Portal Berita Ekonomi Jum'at, 19 Juli 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:20 WIB. IHSG - IHSG ditutup hijau 0,83% di akhir sesi II.
  • 15:01 WIB. BUMN - Ekonom menilai perombakan direksi BUMN tidak lazim.
  • 13:44 WIB. Impor - Jepang minta penghapusan pembatasan impor saat pertemuan WTO 
  • 13:48 WIB. Jepang - Unicorn Mercari rugi sebesar US$110 juta
  • 14:01 WIB. Iran - Iran menyita kapal tanker asing yang diduga selundupkan bahan bakar 
  • 14:03 WIB. Perancis - Pajak perusahaan digital jadi fokus bahasan Menteri Keuangan Negara G7
  • 14:03 WIB. Jepang - 33 orang tewas terbakar di Studi Anime Kyoto
  • 13:43 WIB. Ebola - WHO umumkan darurat ebola di Republik Demokratik Kongo
  • 13:27 WIB. Drone - Pemerintah Iran membantah drone-nya ditembak AL AS.
  • 12:51 WIB. Tembakau - PBNU mendukung produk tembakau alternatif.

2018, Tahun Berat untuk Perekonomian Indonesia

2018, Tahun Berat untuk Perekonomian Indonesia - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

2018 dapat dikatakan merupakan tahun yang berat untuk perekonomian nasional. Berbagai faktor yang terjadi telah menyebabkan ketidakpastian bagi para pelaku ekonomi. Kekhawatiran tetap membayangi ekonomi Indonesia, walaupun pertumbuhan ekonomi di atas 5% dan tingkat kemiskinan, yang untuk pertama kalinya dalam sejarah, berada di bawah 10% dari populasi.

Executive Director Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Rainer Heufers mengatakan, kekhawatiran muncul karena adanya ketakutan akan berulangnya krisis ekonomi 1998. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) semakin memperkuat kekhawatiran tersebut. Padahal, kondisi krisis ekonomi 1998 sangat berbeda dengan yang terjadi pada 2018.

"Depresiasi mata uang jauh lebih rendah daripada 1998. Bank-bank di Indonesia sudah lebih kuat dan sektor keuangan Indonesia jauh lebih kuat dalam menghadapi tekanan global," kata dia dalam pernyataan tertulisnya kepada redaksi Warta Ekonomi di Jakarta.

Cadangan devisa negara, lanjut Rainer, jauh melebihi pada 1998, dan rasio utang terhadap PDB kurang dari setengah dari 74% yang dialami Indonesia pada 1998. Defisit anggaran dan tingkat utang secara umum tetap terkendali dan berada dalam batas aman yang diatur UU. Hal ini bahkan tetap terjadi setelah Bank Indonesia (BI) mengikuti kebijakan normalisasi The Fed dengan menaikkan suku bunga tujuh kali dengan total 1,75 % pada 2018.

"Pemerintah sebaiknya fokus menerapakan strategi ekonomi jangka panjang yang menitikberatkan pada teknologi, produktivitas, dan peningkatan daya saing. Hal ini penting diterapkan untuk mewujudkan agenda Nawa Cita Presiden yang bertujuan meningkatkan infrastruktur, pembangkit listrik, dan kesejahteraan rakyat," ujarnya.

Akan tetapi, menurut Rainer, yang terjadi saat ini justru cenderung kontradiktif dengan semangat tersebut. Pada 2018, Freeport akhirnya terpaksa melakukan divestasi untuk memungkinkan kontrol domestik atas sumber daya alam. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) menjual obligasi senilai US$4 miliar untuk mendanai akuisisi saham Freeport.

"Investor asing lain pada akhirnya keluar dari pasar komoditas Indonesia dengan mengikutsertakan keahlian dan teknologi mereka, yang akhirnya berpotensi merugikan Indonesia," imbuhnya.

Kampanye untuk pemilihan parlemen dan presiden sudah dimulai pada paruh kedua 2018. Hal ini tentu menambah kepekaan masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah. Pemerintah menerapkan tarif impor pada 1.147 komoditas. Kebijakan ini, lanjut Rainer, mungkin telah menyenangkan masyarakat, tetapi tidak membawa dampak signifikan untuk menyeimbangkan neraca berjalan.

"Pemerintah bahkan tidak memotong subsidi BBM untuk mengurangi pengeluaran. Sebaliknya, pemerintah tetap berpegang pada keputusannya, Pertamina harus menjual bahan bakarnya di bawah harga pasar nasional. Langkah ini adalah alasan penting mengapa defisit neraca berjalan mencapai 3,37% dari PDB pada 2018," ujar Rainer.

Sektor minyak dan gas mengalami kerugian US$12,21 miliar hingga November 2018. Kondisi ini berkontribusi pada hilangnya surplus aktual di sektor nonmigas dan menjadi kontributor terbesar untuk keseluruhan defisit neraca berjalan.

