Portal Berita Ekonomi Kamis, 21 Maret 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 20:49 WIB. Telkom - Telkom dan Bakamla kerja sama awasi sistem komunikasi kabel laut.
  • 20:49 WIB. Minyak Goreng - Industri Nabati Lestari akan mengekspor 10.500 ton minyak goreng ke Pakistan.
  • 20:49 WIB. Pertamina - Pertamina mulai proses pembangunan proyek pipa gas di Blok Rokan.
  • 20:48 WIB. BNI Syariah - BNI Syariah mengincar potensi bisnis halal healthcare.
  • 20:48 WIB. PTPN - PTPN optimistis dapat memasok kebutuhan CPO dalam negeri.
  • 20:47 WIB. Trans Sumatera - Tol Trans Sumatra masih terhambat penolakan pemilik lahan.
  • 20:47 WIB. WSKT - Waskita menganggarkan capex sebesar Rp26 triliun pada 2019.
  • 20:46 WIB. WSKT - Waskita menyiapkan dana hingga Rp2 triliun untuk melunasi obligasi.
  • 16:37 WIB. Toyota - Toyota tertarik ekspor SUV dan mobil hibrida ke Australia.

Benarkah Kata Prabowo yang Bilang BUMN Merugi?

Benarkah Kata Prabowo yang Bilang BUMN Merugi? - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Menarik jika kita simak kritik calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, terhadap pemerintah atas kondisi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini. Menurutnya, BUMN yang dikelola pemerintah kolaps alias bangkrut. Dikatakan, negara membiarkan BUMN saat ini dalam keadaan yang bisa dibilang bangkrut dan kalau untung pun tidak akan besar-besar amat. Apa benar kondisinya begitu darurat?

Hingga semester l-2017 lalu sejumlah BUMN masih mencatatkan kerugian sebesar Rp5,852 triliun. Jika dibandingkan 2016, jumlah BUMN yang mengalami kerugian berkurang dari 27 di semester I-2016 menjadi 24 di semester I-2017. Namun, dari sisi nilai kerugian bertambah, dari Rp5,826 triliun di semester I-2016 menjadi Rp5,852 triliun di semester I-2017.

Sebanyak 24 BUMN merugi karena berbagai faktor. Misalnya lemahnya daya saing seperti yang dialami: PT Garuda Indonesia, Perum Bulog, PT Krakatau Steel, PT PAL, PT Dok Perkapalan Surabaya, PT Indofarma, PT Balai Pustaka, PT Boma Bisma Indra, Perum PEN, dan PT Berdikari. 

Baca Juga: Ini Pembelaan Kementerian BUMN Soal Utang yang Terus Merangkak Naik

Atau rugi karena memang masih dalam tahap “penyembuhan” atau restrukturisasi seperti yang terjadi pada PT Nindya Karya, PT Merpati Nusantara Airlines, PT Kertas Kraft Aceh, PT Survey Udara Penas, PT Industri Sandang Nusantara, PT Iglas, PT Kertas Leces, PT Djakarta Lioyd, PT Istaka Karya, PT Varuna Tirta Prakarsya, dan PT Primissima. 

Toto Pranoto, Managing Director  LM FEB UI menilai kerugian BUMN karena uncontrollable factor. Seperti diketahui, BUMN juga mengemban tugas Negara dalam pelayanan publik dengan menjalankan misi PSO (public service obligation) .Penugasan ini terkadang membuat mereka sukar bergerak dan kesulitan memperbaiki kinerja keuangan .

Pertamina, misalnya. Pada laporan keuangan semester-l tahun 2018 mengalami penurunan laba hingga 73 persen meskipun masih mendapatkan untung Rp5 triliun. Penurunan kinerja ini terutama karena Pertamina harus menanggung kebijakan BBM Satu Harga.

Demikian pula PLN juga tercatat rugi Rp5,3 triliun pada semester I-2018. Hal ini dipicu oleh kebijakan harga subsidi yang ditetapkan pemerintah .Padahal baik PLN maupun Pertamina sepanjang tahun 2018 sudah didera risiko kerugian karena volatilitas Rupiah. Sebagian besar financing PLN dan Pertamina dalam bentuk valas sementara penjualan mereka di domestik dalam bentuk Rupiah.

Baca Juga: BBM Satu Harga Bikin Pertamina Bangkrut?

