Portal Berita Ekonomi Minggu, 17 November 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 08:35 WIB. World Digital Competitiveness Ranking - Singapura 2, Malaysia 26, Thailand 40, Filipina 55, Indonesia 56
  • 08:27 WIB. Global Innovation Ranking - Singapura 10, Malaysia 35, Vietnam 42, Thailand 43, Filipina 54, Brunei Darussalam 71, Indonesia 85, Kamboja 98
  • 08:17 WIB. Interbank Rate - Indonesia (5,50%), Vietnam (4,16%), Malaysia (3,40%), Singapura (1,77%), Thailand (1,38%)
  • 08:00 WIB. Cadangan Emas - Filipina (197,3 ton), Thailand (153,8 ton), Singapura (127,4 ton), Indonesia (78,5 ton), Malaysia (38,8 ton), Kamboja (12,4 ton), Myanmar (7,2 ton)

Angka Kegagalan Startup Tinggi, Ternyata Ini Lho Penyebabnya

Angka Kegagalan Startup Tinggi, Ternyata Ini Lho Penyebabnya - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Menurut riset dari Profesor Harvard Business School, Shikhar Ghosh terhadap 2 ribu startup yang didanai modal ventura, 95% di antaranya memiliki risiko kegagalan. Padahal, perusahaan-perusahaan pemula itu menghimpun setidaknya US$1 juta antara 2004 dan 2010. Angka itu menunjukkan, risiko kegagalan membangun perusahaan rintisan sangat tinggi.

Di Indonesia hal demikian juga terjadi. Dari 1.307 total startup yang didanai oleh Kemenristekdikti sejak 2015 hingga 2018, ada 749 startup yang sudah masuk ke industri dan 558 yang masih menyandang status calon startup. 40% dari 749 startup itu diklaim mengalami kegagalan.

Sebetulnya, hal apa yang menyebabkan para startup riskan terhadap kemungkinan gagal? Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Ristekdikti), Mohamad Nasir mengungkapkan ada tiga hal yang menyebabkan startup mengalami gagap jalan atau kegagalan.

Baca Juga: Kabar Gembira! Pemerintah Bakal Suntikkan Dana Rp1 Miliar Buat Startup Tanah Air

“Ternyata mereka tak pernah menghitung cost dan benefit kalau mau scale up (eskalasi),” ujar Nasir dalam Konferensi Pers beberapa hari lalu (5/4/2019).

Menurut Nasir, bila biaya produksi yang dikeluarkan lebih banyak daripada keuntungan yang didapat, sebaiknya startup tak melanjutkan produk itu. Sebab, biaya produksi harus lebih rendah dari keuntungan atau manfaat yang akan diperoleh.

Ia menambahkan, “Hal itu yang saya ajarkan kepada teknisi-teknisi (di startup binaan Kemenristekdikti).”

Dengan biaya yang lebih rendah dari manfaat, harga yang ditawarkan ke pasar pun harus kompetitif. Sehingga konsumen dapat menerima harga komersil dari produk itu.

“Biaya produksi harus lebih rendah dari manfaat, maka pricing-nya harus kompetitif,” imbuh Nasir.

Yang paling penting, ketahanan produknya harus berjangka panjang. Tampilan produknya pun harus baik karena hal itu yang pertama dilihat konsumen.

Nasir berujar, “Tampilannya (harus) baik, ini penting. Kadang orang tak perhatikan ini (pentingnya tampilan).”

Baca Juga: Tahun Ini, Kemenristekdikti Siapkan Dana untuk Scale Up Hingga 10 Startup

Sementara, Direktur Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) Kemenristek Dikti Retno Sumekar menilai, mayoritas startup bininaan dalam program PPBT Ristekdikti mati karena produknya yang tidak berbasis kebutuhan konsumen

“Untuk mengangkat supaya tidak mati, di situ pemerintah berperan. Kami lakukan penilaian, apakah startup sudah siap dikomersialkan? Atau masuk calon startup?” papar Retno.

Produk dari calon startup perlu disempurnakan supaya bisa dipasarkan ke konsumen. Di situlah mereka menerima pembinaan dan masukan dari para reviewer program, supaya startup tak mati di tengah jalan. Fakta-fakte tersebut menunjukkan, membangun startup itu tidaklah mudah, banyak risiko yang harus dihadapi oleh tim pendirinya.

Baca Juga

Tag: Startup, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti)

Penulis: Tanayastri Dini Isna

Editor: Clara Aprilia Sukandar

Foto: Tanayastri Dini Isna

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,770.39 3,732.68
British Pound GBP 1.00 18,217.14 18,034.47
China Yuan CNY 1.00 2,017.72 1,996.78
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,139.35 13,998.66
Dolar Australia AUD 1.00 9,604.86 9,506.49
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,805.75 1,787.60
Dolar Singapura SGD 1.00 10,391.23 10,282.55
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,592.88 15,432.12
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,408.72 3,372.36
Yen Jepang JPY 100.00 13,023.26 12,890.11

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6128.345 29.395 661
2 Agriculture 1385.589 -12.154 20
3 Mining 1478.551 26.308 49
4 Basic Industry and Chemicals 954.622 15.563 76
5 Miscellanous Industry 1178.252 -5.733 50
6 Consumer Goods 2066.971 -6.238 54
7 Cons., Property & Real Estate 508.022 -0.825 82
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1141.280 5.153 75
9 Finance 1264.100 13.290 90
10 Trade & Service 786.548 -7.094 165
No Code Prev Close Change %
1 CITY 180 242 62 34.44
2 MPOW 182 244 62 34.07
3 SINI 476 595 119 25.00
4 BOSS 240 300 60 25.00
5 ESIP 276 344 68 24.64
6 POLA 900 1,100 200 22.22
7 NICK 276 334 58 21.01
8 BRAM 11,725 14,050 2,325 19.83
9 KICI 340 400 60 17.65
10 HRTA 292 340 48 16.44
No Code Prev Close Change %
1 SQMI 496 372 -124 -25.00
2 DEAL 1,150 865 -285 -24.78
3 PURE 1,130 850 -280 -24.78
4 ENVY 2,750 2,070 -680 -24.73
5 JSKY 730 550 -180 -24.66
6 IRRA 590 450 -140 -23.73
7 ARMY 90 71 -19 -21.11
8 RIMO 67 55 -12 -17.91
9 FORZ 326 268 -58 -17.79
10 POSA 71 60 -11 -15.49
No Code Prev Close Change %
1 MAMI 242 244 2 0.83
2 BBRI 3,940 4,090 150 3.81
3 MNCN 1,405 1,410 5 0.36
4 TCPI 4,490 4,780 290 6.46
5 PURE 1,130 850 -280 -24.78
6 PSAB 264 262 -2 -0.76
7 RIMO 67 55 -12 -17.91
8 BRPT 1,025 1,075 50 4.88
9 SLIS 5,350 5,100 -250 -4.67
10 SKYB 89 79 -10 -11.24