Portal Berita Ekonomi Kamis, 04 Juni 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 17:09 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,11% terhadap Yuan pada level 7,12 CNY/USD.
  • 17:04 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka negatif 0,44% pada level 6.354.
  • 17:03 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup positif 0,17% pada level 24.366.
  • 17:02 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup positif 0,25% pada level 2.707.
  • 17:01 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup positif 0,36% pada level 22.695.
  • 17:00 WIB. Bursa Indeks Shanghai ditutup negatif 0,14% pada level 2.919.
  • 16:59 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup positif 0,19% pada level 2.151.

Jawab Tantangan Ridwan Kamil, Bank BJB Butuh Pimpinan Baru

Jawab Tantangan Ridwan Kamil, Bank BJB Butuh Pimpinan Baru
WE Online, Bandung -

Penyegaran di tubuh Bank BJB dirasa perlu jika ingin membawa kultur dan semangat baru ke dalam perbankan milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat tersebut. Berbagai harapan baru yang dilontarkan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil) akan sulit terpenuhi jika sumber daya manusia (SDM) di BUMD itu tidak diperbaharui.

Demikian diungkapkan pakar ekonomi dari Universitas Pasundan Bandung, Acuviarta (Acu), saat mengomentari proses seleksi direksi Bank BJB yang tahapannya sudah dimulai. Ia menuturkan, eksistensi Bank BJB saat ini tidak terlepas dari peran besar pemerintah provinsi dan kabupaten/kota di Jawa Barat dan Banten.

Suntikan modal dan transaksi dari pemerintah daerah menjadi ruh bagi BUMD tersebut. Seiring pergantian tampuk kepemimpinan, Emil selaku Gubernur Jawa Barat yang baru sekaligus pemegang saham mayoritas ingin memberi sentuhan baru untuk Bank BJB.

Orang nomor satu di Jawa Barat ini ingin arah Bank BJB kembali ke semula yakni sebagai bank pembangunan daerah (BPD). Dia juga ingin bank pelat merah ini lebih fokus dalam mengembangkan sektor usaha mikro dan kecil menengah (UMKM).

"Sekarang bagaimana Bank BJB mampu memperhatikan entitas lain di luar pemerintah. Misalkan UMKM, infrastruktur, jadi itu hal yang baru," katanya kepada wartawan di Bandung, Kamis (31/1/2019).

Selain itu, Acu pun menilai kinerja Bank BJB dalam beberapa tahun ini kurang optimal. Padahal, menurut dia BUMD tersebut memiliki potensi yang besar untuk lebih bersaing dengan bank yang setingkat. Sebagai contoh, menurutnya daya saing Bank BJB di wilayah perkotaan masih kalah dibanding bank-bank lainnya.

"Bank besar, potensi besar, tapi kurang optimal. Padahal, BJB lebih kuat basisnya di kabupaten-kabupaten," ujarnya.

Selain itu, tingkat bunga bank tersebut kurang kompetitif dibanding yang lainnya. Hal Ini tidak terlepas dari peran pemerintah daerah yang besar dalam melakukan transaksi di bank tersebut. Jumlah kredit bermasalah (NPL) di Bank BJB pun lebih tinggi dari ketentuan yang ditetapkan Bank Indonesia.

"Kita melihat sebagian besar DPK di Bank BJB lebih banyak mengandalkan dana-dana penyertaan modal pemerintah, kemudian dana-dana pengelolaan PNS, dan sebagainya," ungkapnya

Tak hanya itu, Acu pun menilai Bank BJB kurang optimal dalam mengembangkan sistem teknologi informasi perbankan. Menurutnya dibandingkan dengan bank selevel yang sedikit lebih tinggi dibanding BJB dari sisi aset dan sebagainya, kemampuan sistem informasi teknologi di Bank BJB sangat lamban.

"Kan kita sekarang di era digital. Faktor ini menjadi hal penting dalam menghadapi persaingan saat ini," ujarnya.

Oleh karena itu, Acu menilai manajemen Bank BJB perlu diperbaharui oleh SDM baru yang mampu menunjukan keberpihakan terhadap sektor-sektor itu. Dia berharap seleksi calon direksi Bank BJB yang telah dimulai ini dijalankan dengan baik agar menjadi pintu masuk bagi profesional perbankan yang bisa mewujudkan kultur baru itu. Dia meyakini sosok baru yang dihasilkan proses seleksi ini bisa memenuhi tantangan tersebut. 