"Artinya BUMN terkadang mengalami kerugian karena faktor-faktor yang tidak dapat mereka kendalikan (uncontrollable factors) yang mungkin tidak dihadapi oleh korporasi non BUMN," kata dia kepada Warta Ekonomi belum lama ini.

Contoh lain yang mencolok, hampir semua BUMN Karya di laporan keuangan tahun 2017-2018 menunjukkan kinerja keuangan yang sangat bagus. Namun harga saham mereka di pasar modal mengalami tekanan hebat. Kenapa? Karena market tidak yakin dengan kualitas pengelolaan cashflow akibat pembayaran piutang pembangunan infrastruktur dari pemerintah terutama jalan tol yang berlangsung sangat lambat. Ditambah lagi dengan divestasi aset yang berjalan lamban seperti yang dialami oleh PT Waskita KaryaTbk," tambah dia.

Dalam kasus lain, Garuda Indonesia mengalami kerugian sebesar Rp1.67 triliun pada semester 1 tahun 2018. Kerugian ini juga dipicu oleh uncontrollable factor yaitu kenaikan harga bahan bakar avtur (hampir 40% dari struktur biaya GA) namun juga oleh ketidak mampuan manajamen Garuda dalam manajemen rute terutama di long distance serta tidak seimbangnya portfolio pendapatan terutama masih rendahnya pendapatan kargo. 

Hal ini berbeda dengan Singapore Airlines yang mampu menyeimbangkan pendapatan dari penumpang dan kargo. Hal ini juga mengindikasikan masih lemahnya pengelolaan BUMN karena kelemahan internal (controllable factors).

"Faktor kelemahan BUMN yang bersifat “controllable”  tersebut bersumber dari lambatnya antisipasi bisnis karena dinamika lingkungan yang berubah, kualitas SDM dan Leader yang kurang memadai, serta terlalu panjangnya birokrasi dalam pengambilan keputusan," jelas Toto.

Tag: Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Kumairoh

Foto: Antara/Reno Esnir

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,779.27 3,741.20
British Pound GBP 1.00 18,745.21 18,551.79
China Yuan CNY 1.00 2,120.12 2,098.88
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,173.00 14,031.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,153.54 10,049.00
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,806.03 1,787.91
Dolar Singapura SGD 1.00 10,529.72 10,420.35
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,206.83 16,037.43
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,493.47 3,455.06
Yen Jepang JPY 100.00 12,815.81 12,683.96

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6501.776 19.066 629
2 Agriculture 1481.617 -16.726 21
3 Mining 1884.733 2.495 47
4 Basic Industry and Chemicals 915.611 21.878 71
5 Miscellanous Industry 1284.362 -1.211 46
6 Consumer Goods 2659.055 -8.500 52
7 Cons., Property & Real Estate 466.708 6.035 74
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1164.975 0.327 72
9 Finance 1250.875 2.809 91
10 Trade & Service 827.602 -0.578 155
No Code Prev Close Change %
1 CAKK 216 270 54 25.00
2 COCO 336 420 84 25.00
3 STAR 88 106 18 20.45
4 GAMA 52 62 10 19.23
5 BACA 266 304 38 14.29
6 INPP 735 840 105 14.29
7 DART 300 336 36 12.00
8 SKBM 412 460 48 11.65
9 VRNA 125 137 12 9.60
10 YULE 183 200 17 9.29
No Code Prev Close Change %
1 ECII 1,100 825 -275 -25.00
2 SIMA 298 224 -74 -24.83
3 PNSE 760 575 -185 -24.34
4 TGKA 3,660 3,010 -650 -17.76
5 GLOB 416 352 -64 -15.38
6 PUDP 424 370 -54 -12.74
7 ITMA 765 700 -65 -8.50
8 MINA 870 800 -70 -8.05
9 BBLD 496 458 -38 -7.66
10 TFCO 680 630 -50 -7.35
No Code Prev Close Change %
1 HOME 100 102 2 2.00
2 NUSA 101 101 0 0.00
3 MNCN 825 795 -30 -3.64
4 PWON 685 705 20 2.92
5 FREN 324 308 -16 -4.94
6 STAR 88 106 18 20.45
7 CTRA 930 975 45 4.84
8 BBTN 2,390 2,520 130 5.44
9 BMRI 7,450 7,500 50 0.67
10 UNTR 27,825 27,800 -25 -0.09