Portal Berita Ekonomi Rabu, 21 Agustus 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:24 WIB. AS - Uber akan investasikan USD75 juta di negara bagian Texas
  • 16:11 WIB. China - Pasar robot China bakal mencapai USD8,68 M pada 2019
  • 16:00 WIB. IHSG - IHSG ditutup merah 0,68% di akhir sesi II.
  • 15:26 WIB. WhatsApp Pay - BI belum tahu WhatsApp Pay akan masuk Indonesia. 
  • 14:36 WIB. Kabinet - PDIP: Risma berpeluang jadi menteri Jokowi.
  • 14:13 WIB. Korea- Mercedes-Benz telah investasikan 87 miliar Won di pusat logistik Korsel dalam 5 tahun terakhir
  • 12:01 WIB. IHSG - IHSG melemah 0,58% di akhir sesi I.
  • 11:40 WIB. Kripto - Rakuten Wallet luncurkan layanan perdagangan aset kripto di apps smartphone
  • 11:36 WIB. Resesi - 34% ekonom yang disurvei NABE menyatakan perlambatan ekonomi AS mengarah resesi pada 2021
  • 11:18 WIB. Greenland - Trump menunda pertemuan dengan pemimpin Denmark terkait penolakan penjualan Greenland.
  • 11:04 WIB. UAS - MUI akan memanggil Ustad Abdul Somad terkait pernyataan soal salib.

Reksa Dana Saham Dijagokan, Kenapa?

Reksa Dana Saham Dijagokan, Kenapa? - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Awal tahun 2019 dibuka dengan sangat menarik untuk para investor, karena ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok mereda. Hal ini mengurangi ketidakpastian arah pasar keuangan di tahun 2018 lalu. Bank Commonwealth merekomendasikan reksa dana saham sebagai pilihan investasi jangka panjang dengan imbal hasil yang optimal ketimbang reksa dana lainnya.

Pasalnya, di Januari 2019 lalu, The Fed memutuskan untuk menahan suku bunga acuan Amerika Serikat di angka 2,25%-2,50%, yang mengurangi kekhawatiran investor akan terlalu cepatnya kenaikan suku bunga Amerika Serikat. Selain itu, investor juga memiliki keyakinan bahwa perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok dapat terselesaikan, yang meredakan ketegangan mengenai ketidakpastian pasar keuangan global selama tahun 2018. Sebagai respon atas kebijakan The Fed tersebut, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan 7 Days Reverse Repo Indonesia di level 6,00%.

Prediksi mengenai perlambatan pertumbuhan ekonomi global di tahun 2019 pun cenderung menjadi sentimen yang cukup baik bagi emerging market, karena walaupun pertumbuhan developing market diprediksi akan melambat tetapi pertumbuhan emerging market diperkirakan akan tetap stabil dan cenderung membaik.

Indonesia sebagai salah satu negara emerging market dengan fundamental yang kuat memberikan tingkat return dan risiko yang menarik untuk menjadi tujuan investasi para investor asing. Hal ini terlihat dari total dana asing yang tercatat net buy sebesar Rp11,31 triliun di pasar saham Indonesia sepanjang bulan Januari 2019 dan penguatan mata uang Indonesia Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sebesar 2,88%.

Dari sisi domestik, fundamental Indonesia yang kuat terlihat dari terjaganya nilai inflasi sepanjang tahun 2018, tercatat sebesar 3,13%, yang menunjukkan kondisi perekonomian yang stabil. Sementara itu di bulan Januari lalu juga dibuka dengan kondisi politik Indonesia yang relatif stabil, setelah debat pertama antara capres-cawapres berakhir dengan baik.

Iklim investasi pada bulan Februari 2019 masih akan terfokus pada kelanjutan perundingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok untuk menyelesaikan perselisihan perdagangan diantara kedua negara ekonomi terbesar tersebut. Investor juga akan melihat perkembangan dari Brexit di Eropa, dan hasil laporan keuangan perusahaan tahun 2018 yang mulai dirilis bulan Februari 2019.

“Walaupun pertumbuhan ekonomi Global diperkirakan akan melambat di tahun 2019, tetapi pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi masih akan akan positif 5.0%-5.4% sepanjang tahun 2019 ditopang oleh daya beli konsumen yang terjaga dan dampak positif persiapan pemilu. Pertumbuhan ekonomi umumnya positif ke pertumbuhan pasar saham, sehingga untuk nasabah dengan profil risiko growth masih dapat mempertahankan alokasi saham sebesar 70% di dalam portofolio,” kata Head of Wealth Management & Client Growth Bank Commonwealth Ivan Jaya, dalam keterangan resminya, di Jakarta, Kamis (14/2/2019). 

