Portal Berita Ekonomi Selasa, 23 Juli 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:41 WIB. Apple - Apple dikabarkan bakal beli bisnis modem Intel.
  • 16:28 WIB. Tekno - Rudiantara tegaskan Traveloka dan Tokopedia bukan penyelenggara umrah.
  • 16:02 WIB. IHSG - IHSG ditutup merah 0,46% di akhir sesi II.
  • 15:24 WIB. INKA - INKA mengirim 26 gerbong kereta ke Chittagong Port, Bangladesh.
  • 15:17 WIB. KRAS - Roy Edison mengajukan pengunduran diri dari jajaran Dewan Komisaris Krakatau Steel.
  • 14:36 WIB. Spa - Industri Spa di Indonesia potensial menangkan persaingan pasar internasional.
  • 14:13 WIB. Ekspor - Ekspor buah Indonesia tembus Argentina.
  • 13:51 WIB. PLN - PLN menargetkan zero accident di 2023.

Sentimen Eksternal Tetap Berpengaruh, Kondisi Ekonomi Indonesia di 2019 Membaik

Sentimen Eksternal Tetap Berpengaruh, Kondisi Ekonomi Indonesia di 2019 Membaik - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Meskipun kondisi global tetap menantang, para pelaku pasar memprediksi kondisi ekonomi Indonesia di 2019 akan membaik, menghapus berbagai tekanan yang mewarnai 2018. Hal ini diungkapkan Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi PT Bahana TCW Investment Management, Budi Hikmat dalam siaran pers, Rabu (2/1/2019).

Menurutnya, situasi ekonomi dan geopolitik global akan lebih mendukung kembalinya arus modal asing masuk ke Indonesia, sehingga memperkuat kondisi ekonomi Indonesia. 

Berbagai sentimen eksternal di antaranya situasi politik di Amerika Serikat setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan sela di 2018, yang akan menjadi penyeimbang kebijakan ekonomi Presiden Donald Trump.

Penguatan Dolar AS sepanjang 2018 justru cenderung meningkatkan defisit perdagangan AS terhadap China. Di samping itu, tensi perang dagang AS dengan China tampaknya lebih melonggar dengan adanya gencatan senjata dan tekanan politik dalam negeri yang dialami Presiden Trump. 

"Setelah kekalahan politik Presiden Trump, China tak perlu tergesa-gesa bernegosiasi. Kompromi tampaknya bisa tercapai karena kedua belah pihak sama-sama saling membutuhkan dari sisi ekonomi," ungkap Budi Hikmat.

Di sisi ekonomi China, neraca berjalan raksasa ekonomi Asia terbesar itu diduga akan menoreh angka negatif untuk pertama kali pada 2019. Hal ini berisiko memicu potensi China akan melemahkan mata uang Yuan. 

Adapun investor global menduga kondisi perekonomian AS telah melewati puncaknya dan mulai melambat, walau tetap terbilang kuat. Sementara kebijakan bank sentral The Federal Reserve diproyeksi akan tetap memperketat likuiditas, meski tak sekencang 2018. 

Setelah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin pada 2018, The Fed tampaknya bersikap netral pada tahun ini, mengacu pada tingkat suku bunganya lebih tinggi pada tingkat inflasi AS di kisaran 2,2%, tertinggi di antara negara maju.

"Ada potensi The Fed hanya membutuhkan maksimal dua kali kenaikan selama 2019," tambah Budi.

Di sisi lain, pasar menduga Bank sentral Eropa (ECB) akan mengikuti The Fed dalam mengakhiri stimulus kuantitatif tahun ini, dan menaikkan suku bunga menjelang akhir 2018 lalu. Hal ini didukung dengan adanya indikator penguatan ekonomi kawasan Uni Eropa.

Meskipun tekanan dari eksternal mereda, Budi berharap adanya kebijakan untuk mendorong daya beli dan meningkatkan produktivitas, baik dalam sektor manufaktur maupun pariwisata.

"Optimisme kami dilandasi keberanian pemerintah menempuh kebijakan pre-emptive dan prudent untuk membedakan Indonesia dibanding negara berkembang. Namun demikian, untuk mendorong investor melakukan diskriminasi, membutuhkan kebijakan mendorong daya beli, reformasi untuk meningkatkan daya saing dan produktivitas, serta mendorong foreign direct investment," ungkap Budi.

Bahana TCW pun memproyeksikan selama 2019, kurs rupiah bergerak pada kisaran 14.350 sampai 15.200. Secara konservatif, proyeksi tersebut sudah memasukkan kemungkinan dolar kembali menguat sebesar 2% dan rasio cost to income commodity naik 5%.

Sekadar info, rasio cost to income commodity merupakan rasio yang memproyeksikan kenaikan harga atau biaya impor minyak berbanding dengan pemasukan ekspor dari komoditas.

Terkait aset saham, Bahana TCW menilai potensi kenaikan lebih ditentukan oleh faktor manfaat (earning growth) ketimbang martabat (price earnings ratio re-rating). Dengan mengasumsikan pertumbuhan laba 12%, Bahana TCW menduga IHSG pada akhir 2019 sekitar 7000.

Tag: Ekonomi Indonesia

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/Dhemas Reviyanto

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,744.00 3,706.58
British Pound GBP 1.00 17,507.41 17,325.92
China Yuan CNY 1.00 2,040.60 2,020.26
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,043.00 13,903.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,869.42 9,768.25
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,797.94 1,779.83
Dolar Singapura SGD 1.00 10,310.57 10,204.04
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,729.56 15,567.19
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,411.81 3,375.33
Yen Jepang JPY 100.00 13,000.37 12,867.19

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6456.539 53.245 652
2 Agriculture 1359.948 0.169 21
3 Mining 1656.555 1.125 49
4 Basic Industry and Chemicals 836.222 20.201 72
5 Miscellanous Industry 1262.035 -2.850 49
6 Consumer Goods 2419.754 33.936 53
7 Cons., Property & Real Estate 497.831 2.310 80
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1241.954 8.326 74
9 Finance 1325.581 8.757 91
10 Trade & Service 819.503 2.647 163
No Code Prev Close Change %
1 POLU 1,260 1,575 315 25.00
2 PAMG 416 520 104 25.00
3 GLOB 505 630 125 24.75
4 PICO 486 605 119 24.49
5 KIOS 520 630 110 21.15
6 FUJI 123 143 20 16.26
7 ASBI 340 384 44 12.94
8 ARKA 1,035 1,165 130 12.56
9 TMPO 162 180 18 11.11
10 IKBI 274 298 24 8.76
No Code Prev Close Change %
1 KBLV 436 390 -46 -10.55
2 KAYU 498 448 -50 -10.04
3 IIKP 62 57 -5 -8.06
4 SRAJ 310 286 -24 -7.74
5 SAPX 745 690 -55 -7.38
6 MINA 1,400 1,300 -100 -7.14
7 NICK 266 248 -18 -6.77
8 PBSA 760 710 -50 -6.58
9 TNCA 324 304 -20 -6.17
10 DSFI 135 127 -8 -5.93
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 350 352 2 0.57
2 BHIT 81 85 4 4.94
3 MNCN 1,365 1,435 70 5.13
4 IPTV 242 248 6 2.48
5 BPTR 97 104 7 7.22
6 POSA 214 204 -10 -4.67
7 BDMN 4,840 5,100 260 5.37
8 ANTM 950 940 -10 -1.05
9 LPKR 278 284 6 2.16
10 BBRI 4,450 4,480 30 0.67