Portal Berita Ekonomi Selasa, 23 April 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 15:47 WIB. Pelindo I - DPS dan IKI mulai mengerjakan Tug Boat pesanan Pelindo I.
  • 15:44 WIB. BTN - Kredit BTN tumbuh sebesar Rp242,13 triliun di triwulan I 2019.
  • 14:12 WIB. Suspensi - BEI suspensi saham Kertas Basuki Racmat Indonesia Tbk (KBRI).
  • 13:59 WIB. Perindo - Perindo menggelar aksi menukar sampah dengan ikan konsumsi.
  • 13:16 WIB. Migas - Elnusa gunakan teknologi nodal untuk tingkatkan kualitas eksplorasi migas. 
  • 12:11 WIB. E-Commerce - Gojek rambah bisnis e-commerce dengan hadirkan fitur layanan Go-Mall. 
  • 12:10 WIB. Surplus - Sari Roti surplus Rp64,8 miliar di kuartal pertama tahun 2019. 
  • 12:06 WIB. Holding - Kementerian BUMN menargetkan pembentukan holding penerbangan rampung pada 2019.
  • 12:06 WIB. BBM - Pertumbuhan konsumsi BBM bergerak dinamis sepanjang Januari-April 2019.
  • 12:02 WIB. IHSG - IHSG ditutup hijau 0,69% ke level 6.458,86 di akhir sesi I.
  • 11:57 WIB. BNI - BNI membidik penambahan jumlah kartu debit sebanyak 100.000 keping hingga akhir tahun ini.
  • 11:56 WIB. BNI - BNI menargetkan dapat menambah sekitar 5 juta rekening baru pada tahun ini.

Hingga 2030, Indonesia Tak Bisa Lepas dari Impor Jagung, Kata Peneliti

Hingga 2030, Indonesia Tak Bisa Lepas dari Impor Jagung, Kata Peneliti - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Produksi jagung nasional berdasarkan statistik pertanian 2018 terus naik. Produksi jagung mencapai 19 juta ton pada 2014; 19,6 juta ton pada 2015; 23,6 juta ton pada 2016; 28,3 juta ton pada 2017; dan 30 juta ton pada 2018.

Namun demikian, konsumsinya jauh lebih tinggi, sehingga terpaksa impor. Konsumsi jagung mencapai 29,6 juta ton pada 2014; 45,6 juta ton pada 2015; 49,6 juta ton pada 2016; 56,6 juta ton pada 2017; dan 60 juta ton pada 2018. Alhasil, Indonesia masih mengimpor jagung sebesar 3,3 juta ton pada 2014; 3,37 juta ton pada 2015; 3,5 juta ton pada 2016; 1,3 juta ton pada 2017; dan 714.504 ton pada tahun lalu.

Peneliti Visi Teliti Saksama, Nanug Pratomo mengatakan, Indonesia hingga 2030 nanti diperkirakan masih belum bisa memenuhi kebutuhan jagung secara mandiri karena permintaan terus meningkat, terutama untuk kebutuhan pakan ternak.

"Saya mengutip salah satu studi, kami lihat hasil proyeksi menunjukkan hingga mendekati 2029-2030 masih akan terjadi defisit atas produksi dalam negeri di bawah dari permintaan domestik," katanya dalam diskusi "Data Jagung yang Bikin Bingung" di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (21/2/2019).

Baca Juga: Kementan Tegaskan Produksi Jagung Mencukupi Kebutuhan Pakan

Baca Juga: Kubu Prabowo: Impor Jagung Turun, Tapi Kok Impor Gandum Naik?

Ditambahkan, kebutuhan jagung untuk pakan ternak trennya akan terus naik, sementara produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi. Apalagi, jagung tak hanya diperlukan oleh produsen pakan ternak. Peternak kecil juga membutuhkannya untuk memproduksi pakan sendiri guna menekan biaya pakan jadi yang mahal.

