Portal Berita Ekonomi Minggu, 15 Desember 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:08 WIB. Peringkat Kemudahan Berbisnis - Singapura (2), Malaysia (12), Thailand (21), China (31), India (63), Vietnam (70), Indonesia (73), Filipina (95)
  • 08:55 WIB. Peringkat Anti Korupsi - Singapura (3), Malaysia (61), India (78), China (87), Indonesia (89), Filipina (99), Thailand (99), Vietnam (117)

Benarkah Kata Prabowo Kalau BUMN Merugi?

Benarkah Kata Prabowo Kalau BUMN Merugi? - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Menarik jika kita simak kritik calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto, terhadap pemerintah atas kondisi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) saat ini. Menurutnya, BUMN yang dikelola pemerintah kolaps alias bangkrut. Dikatakan, negara membiarkan BUMN saat ini dalam keadaan yang bisa dibilang bangkrut dan kalau untung pun tidak akan besar-besar amat. Apa benar kondisinya begitu darurat?

Hingga semester l-2017 lalu sejumlah BUMN masih mencatatkan kerugian sebesar Rp5,852 triliun. Jika dibandingkan 2016, jumlah BUMN yang mengalami kerugian berkurang dari 27 di semester I-2016 menjadi 24 di semester I-2017. Namun, dari sisi nilai kerugian bertambah, dari Rp5,826 triliun di semester I-2016 menjadi Rp5,852 triliun di semester I-2017.

Sebanyak 24 BUMN merugi karena berbagai faktor. Misalnya lemahnya daya saing seperti yang dialami: PT Garuda Indonesia, Perum Bulog, PT Krakatau Steel, PT PAL, PT Dok Perkapalan Surabaya, PT Indofarma, PT Balai Pustaka, PT Boma Bisma Indra, Perum PEN, dan PT Berdikari. 

Baca Juga: Ini Pembelaan Kementerian BUMN Soal Utang yang Terus Merangkak Naik

Atau rugi karena memang masih dalam tahap “penyembuhan” atau restrukturisasi seperti yang terjadi pada PT Nindya Karya, PT Merpati Nusantara Airlines, PT Kertas Kraft Aceh, PT Survey Udara Penas, PT Industri Sandang Nusantara, PT Iglas, PT Kertas Leces, PT Djakarta Lioyd, PT Istaka Karya, PT Varuna Tirta Prakarsya, dan PT Primissima. 

Toto Pranoto, Managing Director  LM FEB UI menilai kerugian BUMN karena uncontrollable factor. Seperti diketahui, BUMN juga mengemban tugas Negara dalam pelayanan publik dengan menjalankan misi PSO (public service obligation) .Penugasan ini terkadang membuat mereka sukar bergerak dan kesulitan memperbaiki kinerja keuangan .

Pertamina, misalnya. Pada laporan keuangan semester-l tahun 2018 mengalami penurunan laba hingga 73 persen meskipun masih mendapatkan untung Rp5 triliun. Penurunan kinerja ini terutama karena Pertamina harus menanggung kebijakan BBM Satu Harga.

Demikian pula PLN juga tercatat rugi Rp5,3 triliun pada semester I-2018. Hal ini dipicu oleh kebijakan harga subsidi yang ditetapkan pemerintah .Padahal baik PLN maupun Pertamina sepanjang tahun 2018 sudah didera risiko kerugian karena volatilitas Rupiah. Sebagian besar financing PLN dan Pertamina dalam bentuk valas sementara penjualan mereka di domestik dalam bentuk Rupiah.

Baca Juga: BBM Satu Harga Bikin Pertamina Bangkrut?

"Artinya BUMN terkadang mengalami kerugian karena faktor-faktor yang tidak dapat mereka kendalikan (uncontrollable factors) yang mungkin tidak dihadapi oleh korporasi non BUMN," kata dia kepada Warta Ekonomi belum lama ini.

