Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Sport & Lifestyle
Video
Indeks
About Us
Social Media

Hadapi Disrupsi, Begini Kondisi Ekosistem Healthtech Masa Kini

Hadapi Disrupsi, Begini Kondisi Ekosistem Healthtech Masa Kini Kredit Foto: EY Indonesia
Warta Ekonomi, Jakarta -

Menanggapi disrupsi oleh Life Sciences 4.0, EY Indonesia menggelar Indonesia Healthcare and Life Sciences Summit, Jumat (26/4/2019), di Jakarta. Forum ini digelar karena tingginya potensi kemunculan unicorn kesehatan digital di Indonesia. 

Para panelis forum ini adalah Keith Lostaglio (EY Singapore Partner, Corporate Finance Strategy, Life Sciences Leader), Abhay Bangi (EY Singapore Partner, Corporate Finance Strategy, Healthcare Leader), Hans Wijaya (CEO National Hospital), Ervan Belyadi Suryadi (GM IT Kimia Farma), Alfonsius Timboel (Chief Product Officer Halodoc), dan dimoderatori oleh Iwan Margono (EY Indonesia Partner, Strategy and Transformation).

Keith Lostaglio menjelaskan, "Perubahan terbesar yang disebabkan Life Sciences 4.0 adalah pasien dan pengalaman yang dipersonalisasi menjadi bagian integral dari kesuksesan sebuah perusahaan. Disrupsi digital, dan sifatnya yang sangat didorong data, memengaruhi tiap industri, termasuk farmasi. Survei menunjukkan para pasien telah menunjukkan kesiapan untuk beranjak pada model kesehatan yang lebih digital, melibatkan pasien dan personalisasi."

Menurut Keith, merujuk pada hasil EY Future of Health Survey 2018, 50% dari responden merasa nyaman menghubungi dokter secara digital. 56% dari mereka bersedia untuk menggunakan bentuk teknologi tertentu untuk berinteraksi dengan penyedia perawatan, dan 27% dari responden menggunakan personal activity trackers untuk mencatat aktivitas olahraga atau data yang berhubungan dengan olahraga dalam 12 bulan terakhir.

Baca Juga: Masuki Pasar E-Health, Amazon Kembangkan Program Pindai Catatan Medis

Angka tersebut diperkirakan akan meningkat secara signifikan dengan berjalannya waktu dan semakin berkembangnya peralatan pemantau berjarak (remote monitoring) sehingga lebih mudah digunakan dan diterima konsumen.

Indonesia sebagai salah satu emerging market diperkirakan akan mengambil peran dalam menggiring pertumbuhan pasar kesehatan dan life sciences di dunia. Data yang diperoleh dari Business Monitor International (BMI) dan dianalisis EY menunjukkan bahwa pertumbuhan pasar kesehatan dan life sciences di Indonesia diproyeksikan mencapai dua kali lipat dari rata-rata pertumbuhan global dari tahun 2018 ke 2023. 

Sementara itu, Abhay Bangi mengatakan, "Walaupun ada peluang untuk mentransformasi kesehatan melalui disrupsi digital, penting bagi para stakeholders dalam ekosistem kesehatan untuk teliti terhadap tantangan dalam realitas ini. Nampak di antaranya adalah masalah data privacy and security." 

Menurutnya, teknologi digital memungkinkan berkembangnya kesehatan yang dipersonalisasi, batas-batas antara data medis dan data pribadi menjadi semakin kabur sehingga meningkatkan risiko ancaman kejahatan siber. Penting juga untuk membuat protokol-protokol standar untuk menilai kemanjuran klinis dari platform digital. 

"Hal ini memungkinkan adopsi dan penggunaan yang lebih baik di platform-platform tersebut oleh dokter maupun pasien. Selain itu, dengan kondisi di atas, artinya otoritas regulasi perlu menyesuaikan kebijakan mereka dan menawarkan fleksibilitas untuk memperkuat dan mendukung inovasi digital," tambahnya.

Iwan Margono juga menambahkan, "Walaupun dengan tantangan-tantangan yang dihadapi industri kesehatan saat ini, beberapa pemain di industri mulai memeroleh manfaat dari Life Sciences 4.0. Para pemain seperti Halodoc dan yang mulai berkembang seperti Sehati dan Cekmata, kini berusaha menyediakan jasa kesehatan yang dipersonalisasi bagi para pasien melalui platform digital. Hal ini mengindikasikan penerimaan terhadap perubahan dan peluang baru yang diberikan oleh Life Sciences 4.0."

Baca Juga: Dapat Dana Segar Hampir Rp1 Triliun, Ini Rencana Halodoc

Penulis: Ning Rahayu
Editor: Rosmayanti

Tag Terkait:

Bagikan Artikel:

Video Pilihan