Portal Berita Ekonomi Selasa, 21 Mei 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 08:14 WIB. PLN - Power Bank jumbo milik PLN suplai Listrik acara Jakarta Fair Kemayoran 2019.
  • 08:13 WIB. PLN - PLN suplai listrik ke industri tambang bauksit Antam di Sanggau Kalbar.
  • 08:11 WIB. PLN - PLN menambah kapasitas setrum 141,53 MW sepanjang kuartal-I 2019.
  • 08:09 WIB. Transportasi - Pegadaian, Garuda, PTPN III, & Taspen bekerja sama dalam penerbangan Jakarta-Denpasar.
  • 20:47 WIB. Pokemon - Gim resmi Pokemon akan rilis di China.
  • 20:46 WIB. Suzuki - Suzuki bantah DR150 meluncur di Jakarta Fair.
  • 20:45 WIB. Avanza - Avanza meluncur di Malaysia, tembus Rp300 juta.
  • 20:43 WIB. Huawei - Susul AS, perusahaan asal Jerman, Infineon Tecchnologies setop pasok cip ke Huawei.
  • 20:38 WIB. NASA - NASA gandeng SpaceX untuk misi ke Bulan.

Perang Sistem GPS Dimulai, Konsumen dan Produsen Smartphone Terancam Rugi

Perang Sistem GPS Dimulai, Konsumen dan Produsen Smartphone Terancam Rugi - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Negara-negara di seluruh dunia, seperti China, Jepang, India, Inggris, dan Uni Eropa sedang menjajaki, menguji, dan menggunakan satelit untuk membangun kapabilitas pemosisian masing-masing. Apakah hal itu akan membawa dampak baik bagi pasar di tiap-tiap negara, khususnya untuk konsumen dan produsen perangkat yang memanfaatkan sistem pemosisian?

Hal tersebut berdampak pada Amerika Serikat (AS), yang selama beberapa dekade telah memonopoli praktis dalam menentukan lokasi objek dengan sistem Global Positioning System (GPS). Layanan militer angkatan udara yang dibangun selama perang dingin memungkinkan penggunaan sistem tersebut secara komersial sejak pertengahan 2000 lalu.

Memiliki GPS memang menghasilkan sejumlah keunggulan, namun yang terpenting, militer global dan seluruh pengguna komersial bergantung pada layanan pemerintah AS. Hal itu membuat penargetan lokasi sepenuhnya berada di tangan Departemen Ketahanan AS, Pentagon.

Sesungguhnya, perkembangan teknologi dan penyebaran satelit penentuan lokasi juga memberikan keuntungan luar biasa bagi industri luar angkasa. Saat ini, satu-satunya alternatif global untuk sistem tersebut, Glonass milik Rusia.

Glonass menjangkau wilayah global beberapa tahun lalu, setelah program agresif oleh Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membangun kembali daerah tertinggal pasca pecahnya Uni Soviet.

Sejumlah negara ingin mengurangi ketergantungan terhadap AS untuk merasakan manfaat ekonomi tersebut. Mungkin tidak ada tempat selain China yang tengah menjadikan pembangunan alternatif global untuk GPS sebagai prioritas nasional. Sistem navigasi Beidou mulai dibangun sejak 2000 silam secara perlahan. Sebagian besar pembangunan berfokus pada penyediaan layanan di Asia.

Namun, China berharap dapat segera meluncurkan satelit Beidou dan menyediakan layanan penentuan lokasi di seluruh dunia. Melansir Techcrunch yang mengutip Financial Times beberapa minggu lalu, China telah meluncurkan 11 satelit di konstelasi Beidou tahun ini, hampir setengah dari jumlah seluruh jaringan. Pada 2020, Negeri Tirai Bambu itu berencana memperluas jaringan dengan selusin satelit lain. Bila itu sudah dilakukan, China akan menjadi salah satu penyedia sistem penentuan lokasi terbesar di dunia.

China tak hanya menempatkan satelit ke orbit luar angkasa, tetapi juga menuntut produsen ponsel pintar lokal memasukkan chip pemosisian Beidou di perangkat mereka. Saat ini, perangkat dari beberapa produsen besar, seperti Huawei dan Xiaomi, menggunakan sistem itu, bersama dengan GPS AS dan Glonass Rusia juga.

Itu membuat pemimpin pasar ponsel pintar AS, seperti Alphabet dan tentunya Apple, menjadi terikat. Apple, yang menyediakan perangkat iPhone terpadu di seluruh dunia, dilanda dilema karena disintegrasi monopoli pada sistem GPS. Mana yang lebih baik bagi mereka, menawarkan perangkat original mereka ke pasar China yang mampu menciptakan Beidou, atau menambah chip Beidou ke perangkatnya di seluruh dunia, tetapi mengalami masalah dengan otoritas keamanan nasional AS?

China mungkin yang paling agresif dalam meluncurkan sistem alternatif untuk GPS AS, tetapi yang lebih penting, mereka tak sendirian dalam mengupayakan sistem penentuan lokasi secara mandiri. Ada Jepang, India, Inggris, dan juga Uni Eropa yang sedang mengupayakan hal serupa.

Untuk bersaing dengan China dan meremajakan ekonominya, Jepang menjadikan peluncuran program ke luar angkasa sebagai prioritas nasional. Salah satu komponen penting dari program tersebut, membangun sistem penentuan lokasi, yakni sistem satelit Quazi-Zenith.

