Portal Berita Ekonomi Rabu, 20 Maret 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 12:07 WIB. BNI Syariah - BNI Syariah-Masgroup bekerja sama biayai perumahan di Bogor.
  • 12:01 WIB. IHSG - IHSG ditutup hijau 0,07% ke level 6.484,61 di akhir sesi I. 

Ekspor Diramal Bakal Terdongkrak dengan Adanya IA-CEPA

Ekspor Diramal Bakal Terdongkrak dengan Adanya IA-CEPA - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Penandatanganan naskah kerja sama Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) antara Indonesia dan Australia akan membuka peluang ekspor Indonesia lebih besar.  Australia pun dipandang sebagai pasar potensial yang mampu menyerap produk-produk unggulan Indonesia.  Kerjasama ini diharapa bisa menjadi solusi juga terhadap produk-produk unggulan Indonesia yang tengah diadang di negara-negara lain. Sejumlah kalangan mengungkapkan optimismenya terhadap penandatanganan perjanjian yang sampan berlarut 9 tahun lamanya itu.

 

“Selama ini kan Australia bukan pasar yang mature buat Indonesia. Kurang dilihat. Dengan IA-CEPA bisa jadi peluang,” ujar Ekonom Universitas Indonesia, Lana Soelistianingsih, dalam keterangan resmi, di Jakarta.

 

Ia  mengapresiasi kesuksesan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam menjalin kerja sama dengan Australia melalui IA-CEPA. Kerja sama free trade agreement kedua negara diharapkan bisa memacu ekspor Indonesia ke Negeri Kanguru. Australia sendiri saat ini hanya menempati posisi ke-17 sebagai negara tujuan ekspor nonmigas Indonesia. Di sisi lain, Lana pun mengingatkan agar tiap pemangku kepentingan, memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas dengan Negeri Kanguru tersebut secara saksama. 

 

Komoditas yang menjadi perhatian Lana untuk bisa gencar diekspor ke Australia tak lain adalah CPO. Masalahnya, saat ini minyak sawit Indonesia tengah menghadapi banyak hambatan nontarif yang membuat perdagangannya mengalami kontraksi. Dengan adanya IA-CEPA, Lana berharap pengiriman ekspor minyak sawit dapat kembali bergariah karena mendapatkan pasar baru di Australia.

 

“Harus diapresiasi. Ini sebagai upaya pemerintah untuk membuat pasar-pasar baru juga kan. Jangan sampai terulang kembali kejadian-kejadian perjanjian perdagangan bebas yang lalu di mana setelah naskah kerja sama ditandatangani, justru aliran barang impor lebih kencang daripada pemanfaatan ekspor, “ selorohnya, berharap semua pihak memanfaatkan perjanjian ini.

 

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus, mengungkapkan apresiasi atas rampungnya IA-CEPA yang telah memakan waktu hingga 9 tahun itu. Menurutnya, IA-CEPA bisa menjadi peluang untuk mengembangkan hubungan antar negara, salah satunya dalam hal perdagangan.

 

“IA-CEPA ini sebenarnya bisa jadi peluang untuk mengembangkan ekspor, untuk meminimalisir defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Australia, untuk meningkatkan output industri, ya segala macem lah. Peluang sebenarnya,” kata Heri.

 

Dibalik peluang tersebut, Heri menyoroti jika adanya IA-CEPA juga menjadi tantangan sendiri. Pasalnya, daya saing produk-produk Indonesia yang nantinya membanjiri pasar Australia itu patut diperhatikan.

 

“Produk kita sudah cukup kompetitif belum di sana? Meskipun sudah diberikan keringanan tarif misalnya. Kalau kita lebih kompetitif, itu berarti bisa meningkatkan ekspor yang cukup signifikan,” paparnya.

 

Heri melanjutkan, tantangan kedua yang akan dihadapi adalah tentang persyaratan non-tariff measure (NTM), atau aturan-aturan non tarif yang ditetapkan oleh Australia. Dalam pandangan Heri, untuk melindungi produk dalam negeri, suatu negara cenderung mengeluarkan banyak NTM tarif ketika aturan terkait tarif telah diminimalkan.

 

“Jadi aturan-aturan non tarif itu, itu justru yang menyulitkan negara-negara berkembang untuk masuk ke negara maju. Nah, kita sudah bisa belum menghadapi NTM-nya? Sudah bisa menghadapi itu belum? Itu yang jadi pekerjaan rumah,” jelasnya.

 

Namun Heri optimistis, dengan produk yang kompetitif dan bisa menembus persyaratan NTM, maka ekspor Indonesia ke Australia bisa ikut terdongkrak.

