Portal Berita Ekonomi Kamis, 18 April 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 17:07 WIB. AMMDes - Menperin: AMMDes bisa buat ekonomi merata.
  • 17:06 WIB. ABBA - Usai pemilu, saham ABBA amblas 8,43% di akhir pekan ini. 
  • 17:06 WIB. B30 - Mandatori B30 segera diterapkan.
  • 17:05 WIB. UE - Uni Eropa-AS di ambang perang dagang imbas sengketa subsidi boeing.
  • 17:05 WIB. LPCK - Pemegang saham setujui rights issue Lippo Cikarang sebesar US$200 juta.
  • 17:04 WIB. Impor - Soal impor bawang putih, Menko Darmin akan memanggil Mendag.
  • 17:04 WIB. Rights Issue -  Lippo Karawaci akan rights issue US$730 juta. 
  • 17:03 WIB. Investasi - Menperin kebut genjot investasi industri pascapilpres.
  • 17:03 WIB. Bursa - Nilai investor asing beli berish sore ini mencapai Rp1,43 triliun. 
  • 17:01 WIB. Rugi - Multistrada Arah Sarana (MASA) bukukan rugi US$8,18 juta. 
  • 17:00 WIB. Obligasi - Oto Multiartha akan terbitkan obligasi sebesar Rp1 triliun. 
  • 16:02 WIB. IHSG - IHSG menguat 0,40% ke level 6.507,22 di akhir sesi II.
  • 15:46 WIB. Rupiah - Rupiah menguat 0,28% ke level Rp14.045 per dolar AS. 
  • 15:16 WIB. Facebook - Facebook uji tampilan lini masa mirip Instagram Stories.
  • 15:14 WIB. China - Sudah ke Bulan, China kini mau ke Mars dan Jupiter.

Open Innovation Tingkatkan Akses Pasar Kain Tenun

Open Innovation Tingkatkan Akses Pasar Kain Tenun - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Kain tenun merupakan warisan budaya Indonesia, sayangnya keberadaannya tidak sepopuler kain batik. Apalagi saat ini produk kain tenun tidak diakui UNESCO sebagai warisan budaya Indonesia. Sehingga agar dapat diterima masyarakat, diperlukan adanya inovasi baik dari segi desain maupun pewarnaan. Selain itu inovasi juga membantu peningkatan akses pasar kain tenun. Inovasi yang dilakukan tentunya harus tetap berada pada pakem-pakem budaya yang telah ditentukan.

Selama ini inovasi dilakukan secara tertutup, dalam arti hanya penenun yang memodifikasi desain dan pewarnaan. Padahal agar dapat memenuhi selera pasar diperlukan adanya kolaborasi antara penenun dan pelanggan, yang dikenal dengan open innovation (inovasi terbuka). 

Hali inilah yang mendasari kajian strategis yang dilakukan oleh dosen  Universitas Indonesia, diketuai oleh Dr. Fibria Indriati selama setengah tahun, mulai dari pertengahan tahun lalu. Febria melakukan kajian dibeberapa wilayah dan melihat salah satu daerah di NTT berhasil dalam melakukan inovasi terbuka.

Baca Juga: Ekspor Produk Tenun dan Batik Ditargetkan Naik 10%

"Kami menemukan bahwa para penenun yang berada di Kabupaten Sikka, NTT telah melakukan inovasi terbuka dalam rangka meningkatkan akses pasar dan nilai ekonomis kain tenun. Model inovasi terbuka yang dilakukan adalahstrategi inovasi kolaboratif dan strategi Inovasi berbasis jejaring," kata dia dalam keterangan tertulis, Senin (15/4/2019).

Strategi inovasi kolaboratif dilakukan oleh para penenun dengan membentuk kolaborasi dengan beberapa lembaga yang memiliki banyak pengetahuan seperti rumah desain, universitas dan lembaga peneliti serta pemerintah. Kolaboratif yang dilakukan terkait dengan desain dan teknik pewarnaan. Strategi ini mampu menghasilkan kain tenun dengan motif kontemporer yang memiliki nilai ekonomis yang dapat diterima secara luas (bukan hanya masyarakat NTT). 

Dalam hal pewarnaan, teknik yang diterapkan selain pewarna alami, para penenun menggunakan pewarna kimia yang mempersingkat waktu penyelesaian kain tenun.  Selain itu juga kolaboratif strategi inovasi dilakukan dalam hal peralatan menenun, dimana bekerja sama dengan universitas, perusahaan dan lembaga pemerintah dalam penyediaan alat pemintal benang tenun.

SedangKan strategi inovasi berbasis jejaring dilakukan oleh para ketua kelompok tenun dan penenun dengan menjalin jejaring baik dengan perorangan (desainer), komunitas tenun dan pecinta budaya baik yang berada di dalam negeri atau yang berada di luar negeri.

Model open innovation telah terbukti dapat mempercepat  proses pengerjaan kain tenun dan meningkatkan akses pasar karena kain tenun yang diproduksi dapat diterima oleh masyarakat secara luas. Namun terdapat tantangan dari open innovation ini, menurut Alfonsa Horeng, ketua kelompok Lepo Lerun Desa Nita, open innovation tidak memenuhi nilai adat yang telah diwariskan oleh leluhur sehingga kain yang dihasilkan tidak memiliki nilai bagi masyarakat adat. 

Hal ini juga ditegaskan oleh Daniel David, ketua kelompok tenun Na’ni House. Menueutnya kain-kain dengan motif kontemporer dan pewarnaan kimia tidak memiliki nilai adat, tetapi memiliki nilai ekonomis, yang dapat membuka akses pasar bagi kain tenun dan penenun itu sendiri.

"Meskipun demikian, identitas kain tenun Sikka tidak boleh berubah,  oleh sebab itu dalam pengembangan kain tenun, meskipun motif dan pewarnaan dapat disesuaikan dengan keinginan pelanggan, tetapi harus tetap membawa ciri dari kain tenun Sikka dan tidak boleh dicampur adukkan," katanya.

Tag: kain tenun, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Kumairoh

Foto: Antara/Prasetyo Utomo

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,756.57 3,718.34
British Pound GBP 1.00 18,368.14 18,184.19
China Yuan CNY 1.00 2,105.18 2,084.26
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,086.00 13,946.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,113.75 10,011.83
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,795.40 1,777.49
Dolar Singapura SGD 1.00 10,408.63 10,303.66
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,908.73 15,749.22
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,399.95 3,362.91
Yen Jepang JPY 100.00 12,583.53 12,455.12

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 href="Download_Data/" />Download_Data/ - Sep
2 href="Market_Summary/" />Market_Summary/ - Dec
3 href="MockTestReportingDRC/" />MockTestReportingDRC/ - Feb
4 href="PSPNDC/" />PSPNDC/ - Mar
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10