Serangan Virus Malware di Asia Pasifik Lebih Tinggi 37% Daripada Global

Serangan Virus Malware di Asia Pasifik Lebih Tinggi 37% Daripada Global Kredit Foto: Unsplash

Microsoft Asia menyebut virus malware dapat menimbulkan risiko bagi organisasi dan individu dalam bentuk gangguan kegunaan, kehilangan data, pencurian kecerdasan intelektual, kerugian finansial, tekanan emosional, dan bahkan dapat membahayakan jiwa manusia. 

Sementara tingkat serangan malware global telah menurun sebesar 34 persen, dan serangan malware di Asia Pasifik justru lebih tinggi 37 persen dari rata-rata global. Indonesia, Filipina dan Vietnam memiliki tingkat serangan malware tertinggi di wilayah ini, yang terlihat dari korelasi tingkat infeksi dengan faktor pengembangan manusia dan kesiapan teknologi dalam suatu masyarakat. 

Baca Juga: Di Asia Pasifik, Malware Semakin Parah Serang Penambangan Kripto

Keamanan siber yang belum memadai dan kesadaran keamanan pengguna yang rendah dapat menyebabkan perilaku TI yang berisiko, termasuk menggunakan perangkat lunak yang tidak terlindungi dan mengunjungi situs web yang berpotensi berbahaya seperti situs file-sharing, yang membuat perangkat terkena malware. Menggunakan perangkat lunak bajakan juga dapat menjadi sumber infeksi.

Laporan ini juga menemukan bahwa negara Asia Pasifik dengan tingkat serangan malware terendah adalah Jepang, Australia dan Selandia Baru. Negara-negara ini cenderung memiliki infrastruktur keamanan siber yang matang dan program-program mapan untuk melindungi infrastruktur penting dan mengomunikasikannya dengan warga mereka tentang praktik-praktik dasar terbaik keamanan siber.

Baca Juga: Hati-hati! Peretas Sebarkan Malware Lewat Film Populer

“Untuk memperkuat kepercayaan individu terhadap teknologi dan mencegah serangan siber dalam melemahkan inisiatif transformasi digital perusahaan, para profesional keamanan siber perlu menyusun strategi holistik, mencakup pencegahan, deteksi dan respon organisasi," ujar Eric Lam, Direktur, Cybersecurity Solutions Group, Microsoft Asia. 

Menurut Lam, langkah-langkah seperti tindakan pencegahan serta adopsi komputasi awan dan kecerdasan buatan untuk meningkatkan operasi keamanan akan berperan penting dalam membangun ketahanan organisasi, dan memfasilitasi pengurangan risiko secara signifikan dalam organisasi mereka. 

Faktanya, perbandingan antara jumlah penduduk di Indonesia dengan bahan bacaan belum seimbang. Dari 90 orang, akses bacaan yang tersedia hanya satu buku. Berantas hoaks dengan #BacaSampaiTuntas

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini