Portal Berita Ekonomi Selasa, 16 Juli 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 23:54 WIB. Pilpres -  Amien Rais: Demokrasi tanpa oposisi adalah bodong.
  • 23:22 WIB. Milan - Huawei Technologies akan investasi di Italia senilai US$3,1 miliar, tapi menuntut kebijakan yang fair.
  • 23:04 WIB. Menag - Jokowi  menetapkan Menag sebagai Amirul Hajj   ibadah haji 1440 H/2019 M.
  • 22:37 WIB. Purwakarta - Pemkab Purwakarta akan beri sanksi PNS yang masih pakai LPG 3 kg.
  • 20:03 WIB. Kota kreatif - Bekraf ingin mendirikan Bekraf Creative District (BCD) untuk meningkatkan bisnis kreatif.
  • 19:04 WIB. Global bond - PLN menerbitkan global bond US$ 1,4 miliar.

Jurus Baru AirNav Buat Pendaratan di Bandara Hasanuddin Lebih Presisi

Jurus Baru AirNav Buat Pendaratan di Bandara Hasanuddin Lebih Presisi - Warta Ekonomi
WE Online, Makassar -

AirNav Indonesia Cabang Utama Makassar Air Traffic Service Center (MATSC) terus berupaya meningkatkan layanan navigasi penerbangan di ruang udara. Teranyar, AirNav merancang 'jurus baru' berupa perubahan standar prosedur instrumen pendaratan dan lepas landas pesawat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin. 

General Manager AirNav Indonesia Cabang Utama MATSC, Novy Pantaryanto, menyampaikan prosedur baru itu memungkinkan panduan navigasi dari Air Traffic Controller atau ATC terhadap pesawat lebih presisi. Melalui sistem baru itu, toleransi penyimpangan bisa ditekan sehingga tingkat keselamatan penerbangan akan lebih baik. 

Baca Juga: Netizen 'Serang' Basarnas, Airnav Indonesia Bilang Begini

Instrumen pendaratan dan lepas landas pesawat diperbarui sesuai Required Navigation Performance (RNP) yakni standar kualitas navigasi agar pesawat terbang akurat di jalurnya. Teknologi tersebut membuat pesawat senantiasa berada pada rutenya, bahkan saat harus dihadapkan masalah teknis atau cuaca buruk. 

"Sementara sedang kita siapkan prosedur itu yang intinya akan membuat pendaratan lebih presisi. Jadi semacam auto-pilot, tinggal tekan tombol dan akan secara otomatis mendarat sesuai dengan jalurnya," ujar Novy, Senin (11/2). 

Menurut dia, pada proses pendaratan terkadang mengalami kendala sehingga pesawat bergerak sedikit melenceng. Gangguan itu bisa muncul akibat dorongan angin maupun penyebab lainnya. Melalui prosedur baru itu, proses pendaratan diyakini bisa jauh lebih mulus karena sistemnya otomatis 

Novy melanjutkan standar baru itu juga menjaga akurasi pada pendaratan dan lepas landas dibandingkan sistem konvensional. Toh, toleransinya hanya 2 nautival mile dari rute yang ditetapkan. Selain menjamin keselamatan penerbangan, standar baru itu akan berdampak pada efisiensi bahan bakar. 

Penghematan bahan bakar dapat terjadi, Novy menyebut karena pesawat yang tetap berada di rutenya sehingga tingkat pembakaran bisa ditekan. "Ini bukan sekadar sumbangsih kami kepada pengguna jasa, tapi juga kepada publik. Karena semakin boros pembakaran di udara, akan semakin besar pencemaran lingkungan," ucapnya. 

Lebih jauh, Novy menyampaikan penerapan prosedur baru itu tengah dalam tahap penilaian di Kementerian Perhubungan. AirNav Cabang Utama MATSC menargetkan standar baru itu bisa mulai berlaku pada Juni 2019 mendatang, sebelum masa mudik Lebaran.

Penerapan auto-pilot untuk pendaratan pesawat sebenarnya bukanlah hal baru di Indonesia. Novy menyebut sistem tersebut sudah diberlakukan di empat bandara yakni Jakarta, Surabaya, Denpasar, dan Medan. Makassar sendiri belum bisa langsung menerapkan karena kompleksitas masalah di Bandara Hasanuddin. 

"Kalau terealisasi, Bandara Hasanuddin menjadi bandara kelima. Nah, kenapa Makassar baru mau menerapkan? Itu karena permasalahan di sini sangat kompleks. Tugas AirNav di Makassar harus mengakomodir penerbangan sipil dan militer sekaligus," pungkasnya.

Tag: AirNav Indonesia, Penerbangan

Penulis: Tri Yari Kurniawan

Editor: Vicky Fadil

Foto: Tri Yari Kurniawan

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,743.60 3,706.17
British Pound GBP 1.00 17,637.05 17,459.79
China Yuan CNY 1.00 2,044.35 2,023.97
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,040.00 13,900.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,871.52 9,771.70
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,793.70 1,775.75
Dolar Singapura SGD 1.00 10,341.02 10,237.15
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,821.68 15,658.35
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,418.55 3,381.17
Yen Jepang JPY 100.00 12,992.78 12,859.65

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6418.234 44.889 652
2 Agriculture 1366.222 -11.897 21
3 Mining 1629.732 -4.036 49
4 Basic Industry and Chemicals 807.835 9.666 72
5 Miscellanous Industry 1305.363 -4.209 49
6 Consumer Goods 2347.279 8.182 53
7 Cons., Property & Real Estate 499.532 4.688 80
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1240.428 20.008 74
9 Finance 1332.144 11.443 91
10 Trade & Service 818.752 2.912 163
No Code Prev Close Change %
1 BLUE 500 625 125 25.00
2 ARKA 550 685 135 24.55
3 ASBI 310 386 76 24.52
4 AKSI 266 320 54 20.30
5 KJEN 1,415 1,585 170 12.01
6 IBFN 212 232 20 9.43
7 ABBA 160 174 14 8.75
8 MBTO 126 137 11 8.73
9 POLL 1,200 1,300 100 8.33
10 BPII 7,050 7,600 550 7.80
No Code Prev Close Change %
1 INCF 125 82 -43 -34.40
2 POSA 570 428 -142 -24.91
3 TFCO 690 540 -150 -21.74
4 BIPP 85 70 -15 -17.65
5 FIRE 3,370 2,890 -480 -14.24
6 HDFA 169 150 -19 -11.24
7 YULE 200 180 -20 -10.00
8 GSMF 110 99 -11 -10.00
9 TRIM 159 145 -14 -8.81
10 LPLI 139 127 -12 -8.63
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 340 340 0 0.00
2 IPTV 230 242 12 5.22
3 MNCN 1,405 1,450 45 3.20
4 POSA 570 428 -142 -24.91
5 ANTM 845 880 35 4.14
6 ABBA 160 174 14 8.75
7 BBRI 4,510 4,530 20 0.44
8 WSKT 2,040 2,150 110 5.39
9 INCF 125 82 -43 -34.40
10 MAMI 95 94 -1 -1.05