 Consumer Goods 2419.754 33.936 53
7 Cons., Property & Real Estate 497.831 2.310 80
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1241.954 8.326 74
9 Finance 1325.581 8.757 91
10 Trade & Service 819.503 2.647 163
No Code Prev Close Change %
1 POLU 1,260 1,575 315 25.00
2 PAMG 416 520 104 25.00
3 GLOB 505 630 125 24.75
4 PICO 486 605 119 24.49
5 KIOS 520 630 110 21.15
6 FUJI 123 143 20 16.26
7 ASBI 340 384 44 12.94
8 ARKA 1,035 1,165 130 12.56
9 TMPO 162 180 18 11.11
10 IKBI 274 298 24 8.76
No Code Prev Close Change %
1 KBLV 436 390 -46 -10.55
2 KAYU 498 448 -50 -10.04
3 IIKP 62 57 -5 -8.06
4 SRAJ 310 286 -24 -7.74
5 SAPX 745 690 -55 -7.38
6 MINA 1,400 1,300 -100 -7.14
7 NICK 266 248 -18 -6.77
8 PBSA 760 710 -50 -6.58
9 TNCA 324 304 -20 -6.17
10 DSFI 135 127 -8 -5.93
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 350 352 2 0.57
2 BHIT 81 85 4 4.94
3 MNCN 1,365 1,435 70 5.13
4 IPTV 242 248 6 2.48
5 BPTR 97 104 7 7.22
6 POSA 214 204 -10 -4.67
7 BDMN 4,840 5,100 260 5.37
8 ANTM 950 940 -10 -1.05
9 LPKR 278 284 6 2.16
10 BBRI 4,450 4,480 30 0.67