Portal Berita Ekonomi Sabtu, 16 Februari 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 17:43 WIB. Suzuki - MPV 'murah' Suzuki dipermak, harga naik Rp3 juta.
  • 17:41 WIB. Bukalapak - RatingĀ Bukalapak terjun bebas di App Store.
  • 18:42 WIB. Jokowi - Usai Bukalapak, #UninstallJokowi kian menggema.

Sistem ELYS Milik Startup Gilkor, Solusi untuk Kenali Konsumen Ritel Offline

Foto Berita Sistem ELYS Milik Startup Gilkor, Solusi untuk Kenali Konsumen Ritel Offline
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Peningkatan jumlah ritel diikuti peningkatan persaingan, tekanan harga, dan biaya operasi. Oleh karena itu, pengusaha harus menganalisis data pelanggan untuk bisa menyusun strategi pemasaran yang tepat. Salah satu startup yang berdiri sejak 2016 bernama Gilkor menciptakan solusi untuk mengidentifikasi pola perilaku para pengunjung toko ritel, seperti pusat perbelanjaan dan mal.

Berdasarkan data Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) pada 2018, pertumbuhan trafik pengunjung mal dan pusat perbelanjaan meningkat hingga 20%. Hal itu karena semakin banyak orang yang mencari kepuasan dari segi experience, bukan hanya untuk berbelanja.

CEO Gilkor, Sinartus Sosrodjojo berpendapat, tingginya jumlah volume pengunjung menyebabkan para pemilik ritel kesulitan untuk mengenali konsumen mereka.

"Karena itulah, kami menciptakan sistem ELYS (Engangement Loyalty System)," ujarnya di Jakarta, Selasa (29/1/2019).

Sistem ELYS membantu mengelola sistem pendataan pelanggan sehingga dapat memonitor keinginan pelanggan lewat perilakunya. Selain itu sistem itu juga dapat menentukan cara berinteraksi yang tepat dengan pelanggan untuk menciptakan experience yang lebih baik.

"Manajemen pusat perbelanjaan dan mal dapat menggunakan sistem ini untuk menetapkan target dan mengidentifikasi area yang harus dikembangkan agar tercipta pengalaman yang sesuai dengan karakter wilayah itu," jelas Sinartus, Selasa (29/1/2019) di Hotel Shangri-La, Jakarta.

Sebelumnya, PT Agung Sedayu Retail Indonesia menggunakan data pelanggan yang ebrasal dari multisiatem yang tersebar. Data itu harus dikoordinasikan oleh seluruh tim, dari tim pemasaran, layanan pelanggan, hingga operasional.

COO PT Agung Sedayu Retail Indonesia, David Hilman berkata, "Hal itu menjadi tantangan kami dalam mengintegrasikan data yang tersedia. Sistem ELYS, membantu kami dalam menganalisis perkembangan bisnis sehingga bisa mengambil keputusan yang dapat meningkatkan loyalitas pelanggan."

Dengan matriks yang tepat pada sistem ELYS, manajemen mal bisa meningkatkan jumlah pengunjung dan transaksi di tiap merchant di dalam mall. Sebab dengan analisis berbasis digital, data akan lebih mudah diakses oleh manajemen.

"Yang paling penting, manajemen mall harus menggunakan matriks itu. Kalau mereka kembali dengan cara tradisional, kalau hanya dengarkan tren, belum tentu bisa tahu maunya top spender. Karena di digital, datanya lebih kelihatan. Kita ingin tahu top spender-nya ada di mana saja, kalau manual ribet," jelas Sinartus lagi.

Saat ini, ada 4 mal yang sudah menggunakan sistem ELYS, yakni Pacific Place, PIK Avenue, Mall of Indonesia, dan Grand Galaxy Park. Pada April mendatang, sistem ini juga akan diimplementasikan oleh Pollux Group di beberapa wilayah di Indonesia.

Tag: Gilkor, Startup, Digital Economy

Penulis: Tanayastri Dini Isna

Editor: Kumairoh

Foto: Tanayastri Dini Isna

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,783.30 3,744.53
British Pound GBP 1.00 18,150.85 17,967.77
China Yuan CNY 1.00 2,097.95 2,076.96
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,187.00 14,045.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,058.58 9,952.29
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,807.88 1,789.76
Dolar Singapura SGD 1.00 10,440.06 10,334.04
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,015.70 15,848.38
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,472.95 3,433.99
Yen Jepang JPY 100.00 12,861.03 12,731.15

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6389.085 -30.933 627
2 Agriculture 1592.350 -13.090 21
3 Mining 1834.293 -25.732 47
4 Basic Industry and Chemicals 878.558 -9.993 71
5 Miscellanous Industry 1329.578 -2.798 46
6 Consumer Goods 2604.636 -24.378 51
7 Cons., Property & Real Estate 450.557 -6.160 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1185.805 7.307 71
9 Finance 1216.771 -0.391 91
10 Trade & Service 811.391 -5.665 155
No Code Prev Close Change %
1 ALDO 1,300 1,625 325 25.00
2 PEHA 2,110 2,630 520 24.64
3 SIMA 330 400 70 21.21
4 LMAS 58 69 11 18.97
5 EXCL 2,050 2,340 290 14.15
6 LUCK 585 660 75 12.82
7 CASS 640 720 80 12.50
8 BNLI 1,125 1,260 135 12.00
9 BHIT 84 94 10 11.90
10 DWGL 101 113 12 11.88
No Code Prev Close Change %
1 OCAP 81 54 -27 -33.33
2 HDFA 165 130 -35 -21.21
3 KONI 498 398 -100 -20.08
4 BALI 1,060 860 -200 -18.87
5 PUDP 410 338 -72 -17.56
6 CANI 218 180 -38 -17.43
7 KBLV 585 484 -101 -17.26
8 GLOB 448 372 -76 -16.96
9 JIHD 585 490 -95 -16.24
10 NATO 585 505 -80 -13.68
No Code Prev Close Change %
1 EXCL 2,050 2,340 290 14.15
2 BMTR 398 420 22 5.53
3 BHIT 84 94 10 11.90
4 WSKT 1,865 1,765 -100 -5.36
5 BNLI 1,125 1,260 135 12.00
6 ERAA 1,950 1,955 5 0.26
7 MNCN 855 910 55 6.43
8 TLKM 3,740 3,790 50 1.34
9 ANTM 1,000 950 -50 -5.00
10 BUMI 153 151 -2 -1.31