"Karena kalau tidak, menurut saya akan sama dengan sebelum-sebelumnya. (Proses seleksi) itu hanya bungkus baru dari pertimbangan-pertimbangan yang mungkin lebih banyak unsur politis dari pemegang saham, kepentingan politis pemegang saham. Bahwa pemegang saham merekrut berdasarkan control yang cukup optimal terhadap dewan direksi di BJB," tegasnya.

Ditanya soal aturan main dalam proses seleksi Direksi Bank Bjb tersebut, Acu mencium persoalan karena terkesan menutup kesempatan bagi sebagian pendaftar. Hal ini bertentangan dengan keinginan Emil yang akan membuka peluang dan kesempatan yang sama kepada setiap kandidat.

"Ini satu hal yang menurut saya tidak fair. Artinya kita dalam merekrut apapun, yang lebih bagus itu semakin banyak kesempatan yang diberikan, tentu dengan batas-batas kompetensi, yang sesuai. Itu akan lebih bagus karena pilihannya lebih banyak, lebih beragam," jelasnya.

Dengan begitu, persyaratan seleksi yang tertuang dalam AD/ART perusahaan bisa saja dievaluasi demi proses yang terbaik. "Menurut saya bukan suatu hal yang tabu, perubahan AD/ART bisa dilakukan, sepanjang jelas dasar pertimbangannya, jelas sasarannya, itu saya kira bisa dilakukan," tegasnya.

Perubahan AD/ART inipun, lanjut Acu, lazim dilakukan bank lain termasuk yang berstatus BUMN. Pasalnya, Banyak BUMN-BUMN melakukan perubahan AD/ART. 

"Ini cukup lazim. Perubahan kebijakan-kebijakan strategis perusahaan, kaitannya dengan perusahaan pelat merah, itu sangat dinamis, sepanjang memang sesuai dengan kebutuhan dan kecenderungan pasar," pungkasnya.

Baca Juga

Tag: PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk (BJB), Ridwan Kamil

Penulis: Rahmat Saepulloh

Editor: Vicky Fadil

Foto: Ning Rahayu

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,792.68 3,753.94
British Pound GBP 1.00 17,847.46 17,668.46
China Yuan CNY 1.00 1,997.28 1,977.21
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,235.83 14,094.18
Dolar Australia AUD 1.00 9,818.45 9,717.94
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,836.79 1,818.49
Dolar Singapura SGD 1.00 10,167.72 10,060.80
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,974.02 15,809.44
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,336.26 3,296.88
Yen Jepang JPY 100.00 13,072.39 12,938.75
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 4916.704 -24.302 693
2 Agriculture 1003.733 6.008 22
3 Mining 1269.161 -12.889 49
4 Basic Industry and Chemicals 761.610 -6.134 78
5 Miscellanous Industry 863.716 -13.173 52
6 Consumer Goods 1822.498 -15.789 58
7 Cons., Property & Real Estate 337.177 4.167 90
8 Infrastruc., Utility & Trans. 902.810 2.821 78
9 Finance 1022.924 -4.415 93
10 Trade & Service 608.678 -5.629 173
No Code Prev Close Change %
1 TECH 160 216 56 35.00
2 KBLV 382 470 88 23.04
3 NOBU 635 770 135 21.26
4 MASA 372 450 78 20.97
5 BOLT 665 800 135 20.30
6 BRNA 1,000 1,200 200 20.00
7 ASRM 1,685 1,985 300 17.80
8 MLPT 705 820 115 16.31
9 POLU 700 800 100 14.29
10 ZINC 148 168 20 13.51
No Code Prev Close Change %
1 DIVA 1,145 1,065 -80 -6.99
2 VICO 101 94 -7 -6.93
3 BYAN 14,450 13,450 -1,000 -6.92
4 KBLM 318 296 -22 -6.92
5 BIKA 188 175 -13 -6.91
6 NATO 464 432 -32 -6.90
7 NICK 348 324 -24 -6.90
8 SINI 725 675 -50 -6.90
9 GTBO 87 81 -6 -6.90
10 HRME 131 122 -9 -6.87
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 3,100 3,060 -40 -1.29
2 PURA 75 77 2 2.67
3 BBCA 28,900 28,950 50 0.17
4 PGAS 970 955 -15 -1.55
5 TLKM 3,290 3,300 10 0.30
6 BBTN 1,010 975 -35 -3.47
7 WSKT 665 705 40 6.02
8 BMRI 4,860 4,730 -130 -2.67
9 BBNI 4,130 4,140 10 0.24
10 TKIM 4,750 4,850 100 2.11