Meski demikian, Ivan menyebutkan ada beberapa agenda yang masih harus diperhatikan seperti Perkembangan politik Inggris, terutama menjelang persetujuan proposal Brexit oleh Parlemen Inggris, pertumbuhan ekonomi global yang melambat, yang dimotori oleh perlambatan ekonomi Amerika Serikat dan Tiongkok, dan jelang Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden Indonesia tahun 2019.

Untuk dapat mengoptimalkan investasi para nasabah, Bank Commonwealth menyediakan aplikasi CommBank SmartWealth yang merupakan aplikasi pertama di Indonesia yang berfokus pada solusi wealth management secara komprehensif (The first comprehensive Wealth Management application in the market) dan dilengkapi dengan fitur robo-advisory yang memberikan rekomendasi alokasi aset investasi untuk membantu mengoptimalkan investasi nasabah sesuai dengan profil risikonya di mana saja dan kapan saja. Aplikasi ini dapat membantu para nasabah mengantisipasi dampak dari perubahan kondisi ekonomi khususnya kondisi pasar dan mengoptimalkan investasi mereka.

Aplikasi CommBank SmartWealth memudahkan nasabah memonitor pertumbuhan seluruh portofolio produk wealth management yang mencakup produk investasi seperti reksadana dan obligasi (bonds), asuransi (bancassurance), dan tabungan serta deposito kapan saja dan di mana saja. CommBank SmartWealth juga memberikan notifikasi berita perkembangan pasar domestik dan global secara reguler dan fitur messaging untuk berkomunikasi dengan relationship manager. 

“Keunikan aplikasi ini adalah di fitur robo-advisory. Dengan fitur tersebut, nasabah dapat memantau portofolio mereka dan dapat mengoptimalkan investasi dengan cara yang sederhana (simple), cerdas (smart), dan terintegrasi (integrated), di mana saja dan kapan saja. Dengan teknologi ini nasabah benar-benar mendapatkan fleksibilitas tinggi dalam mengoptimalkan portofolio investasi mereka di waktu dan tempat yang nyaman bagi nasabah,” tutup Ivan.

Tag: Reksa Dana, PT Bank Commonwealth

Penulis/Editor: Annisa Nurfitriyani

Foto: Unsplash/rawpixel

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,820.93 3,782.86
British Pound GBP 1.00 17,441.04 17,266.80
China Yuan CNY 1.00 2,034.56 2,014.40
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,330.00 14,188.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,718.61 9,620.88
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,827.15 1,808.98
Dolar Singapura SGD 1.00 10,354.05 10,249.96
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,904.87 15,745.84
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,435.63 3,398.32
Yen Jepang JPY 100.00 13,462.98 13,325.82

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6295.738 -0.977 651
2 Agriculture 1349.159 -17.863 21
3 Mining 1600.305 -2.201 49
4 Basic Industry and Chemicals 848.690 -0.631 72
5 Miscellanous Industry 1151.944 -0.538 49
6 Consumer Goods 2425.964 18.526 53
7 Cons., Property & Real Estate 504.801 0.125 80
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1229.883 12.971 74
9 Finance 1260.435 -9.035 91
10 Trade & Service 788.732 -1.689 162
No Code Prev Close Change %
1 DIGI 1,685 2,000 315 18.69
2 DAYA 304 360 56 18.42
3 ARTA 340 390 50 14.71
4 VINS 96 109 13 13.54
5 JKON 478 540 62 12.97
6 FORU 89 100 11 12.36
7 COWL 200 220 20 10.00
8 CCSI 266 292 26 9.77
9 DWGL 172 188 16 9.30
10 PSDN 154 168 14 9.09
No Code Prev Close Change %
1 PDES 1,330 1,000 -330 -24.81
2 BLUE 740 635 -105 -14.19
3 FISH 2,890 2,500 -390 -13.49
4 ITIC 875 780 -95 -10.86
5 IBFN 222 202 -20 -9.01
6 APEX 575 525 -50 -8.70
7 ICON 108 99 -9 -8.33
8 ARMY 232 214 -18 -7.76
9 MKNT 57 53 -4 -7.02
10 KBLM 338 316 -22 -6.51
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 4,180 4,100 -80 -1.91
2 MDKA 5,750 5,975 225 3.91
3 MCOR 174 174 0 0.00
4 PGAS 1,995 1,920 -75 -3.76
5 TLKM 4,340 4,470 130 3.00
6 MNCN 1,275 1,260 -15 -1.18
7 ERAA 1,930 1,875 -55 -2.85
8 BTPS 3,350 3,200 -150 -4.48
9 MAMI 89 90 1 1.12
10 BMRI 7,350 7,375 25 0.34