Portal Berita Ekonomi Jum'at, 19 Juli 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 11:05 WIB. Musk - Elon Musk bikin cip AI penghubung otak manusia dengan komputer.
  • 09:18 WIB. Kamboja - Pemerintah Kamboja telah memastikan  1.600 ton sampah plastik dari AS dan Kanada adalah ilegal.
  • 09:08 WIB. Selat Hormuz -  Trump: AL AS menembak drone Iran yang mendekati kapal perang AS.
  • 09:02 WIB. MediaTek - Sambut 5G, MediaTek rilis platform AI IoT i700, komputasi edge AI berkecepatan tinggi.
  • 08:56 WIB. IHSG - IHSG dibuka hijau 0,22% di awal sesi I.
  • 08:00 WIB. Instagram - Instagram uji fitur untuk sembunyikan jumlah likes.
  • 06:12 WIB. India - Future Group (riteler India) akan luncurkan 7-Eleven pertama di India.
  • 06:08 WIB. Tokopedia - Tokopedia buka fitur tukar tambah smartphone.

Tahun Ini, Investasi Real Estate Komersial Asia Pasifik Diprediksi Naik 5%

Tahun Ini, Investasi Real Estate Komersial Asia Pasifik Diprediksi Naik 5% - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Volume transaksi real estate Asia Pasifik secara keseluruhan pada 2019 diperkirakan akan naik 5%, meskipun laju momentum pertumbuhan akan melambat.

Stuart Crow, Head of Capital Markets, JLL Asia Pasifik menjelaskan, selama satu dekade siklus ekonomi, para investor masih berkutat dengan risiko-risiko makro dan ketidakpastian geopolitik, seperti kenaikan suku bunga, berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China, serta tekanan di Uni Eropa dari negosiasi Brexit.

"Meskipun terlihat adanya kemunduran, industri real estate tetap terlihat menarik sebagai tempat yang aman untuk berinvestasi, dengan manfaat diversifikasi portofolionya serta tingkat keuntungan yang relatif lebih tinggi dibanding dengan kelas aset lain. Tetapi, dalam situasi ekonomi yang melambat ini, investor menjadi lebih selektif dan ketat saat bergerak keluar dari suatu jenis investasi karena semakin sulit menemukan alternatif investasi lain yang dapat menghasilkan pendapatan," katanya  melalui siaran pers, Rabu (16/1/2019).

Di Asia Pasifik, lanjut Stuart, permintaan real estate akan terus bergerak didorong oleh fundamental demografis yang kuat. Penduduk daerah perkotaan diperkirakan akan melampaui 400 juta orang pada 2027, sedangkan penduduk berusia 65 tahun atau lebih akan meningkat sebanyak 146 juta orang dalam kurun waktu 10 tahun ke depan. Pada 2021, pasar e-commerce Asia Pasifik diproyeksikan akan mengalami pertumbuhan sampai US$ 1,6 triliun.

James Taylor, Head of Research, JLL Indonesia, menambahkan, "Minat investor kemungkinan akan tetap kuat di Indonesia pada tahun ini. Pasar gedung perkantoran serta ritel akan semakin ketat dan titik masuk yang paling mungkin diambil investor ialah pengembangan tapak atau membentuk kemitraan dengan grup-grup perusahaan lokal."

"Pengembangan infrastruktur MRT dan LRT mendatang akan menghadirkan peluang baru bagi para investor, sementara pasar pergudangan logistik modern kemungkinan akan terus menjadi fokus bagi grup-grup perusahaan lokal dan internasional," imbuhnya.

Menurut JLL, ada lima tren kunci yang akan membentuk industri di Asia Pasifik pada 2019. 

1. Pertumbuhan aset-aset yang berkaitan dengan "kehidupan"

Penambahan jumlah penduduk perkotaan di wilayah ini menyebabkan meningkatnya permintaan akan perumahan alternatif, termasuk akomodasi bagi pelajar, hunian bersama, hunian multi-keluarga, panti jompo, serta rumah perawatan bagi para lansia.

Bagi para investor, sektor yang berkaitan dengan kehidupan ini menawarkan hasil yang menarik serta prospek pertumbuhan jangka panjang dan peluang diversifikasi portofolio.

"Sektor-sektor baru ini siap mengalahkan investasi di bidang aset perumahan tradisional terkait sifatnya dalam penggunaan ruang yang efisien, manajemen bangunan yang unggul, serta imbal hasil yang umumnya lebih tinggi. Panti jompo, misalnya, menawarkan keuntungan antara 11-14% di Tokyo, dan 8-12% di Singapura," jelas Stuart.

2. Mengembangkan ruang kerja yang fleksibel untuk menarik bakat

Semakin banyak perusahaan yang menggunakan ruang kerja bersama sebagai cara untuk mengembangkan inovasi di antara para karyawan dan memenangkan persaingan dalam merekrut karyawan berbakat. Fokus baru dalam meningkatkan pengalaman sumber daya manusia ini menyebabkan peningkatan dalam penggunaan ruang kantor yang fleksibel, termasuk co-working dan serviced offices, di seluruh wilayah.