 

Dari pelaku usaha, Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Rosan P Roeslani memprediksi, dengan adanya penandatanganan IA-CEPA, perdagangan Indonesia ke Australia dapat meningkat sekitar 17—19% per tahun. Ia menjelaskan, hal ini disebabkan oleh penurunan tarif masuk yang diberikan Australia dan membuat produk Indonesia berdaya saing tinggi dengan produk impor lain di pasar Australia.

 

“Dengan ini barang-barang kita juga jadi lebih kompetitif karena penurunan dari tarif baik secara signifikan sampai ke nol juga. Itu juga barang-barang kita bisa bersaing dengan produk dari negara lain di pasar Australia,” ujar Rosan di Jakarta, Senin (4/3).

 

Perjanjian Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/ IA-CEPA)  resmi disahkan kedua negara, Senin (4/3). Menteri Perdagangan Indonesia Enggartiasto Lukita serta Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Simon Bimingham menandatangani perjanjian tersebut disaksikan Wakil Presiden Indonesia, Jusuf Kalla, di Hotel JS Luwansa, Jakarta Selatan.

 

Enggar menyebutkan, perjanjian dagang dengan Australia bisa dikategorikan sebagai perjanjian dagang paling alot yang pernah dijalani. Ini lantaran perundingan kesepakatan ini memakan waktu sembilan tahun.

 

“Saya menyaksikan dan mengembangkan beberapa negosiasi selama dua tahun terakhir. IA-CEPA bisa dibilang salah satu perjanjian dagang paling alot. Jadi, setelah 9 tahun berunding, kami akhirnya mencapai momen ini. Selamat untuk kita semua,” tutur Enggar dalam acara seremonial penandatanganan IA-CEPA di Jakarta, Senin (4/3).

 

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Iman Pambagyo sempat menjelaskan, IA-CEPA memiliki beberapa keuntungan bagi Indonesia. Dalam hal perdagangan barang, ekspor Indonesia akan meningkat ke Australia karena Australia telah memberikan komitmen untuk mengeliminasi bea masuk impor untuk seluruh pos tarifnya menjadi 0%.

 

Di mana perjanjian IA-CEPA akan mengeliminasi 100% tarif barang asal Indonesia ke Australia dan 94% tarif barang dari Australia ke Indonesia. Di bidang investasi dan pelayanan, kedua negara akan memiliki akses lebih, termasuk pergerakan bidang profesi. 

Tag: Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), Ekspor

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Annisa Nurfitriyani

Foto: Antara/Didik Suhartono

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,813.97 3,775.19
British Pound GBP 1.00 18,965.88 18,770.50
China Yuan CNY 1.00 2,131.41 2,110.25
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,302.00 14,160.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,112.94 10,011.12
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,821.93 1,803.82
Dolar Singapura SGD 1.00 10,577.62 10,471.82
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,228.48 16,065.94
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,511.42 3,473.14
Yen Jepang JPY 100.00 12,814.26 12,685.90

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6480.276 -29.171 628
2 Agriculture 1503.229 -7.168 21
3 Mining 1873.047 3.764 47
4 Basic Industry and Chemicals 893.501 -9.954 71
5 Miscellanous Industry 1289.313 -14.320 46
6 Consumer Goods 2662.032 -26.975 51
7 Cons., Property & Real Estate 461.343 1.179 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1174.299 -11.551 72
9 Finance 1244.347 -0.730 91
10 Trade & Service 829.161 2.341 155
No Code Prev Close Change %
1 MLPT 1,135 1,415 280 24.67
2 ATIC 825 990 165 20.00
3 JSKY 1,045 1,245 200 19.14
4 KPAL 262 312 50 19.08
5 MFMI 730 850 120 16.44
6 HDFA 156 180 24 15.38
7 MINA 720 825 105 14.58
8 TMAS 700 800 100 14.29
9 BALI 1,220 1,385 165 13.52
10 BBLD 442 496 54 12.22
No Code Prev Close Change %
1 INCF 386 290 -96 -24.87
2 JAYA 268 202 -66 -24.63
3 INCI 645 560 -85 -13.18
4 KDSI 1,175 1,025 -150 -12.77
5 BCAP 189 168 -21 -11.11
6 CSAP 640 575 -65 -10.16
7 KBLV 520 470 -50 -9.62
8 MFIN 1,100 995 -105 -9.55
9 AKRA 5,300 4,820 -480 -9.06
10 SAPX 740 675 -65 -8.78
No Code Prev Close Change %
1 JAYA 268 202 -66 -24.63
2 SIMA 394 396 2 0.51
3 BNLI 980 920 -60 -6.12
4 BMRI 7,100 7,400 300 4.23
5 MYRX 105 103 -2 -1.90
6 LPPF 4,100 4,010 -90 -2.20
7 BBRI 4,040 3,990 -50 -1.24
8 AKRA 5,300 4,820 -480 -9.06
9 KBLI 316 352 36 11.39
10 TLKM 3,830 3,780 -50 -1.31