Mengacu data pada 2014-2018 lalu, konsumsi jagung untuk pakan mencapai 73% dari total konsumsi pada 2014, 48,9% total konsumsi pada 2015, 50% total konsumsi di 2016, 49% total konsumsi 2017, dan 50% total konsumsi 2018. Sisanya untuk bibit, bahan makanan, olahan bukan makanan, dan tercecer.

"Enggak semua peternak kita mampu beli hasil (pakan) industri pabrikan. Ada peternak yang mau, enggak mau mengolah sendiri, membuat pakannya sendiri yang butuh jagung mentah," tambah dia. 

Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyatakan, akurasi data dan neraca jagung penting sebagai dasar pengambil kebijakan untuk komoditas pangan strategis seperti jagung. Menurutnya, dalam pengambilan keputusan rapat koordinasi terbatas di Kemenko Perekonomian seperti untuk komoditas pangan strategis jagung, apakah perlu impor atau tidak, ada beberapa kepentingan yang harus dijaga.

"Kepentingan yang harus dijaga adalah kepentingan produsen, yaitu petani jagung. Di sisi lain, ada kepentingan konsumen, yaitu masyarakat, termasuk peternak yang menjadikan jagung sebagai pakan ternak. Ini tidak mudah menyeimbangkannya  karena ada kepentingan yang berbeda antara produsen dan konsumen," kata dia.

Ia mengingatkan jika harga jagung tinggi, maka akan merugikan produsen atau petani jagung, tetapi bila harga terlalu rendah, akan merugikan produsen atau petani jagung.

Tag: Jagung, Impor

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Rosmayanti

Foto: Antara/Anis Efizudin

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,773.33 3,735.70
British Pound GBP 1.00 18,375.19 18,187.78
China Yuan CNY 1.00 2,109.36 2,088.49
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,150.00 14,010.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,087.54 9,986.33
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,803.65 1,785.69
Dolar Singapura SGD 1.00 10,436.64 10,331.86
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,920.17 15,755.65
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,426.15 3,388.15
Yen Jepang JPY 100.00 12,659.93 12,531.31

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6414.743 -92.478 632
2 Agriculture 1465.003 -23.397 21
3 Mining 1781.165 -2.123 47
4 Basic Industry and Chemicals 831.329 -16.797 71
5 Miscellanous Industry 1307.550 -48.206 46
6 Consumer Goods 2475.827 -70.443 52
7 Cons., Property & Real Estate 491.877 -6.552 75
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1148.843 -15.603 73
9 Finance 1300.817 -9.558 91
10 Trade & Service 809.674 -1.726 156
No Code Prev Close Change %
1 JAYA 134 168 34 25.37
2 HRME 374 466 92 24.60
3 ESTI 94 109 15 15.96
4 RAJA 262 302 40 15.27
5 MDLN 260 286 26 10.00
6 IKBI 254 278 24 9.45
7 CSAP 585 640 55 9.40
8 LUCK 780 840 60 7.69
9 VOKS 260 280 20 7.69
10 FREN 290 312 22 7.59
No Code Prev Close Change %
1 KIOS 1,100 930 -170 -15.45
2 MAYA 8,100 7,000 -1,100 -13.58
3 IIKP 144 125 -19 -13.19
4 PTIS 306 266 -40 -13.07
5 AHAP 69 61 -8 -11.59
6 ABBA 163 147 -16 -9.82
7 LMPI 155 140 -15 -9.68
8 BMSR 138 125 -13 -9.42
9 INTD 166 151 -15 -9.04
10 JSKY 1,185 1,080 -105 -8.86
No Code Prev Close Change %
1 HMSP 3,630 3,440 -190 -5.23
2 MABA 55 52 -3 -5.45
3 JAYA 134 168 34 25.37
4 FREN 290 312 22 7.59
5 BBRI 4,460 4,440 -20 -0.45
6 CPRI 177 168 -9 -5.08
7 TLKM 3,860 3,780 -80 -2.07
8 BBCA 28,125 28,125 0 0.00
9 ANTM 885 855 -30 -3.39
10 WIKA 2,420 2,380 -40 -1.65