Megan Walters, Head of Asia Pacific Research, JLL mengatakan, "Pada 2030, ruang kerja fleksibel akan mencapai 30% dari portofolio beberapa perusahaan properti komersial di seluruh dunia. Ini berarti konsolidasi pasar akan semakin sering terjadi, misalnya pemilik properti serta pengembang akan mulai menawarkan ruang fleksibel milik mereka sendiri. Hal lainnya, membentuk usaha bersama dengan perusahaan co-working, atau dapat dilihat dari merger dan akuisisi antara perusahaan-perusahaan co-working."

3. Bertambah banyaknya pusat logistik dan data

Dengan semakin meningkatnya peran Asia Pasifik sebagai pemimpin e-commerce global, tuntutan bagi organisasi untuk mendirikan infrastruktur penyimpanan data serta memiliki fasilitas pergudangan untuk barang-barang fisik ritel mereka akan semakin meningkat.

James berujar, "Pasar gudang logistik modern berkembang selama beberapa tahun terakhir di Indonesia dan para investor akan menampung permintaan pengguna, baik dari sektor e-commerce, perusahaan barang konsumen, perusahaan logistik pihak ketiga, serta pabrikan. Tingkat okupansi tetap tinggi, namun pasar kekurangan pasokan, terutama di Jabodetabek dan Surabaya."

"Sementara itu, pasar pusat data masih belum matang di Indonesia, namun ada kemungkinan mengalami pertumbuhan yang cepat karena sudah ada beberapa perusahaan internasional yang mulai mengukur kemungkinan mereka untuk masuk ke pasar tersebut."

4. Perubahan terhadap eksposur utang

Beberapa bank semakin memperketat persyaratan pinjaman, ini akan menimbulkan celah bagi pemberi pinjaman nonbank dan asing untuk memasuki pasar, khususnya di Australia, India, dan China, menurut Stuart.

Akibatnya, akan semakin banyak investor yang beralih ke pemberi pinjaman luar negeri yang menawarkan bentuk-bentuk utang atau ekuitas yang lebih fleksibel untuk proyek-proyek tertentu. Investor institusi juga memperluas kegiatan mereka ke utang real estate.

Stuart menambahkan, "Investasi utang adalah salah satu cara mengurangi risiko dalam portofolio dan semakin banyak investor yang mencari cara menggunakan utang dalam melindungi mereka dari volatilitas pasar, serta anjloknya pendapatan bidang properti."

5. Evolusi kota pintar

Dengan digaungkannya inisiatif kota pintar di Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Australia, Asia Pasifik mulai merasakan semakin meningkatnya kebutuhan membangun infrastruktur digital yang lebih baik untuk memaksimalkan efisiensi, keberlanjutan, serta meningkatkan kondisi kehidupan penduduk.

Megan Walters menjelaskan, "Proptech akan memainkan peran kunci dalam pengembangan kota di masa depan. Karena kota pintar sangat tergantung pada data, maka pengembangan dan pengelolaan properti cerdas kemungkinan akan membutuhkan pengumpulan dan analisis data yang sangat luas, keduanya sangat penting bagi suatu kota dalam menciptakan lingkungan lebih layak huni bagi penduduk yang terus bertambah."

Tag: Real Estate

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/R. Rekotomo

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,728.00 3,690.58
British Pound GBP 1.00 17,543.07 17,366.04
China Yuan CNY 1.00 2,037.30 2,016.90
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,983.00 13,843.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,884.58 9,784.23
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,789.94 1,771.79
Dolar Singapura SGD 1.00 10,307.39 10,202.68
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,750.45 15,588.60
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,403.02 3,366.49
Yen Jepang JPY 100.00 13,003.81 12,872.42

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6403.294 8.685 652
2 Agriculture 1359.779 -0.916 21
3 Mining 1655.430 15.724 49
4 Basic Industry and Chemicals 816.021 16.130 72
5 Miscellanous Industry 1264.885 5.069 49
6 Consumer Goods 2385.818 14.333 53
7 Cons., Property & Real Estate 495.521 0.306 80
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1233.628 3.292 74
9 Finance 1316.824 -9.517 91
10 Trade & Service 816.856 -0.632 163
No Code Prev Close Change %
1 HRME 545 680 135 24.77
2 POLU 1,010 1,260 250 24.75
3 ARKA 830 1,035 205 24.70
4 PICO 390 486 96 24.62
5 GLOB 406 505 99 24.38
6 PAMG 362 416 54 14.92
7 SAPX 655 745 90 13.74
8 MINA 1,250 1,400 150 12.00
9 INPP 720 800 80 11.11
10 SOTS 270 300 30 11.11
No Code Prev Close Change %
1 OCAP 480 372 -108 -22.50
2 BRAM 14,000 11,200 -2,800 -20.00
3 PCAR 2,430 2,010 -420 -17.28
4 TMAS 210 174 -36 -17.14
5 AKSI 338 284 -54 -15.98
6 ARTA 400 342 -58 -14.50
7 POSA 242 214 -28 -11.57
8 BTEK 83 74 -9 -10.84
9 SKBM 440 400 -40 -9.09
10 OASA 290 264 -26 -8.97
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 344 350 6 1.74
2 IPTV 244 242 -2 -0.82
3 MNCN 1,420 1,365 -55 -3.87
4 POSA 242 214 -28 -11.57
5 ANTM 900 950 50 5.56
6 BBRI 4,520 4,450 -70 -1.55
7 INKP 7,900 8,475 575 7.28
8 INCO 3,130 3,180 50 1.60
9 BKSL 134 142 8 5.97
10 INOV 422 442 20 4.74