Portal Berita Ekonomi Selasa, 23 Juli 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:41 WIB. Apple - Apple dikabarkan bakal beli bisnis modem Intel.
  • 16:28 WIB. Tekno - Rudiantara tegaskan Traveloka dan Tokopedia bukan penyelenggara umrah.
  • 16:02 WIB. IHSG - IHSG ditutup merah 0,46% di akhir sesi II.
  • 15:24 WIB. INKA - INKA mengirim 26 gerbong kereta ke Chittagong Port, Bangladesh.
  • 15:17 WIB. KRAS - Roy Edison mengajukan pengunduran diri dari jajaran Dewan Komisaris Krakatau Steel.
  • 14:36 WIB. Spa - Industri Spa di Indonesia potensial menangkan persaingan pasar internasional.
  • 14:13 WIB. Ekspor - Ekspor buah Indonesia tembus Argentina.
  • 13:51 WIB. PLN - PLN menargetkan zero accident di 2023.

Punya Potensi, Industri Indonesia Bisa Beralih ke Energi Terbarukan

Punya Potensi, Industri Indonesia Bisa Beralih ke Energi Terbarukan - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Anggota Komisi VII DPR RI, Kurtubi, menginginkan semakin banyak industri di tanah air beralih menggunakan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai sumber tenaga bagi operasi produksi mereka.

"Kami sangat mendorong EBT terutama geothermal, tenaga angin, dan biogas untuk diproduksi secara masif supaya Indonesia ini bisa bersih," kata Kurtubi dalam rilis, Selasa (25/12/2018).

Menurut dia, saat ini sudah didorong adanya kemungkinan untuk menggunakan tenaga nuklir sebagai upaya menghilangkan ketergantungan terhadap penggunaan batubara. Ha itu mengingat pasokan batubara diprediksi akan habis dalam jangka waktu 40 tahun ke depan. 

Politikus Partai Nasdem itu berpendapat, kalangan industri dapat memikirkan untuk beralih ke energi baru terbarukan (EBT) terutama geothermal atau panas bumi.

Komisi VII DPR pada saat ini gencar mempromosikan geothermal sebagai energi alternatif karena selain untuk menggantikan energi fosil, geothermal di Indonesia memiliki potensi paling besar di dunia untuk dikembangkan.

"Apabila ini berjalan baik maka keuntungan yang paling mendasar adalah polusi di Indonesia akan berkurang," ucapnya.

Namun, ia juga mengakui bahwa beban biaya yang relatif mahal masih menjadi tantangan untuk mengembangkan EBT secara maksimal.

Sebelumnya, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI), Surya Dharma, menegaskan upaya pengembangan energi baru terbarukan (EBT) yang dilakukan pemerintah wajib didukung seluruh pihak mengingat Indonesia memiliki seluruh subsektor EBT, yakni air, bayu (angin), geotermal, surya, bioenergi, dan laut.

"Kita (Indonesia) beruntung dianugerahi potensi EBT yang lengkap. Oleh karena itu, tidak ada alasan untuk tidak mendukung pemerintah dalam mengembangkan EBT," ujar Surya Dharma.

Besarnya potensi EBT di Indonesia disadari betul oleh pemerintah sehingga pemerintah menetapkan target kontribusi EBT pada bauran energi nasional sebesar 235 pada 2025.

Selain untuk mengurangi ketergantungan kepada energi fosil yang terus berkurang, pengembangan EBT ini dirancang untuk mewujudkan ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Pakar di bidang panas bumi ini melanjutkan, meskipun seluruh penjuru Indonesia diberkahi potensi EBT yang beragam dan melimpah, konsep pengembangan menjadi tantangan tersendiri. Di situlah peran kemitraan lintas sektor dibutuhkan.

"Pemerintah, industri dan akademisi harus duduk bersama untuk mengembangkan konsep atau teknologi untuk mengoptimalkan pemanfaatan EBT," tambahnya.

Sementara itu, Direktur Bioenergi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE), Andriah Feby Misna, menuturkan pemanfaatan EBT mayoritas dialokasikan pada kelistrikan yang saat ini masih didominasi oleh batubara sebesar 54%.

Tag: Energi Terbarukan, Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia

Penulis: Redaksi WE Online/Ant

Editor: Lestari Ningsih

Foto: Esdm.go.id

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,744.00 3,706.58
British Pound GBP 1.00 17,507.41 17,325.92
China Yuan CNY 1.00 2,040.60 2,020.26
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,043.00 13,903.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,869.42 9,768.25
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,797.94 1,779.83
Dolar Singapura SGD 1.00 10,310.57 10,204.04
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,729.56 15,567.19
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,411.81 3,375.33
Yen Jepang JPY 100.00 13,000.37 12,867.19

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6456.539 53.245 652
2 Agriculture 1359.948 0.169 21
3 Mining 1656.555 1.125 49
4 Basic Industry and Chemicals 836.222 20.201 72
5 Miscellanous Industry 1262.035 -2.850 49
6 Consumer Goods 2419.754 33.936 53
7 Cons., Property & Real Estate 497.831 2.310 80
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1241.954 8.326 74
9 Finance 1325.581 8.757 91
10 Trade & Service 819.503 2.647 163
No Code Prev Close Change %
1 POLU 1,260 1,575 315 25.00
2 PAMG 416 520 104 25.00
3 GLOB 505 630 125 24.75
4 PICO 486 605 119 24.49
5 KIOS 520 630 110 21.15
6 FUJI 123 143 20 16.26
7 ASBI 340 384 44 12.94
8 ARKA 1,035 1,165 130 12.56
9 TMPO 162 180 18 11.11
10 IKBI 274 298 24 8.76
No Code Prev Close Change %
1 KBLV 436 390 -46 -10.55
2 KAYU 498 448 -50 -10.04
3 IIKP 62 57 -5 -8.06
4 SRAJ 310 286 -24 -7.74
5 SAPX 745 690 -55 -7.38
6 MINA 1,400 1,300 -100 -7.14
7 NICK 266 248 -18 -6.77
8 PBSA 760 710 -50 -6.58
9 TNCA 324 304 -20 -6.17
10 DSFI 135 127 -8 -5.93
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 350 352 2 0.57
2 BHIT 81 85 4 4.94
3 MNCN 1,365 1,435 70 5.13
4 IPTV 242 248 6 2.48
5 BPTR 97 104 7 7.22
6 POSA 214 204 -10 -4.67
7 BDMN 4,840 5,100 260 5.37
8 ANTM 950 940 -10 -1.05
9 LPKR 278 284 6 2.16
10 BBRI 4,450 4,480 30 0.67