Contoh lain yang mencolok, hampir semua BUMN Karya di laporan keuangan tahun 2017-2018 menunjukkan kinerja keuangan yang sangat bagus. Namun harga saham mereka di pasar modal mengalami tekanan hebat. Kenapa? Karena market tidak yakin dengan kualitas pengelolaan cashflow akibat pembayaran piutang pembangunan infrastruktur dari pemerintah terutama jalan tol yang berlangsung sangat lambat. Ditambah lagi dengan divestasi aset yang berjalan lamban seperti yang dialami oleh PT Waskita KaryaTbk," tambah dia.

Dalam kasus lain, Garuda Indonesia mengalami kerugian sebesar Rp1.67 triliun pada semester 1 tahun 2018. Kerugian ini juga dipicu oleh uncontrollable factor yaitu kenaikan harga bahan bakar avtur (hampir 40% dari struktur biaya GA) namun juga oleh ketidak mampuan manajamen Garuda dalam manajemen rute terutama di long distance serta tidak seimbangnya portfolio pendapatan terutama masih rendahnya pendapatan kargo. 

Hal ini berbeda dengan Singapore Airlines yang mampu menyeimbangkan pendapatan dari penumpang dan kargo. Hal ini juga mengindikasikan masih lemahnya pengelolaan BUMN karena kelemahan internal (controllable factors).

"Faktor kelemahan BUMN yang bersifat “controllable”  tersebut bersumber dari lambatnya antisipasi bisnis karena dinamika lingkungan yang berubah, kualitas SDM dan Leader yang kurang memadai, serta terlalu panjangnya birokrasi dalam pengambilan keputusan," jelas Toto.

Baca Juga

Tag: Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Kumairoh

Foto: Antara/Reno Esnir

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,747.08 3,709.59
British Pound GBP 1.00 18,951.81 18,757.67
China Yuan CNY 1.00 2,014.21 1,993.88
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,051.91 13,912.09
Dolar Australia AUD 1.00 9,726.73 9,622.99
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,800.56 1,782.46
Dolar Singapura SGD 1.00 10,394.96 10,285.44
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,708.63 15,550.93
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,395.00 3,357.16
Yen Jepang JPY 100.00 12,830.45 12,701.63

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6197.318 57.921 668
2 Agriculture 1424.860 10.203 20
3 Mining 1528.809 26.762 50
4 Basic Industry and Chemicals 976.378 16.198 77
5 Miscellanous Industry 1215.025 42.951 50
6 Consumer Goods 2023.673 9.223 56
7 Cons., Property & Real Estate 506.323 -1.997 83
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1122.442 14.680 76
9 Finance 1313.749 10.641 90
10 Trade & Service 768.113 0.709 166
No Code Prev Close Change %
1 ZBRA 72 97 25 34.72
2 IFII 300 374 74 24.67
3 TAMU 260 324 64 24.62
4 DWGL 180 218 38 21.11
5 UNIT 153 182 29 18.95
6 TIRA 214 252 38 17.76
7 MEGA 5,750 6,750 1,000 17.39
8 BIRD 2,470 2,890 420 17.00
9 NICK 260 300 40 15.38
10 SINI 1,200 1,350 150 12.50
No Code Prev Close Change %
1 MAMI 79 52 -27 -34.18
2 IBFN 318 246 -72 -22.64
3 YULE 199 154 -45 -22.61
4 AMAG 302 234 -68 -22.52
5 LMSH 398 310 -88 -22.11
6 BIKA 197 160 -37 -18.78
7 BVIC 119 98 -21 -17.65
8 BKSW 172 142 -30 -17.44
9 PEGE 230 190 -40 -17.39
10 HERO 875 725 -150 -17.14
No Code Prev Close Change %
1 MNCN 1,485 1,590 105 7.07
2 IPTV 505 510 5 0.99
3 TLKM 3,950 3,990 40 1.01
4 BNLI 1,310 1,275 -35 -2.67
5 TCPI 6,175 6,200 25 0.40
6 REAL 266 298 32 12.03
7 ADRO 1,475 1,590 115 7.80
8 BBRI 4,250 4,280 30 0.71
9 ASII 6,550 6,850 300 4.58
10 ACES 1,590 1,550 -40 -2.52