"Secara umum, 2018 adalah tahun yang sulit bagi perekonomian. Masih adanya sebagian perangkat peraturan yang tidak konsisten dan tidak efisien membuat pemodal atau pemilik bisnis menahan diri dalam menginvestasikan modalnya. Pertumbuhan output saat ini melambat, permintaan gagal membaik secara signifikan dan penjualan ekspor turun sepanjang tahun. Investasi asing langsung anjlok lebih dari 20% year on year pada kuartal ketiga 2018," jelas Rainer.

Memasuki 2019, Rainer memprediksi pemerintah akan menahan diri untuk tidak mengeluarkan kebijakan atau inisiatif ekonomi sebelum akhir masa jabatan Jokowi. Upaya agresif untuk membuka 54 sektor tambahan melalui relaksasi Daftar Negatif Investasi (DNI) untuk investasi asing pada November, misalnya, ditentang oleh kelompok-kelompok yang akhir-akhir ini cukup sering bersuara seiring semakin dekatnya pemilihan umum.

Perjanjian perdagangan bebas dengan Australia saat ini ditunda meskipun rencana sebelumnya telah ditandatangani pada Desember. Akibatnya, ekonomi relatif tidak terpapar dengan dinamika perekonomian global dan juga terus-menerus memiliki rasio perdagangan terhadap PDB yang relatif rendah.

Rainer menjelaskan, akibat isolasi ini, Indonesia tidak dapat mengambil manfaat dari pergeseran strategi China dari industri padat karya. Ekonomi digital yang tumbuh mungkin memberi Indonesia sedikit harapan. Investor dalam e-commerce, teknologi keuangan, dan sharing economy sedang mengamati daya beli konsumen Indonesia yang dianggap mengesankan.

"Bagaimanapun, pendorong pertumbuhan ekonomi terbesar adalah konsumsi swasta, yang meningkat hampir sepertiga dari 2014 hingga 2018," kata dia.

Tetapi, perkembangan dalam industri jasa padat modal seperti e-commere, teknologi keuangan, dan sharing economy tersebut dipandang Rainer tidak serta merta akan menyelesaikan hambatan besar yang dihadapi dalam pengembangan sektor manufaktur dan pertanian.

"Mengingat kedua faktor ini sangat penting bagi orang Indonesia dengan keterampilan dan pendapatan yang lebih rendah, tampaknya tahun depan akan menjadi business as usual lagi, untuk sebagian besar orang Indonesia," tukanya.

Tag: Ekonomi Indonesia

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/Puspa Perwitasari

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,728.00 3,690.58
British Pound GBP 1.00 17,543.07 17,366.04
China Yuan CNY 1.00 2,037.30 2,016.90
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,983.00 13,843.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,884.58 9,784.23
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,789.94 1,771.79
Dolar Singapura SGD 1.00 10,307.39 10,202.68
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,750.45 15,588.60
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,403.02 3,366.49
Yen Jepang JPY 100.00 13,003.81 12,872.42

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6456.539 53.245 652
2 Agriculture 1359.948 0.169 21
3 Mining 1656.555 1.125 49
4 Basic Industry and Chemicals 836.222 20.201 72
5 Miscellanous Industry 1262.035 -2.850 49
6 Consumer Goods 2419.754 33.936 53
7 Cons., Property & Real Estate 497.831 2.310 80
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1241.954 8.326 74
9 Finance 1325.581 8.757 91
10 Trade & Service 819.503 2.647 163
No Code Prev Close Change %
1 POLU 1,260 1,575 315 25.00
2 PAMG 416 520 104 25.00
3 GLOB 505 630 125 24.75
4 PICO 486 605 119 24.49
5 KIOS 520 630 110 21.15
6 FUJI 123 143 20 16.26
7 ASBI 340 384 44 12.94
8 ARKA 1,035 1,165 130 12.56
9 TMPO 162 180 18 11.11
10 IKBI 274 298 24 8.76
No Code Prev Close Change %
1 KBLV 436 390 -46 -10.55
2 KAYU 498 448 -50 -10.04
3 IIKP 62 57 -5 -8.06
4 SRAJ 310 286 -24 -7.74
5 SAPX 745 690 -55 -7.38
6 MINA 1,400 1,300 -100 -7.14
7 NICK 266 248 -18 -6.77
8 PBSA 760 710 -50 -6.58
9 TNCA 324 304 -20 -6.17
10 DSFI 135 127 -8 -5.93
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 350 352 2 0.57
2 BHIT 81 85 4 4.94
3 MNCN 1,365 1,435 70 5.13
4 IPTV 242 248 6 2.48
5 BPTR 97 104 7 7.22
6 POSA 214 204 -10 -4.67
7 BDMN 4,840 5,100 260 5.37
8 ANTM 950 940 -10 -1.05
9 LPKR 278 284 6 2.16
10 BBRI 4,450 4,480 30 0.67