Hingga saat ini, sistem satelit Quazi-Zenith telah menelan biaya sebesar 120 miliar yen (sekitar Rp15,7 triliun) dan dirancang untuk menambah GPS dengan cakupan yang lebih luas di Jepang, serta memicu keuntungan sekitar 2,4 triliun yen (sekitar Rp35 triliun) di bidang ekonomi.

Efek Bagi Pengguna dan Produsen Perangkat Ponsel Pintar

Namun, penggunaan sistem baru tersebut dinilai membutuhkan biaya besar karena kurangnya skala produksi. Berdasarkan pernyataan Nikkei Asian Review beberapa minggu lalu, harga receiver yang tinggi menjadi tantangan bagi sistem QZSS Jepang.

"Pada Kamis lalu, Mitsubishi Electric mulai menjual receiver akurat berukuran beberapa sentimeter, dengan harga beberapa juta yen, atau puluhan ribu dolar per unit," tulis Nikkei Asian Review.

Akurasi lokasi tambahan di Jepang kemungkinan akan diperlukan untuk mobil otonom. Manufaktur mobil perlu menurunkan biaya dengan cepat jika mereka ingin menanam sistem QZSS dalam kendaraan buatan mereka.

Seperti Jepang, India juga mengejar sistem GPS-Augmenting yang bernama IRNSS, mereka telah meluncurkan tujuh satelit untuk memperluas jangkauan benua. Sementara Inggris yang dikabarkan akan meninggalkan Uni Eropa pada Maret mendatang pascareferendum atas Brexit, kemungkinan besar tidak bisa mengakses sistem penentuan posisi Galileo Uni Eropa. Oleh karena itu, mereka berencana meluncurkan sistem sendiri. Untuk Galileo sendiri, diharapkan dapat beroperasi penuh pada 2019.

Secara ringkas, dunia telah berpindah dari satu sistem (GPS AS), menjadi tujuh sistem, sementara ini. Saat produsen China memiliki GPS, Glonass dan Beidou yang diinstal pada satu chip, skala itu hanya dapat berfungsi di negara seukuran China. Di Jepang, di mana pasar smartphone tidak terlalu baik dan populasinya kurang dari 1/10 China, skala yang diperlukan untuk menurunkan harga mungkin lebih sulit ditemukan. Begitu pula dengan Inggris yang memiliki kondisi serupa dengan Jepang.

Secara teoritis, satu chip penentuan posisi dapat dirancang untuk menggabungkan semua sistem yang berbeda, tetapi kemungkinan hal itu bertentangan dengan undang-undang keamanan nasional AS, khususnya untuk sistem Glonass dan Beidou. Artinya, sebanyak internet terpecah menjadi kutub yang berbeda, chip pemosisian ponsel cerdas juga perlu dipecah untuk menangani pasar lokal. Hal tersebut dapat menimbulkan harga yang lebih tinggi bagi konsumen, dan rantai pasokan yang lebih keras berlaku bagi produsen perangkat.

Tag: Global Positioning System (GPS), Smartphone

Penulis: Tanayastri Dini Isna

Editor: Rosmayanti

Foto: Warta Ekonomi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,880.41 3,841.09
British Pound GBP 1.00 18,536.70 18,346.04
China Yuan CNY 1.00 2,109.06 2,088.19
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,550.00 14,406.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,059.87 9,957.43
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,853.83 1,835.42
Dolar Singapura SGD 1.00 10,577.20 10,468.72
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,240.71 16,075.66
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,485.03 3,448.06
Yen Jepang JPY 100.00 13,203.27 13,069.04

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5907.121 80.253 633
2 Agriculture 1351.935 -9.947 21
3 Mining 1609.598 10.601 47
4 Basic Industry and Chemicals 707.320 17.072 71
5 Miscellanous Industry 1203.823 30.883 46
6 Consumer Goods 2359.388 12.835 52
7 Cons., Property & Real Estate 435.075 5.924 76
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1079.565 21.890 74
9 Finance 1184.407 20.731 90
10 Trade & Service 783.451 0.917 156
No Code Prev Close Change %
1 HDFA 140 180 40 28.57
2 JAST 460 575 115 25.00
3 HRME 260 324 64 24.62
4 MTPS 915 1,140 225 24.59
5 DUTI 4,440 5,500 1,060 23.87
6 BELL 386 458 72 18.65
7 MKPI 12,000 13,975 1,975 16.46
8 JSKY 1,065 1,230 165 15.49
9 MYTX 65 74 9 13.85
10 SSTM 352 400 48 13.64
No Code Prev Close Change %
1 RELI 244 202 -42 -17.21
2 LPGI 4,100 3,400 -700 -17.07
3 INPP 840 710 -130 -15.48
4 BIPP 88 75 -13 -14.77
5 PEHA 1,800 1,550 -250 -13.89
6 MTSM 202 176 -26 -12.87
7 IBFN 228 200 -28 -12.28
8 NICK 322 286 -36 -11.18
9 TRIS 266 238 -28 -10.53
10 NIPS 288 260 -28 -9.72
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 3,790 3,750 -40 -1.06
2 SRIL 328 342 14 4.27
3 MNCN 920 925 5 0.54
4 CPRI 67 73 6 8.96
5 TLKM 3,510 3,600 90 2.56
6 BBCA 25,900 26,900 1,000 3.86
7 ESTI 96 95 -1 -1.04
8 BMRI 7,075 7,225 150 2.12
9 SMGR 10,550 11,250 700 6.64
10 UNTR 24,825 24,500 -325 -1.31