Portal Berita Ekonomi Jum'at, 24 Mei 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:39 WIB. Rupiah - Rupiah melemah 0,02% ke level Rp14.463 per dolar AS. 
  • 09:00 WIB. IHSG - IHSG dibuka menguat 0,16% ke level 6.042,58 di awal sesi I. 
  • 08:54 WIB. Tol - Pemerintah menjamin keamanan di sepanjang jalan tol Trans-Sumatra.
  • 08:53 WIB. BGR - Bhanda Ghara Reksa membangun gudang pintar ramah lingkungan di Medan.

Ekspor Industri Pengolahan Lesu Jadi Penyumbang Defisit Dagang April

Ekspor Industri Pengolahan Lesu Jadi Penyumbang Defisit Dagang April - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Anjloknya ekspor produk industri pengolahan disinyalir menjadi pemicu defidit neraca perdagangan yang mencapai US$2,5 miliar pada April kemarin. Pasalnya pertumbuhan negatif dari industri pengolahan bersumbangsih besar dalam menurunkan nilai ekspor pada April hingga 13,10% secara year on year. 

 

Deputi Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Yunita Rusanti mengemukakan,  nilai ekspor industri pengolahan mengalami penurunan yang cukup dalam pada April kemarin. Secara year on year, nilainya turun hingga 11,82%. Tak ayal ini membuat pertumbuhan ekspor secara keseluruhan pun sulit terangkat dan tercatat negatif hingga 13,10% secara year on year. 

 

“Ada hubungannya langsung atau nggak, kita nggak meneliti sejauh itu. Tapi, kemungkinan bisa jadi,” ujarnya di Jakarta, Kamis (16/5/2019). 

 

Baca Juga: Defisit, Neraca Dagang RI Kembali Alami Defisit di April 2019

 

Ekspor industri pengolahan merupakan kontributor terbesar yang membentuk total nilai ekspor Indonesia. Porsinya pada April kemarin mencapai 74,77% dari total ekspor pada bulan yang sama. Nilainya sendiri berada di angka US$9,42 miliar. 

 

Perhiasan menjadi produk industri yang mengalami penurunan ekspor paling tajam periode yang sama. Di mana BPS mencatat, nilai ekspor perhiasan turun hingga US$339,2 juta pada bulan lalu. 

 

Baca Juga: 4 Bulan, Neraca Dagang RI Defisit US$2,56 Miliar

 

Di sisi lain Yunita menjelaskan, impor sebenarnya tidak bertumbuh signifikan. Bahkan jika membandingkan nilainya secara tahun, terjadi penurunan. 

 

“Kalau yang impor kalau dibandingkan dengan tahun lalu, sampai dengan April ini lebih rendah dibandingkan tahun 2018. Nilai-nilainya lebih rendah. Saya bicara total impor,” paparnya. 

 

Tercatat impor secara tahunan turun 7,24%. Dari posisinya di angka US$60,12 miliar pada periode Januari—April 2018 menjadi US$55,77 miliar pada periode yang sama tahun ini. 

 

Sebagian besar impor pun tercatat berupa bahan baku dan penolong sebesar 75,09%. Sementara itu, besaran nilai bahan modal mencapai 16,30% dari total impor. Barulah ada kontribusi barang konsumsi sebesar 8,61%. Sekadar informasi, kontribusi impor barang konsumsi ini turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9,06%.

 

Baca Juga: Ekspor Kembali Tekor Melawan Impor di April 2019

 

Sebelumnya, BPS sempat merilis adanya perlambatan produksi industri besar dan sedang (IBS) pada kuartal I. Di mana tingkat pertumbuhan IBS hanya 4,,45 % dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut melorot dibandingkan tingkat pertumbuhan produksi IBS pada kuartal I-2018 yang secara year on year berada di angka 5,36%. 

 

Melambatnya pertumbuhan industri pengolahan dinilai memiliki pengaruh yang besar terhadap kinerja ekspor nasional. Masalahnya kebijakan industri hingga kini tidak mengalami perubahan berarti. 

 

“Sekian tahun industri kita ini mandeg,” ujar ekonom Universitas Brawijaya,  Candra Fajri Ananda,  Kamis (16/5/2019). 

 

Baca Juga: CAD Direvisi, BI: Ekspor Nggak Bisa Diandalkan Lagi

 

Buktinya, kata dia, saat ini sulit menemukan industri baru yang bisa berkembang. Hal ini menurutnya merupakan dampak dari kebijakan industri nasional yang berpaku pada kebijakan substitusi impor. Padahal bisa jadi kebijakan itu sudah tidak lagi cocok dengan kebutuhan indonesia saat ini. Menurutnya seharusnya Indonesia bisa menjadi bagian dari industri dunia. 

 

"Misalkan korea bikin mobil. Ya sudah kita sediakan jok nya atau kampas remnya. Jadi menjadi bagian dari itu. Jangan memproduksi mobil," ujar dia. 

 

Meski daya saing nasional dikatakan sempat meningkat, Candra menilai keterbatasan pasar turut memperparah lesunya kinerja ekpor ini. 

 

"Makanya kemarin Kementerian Perdagangan melakukan kerjasama dengan beberapa negara di Amerika Latin jadi memperluas ekspansi pasar, harapannya mungkin itu," pungkasnya. 

Tag: Defisit Neraca Perdagangan, Industri Pengolahan, Ekspor

Penulis/Editor: Annisa Nurfitriyani

Foto: Antara/Aprillio Akbar

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,889.81 3,849.95
British Pound GBP 1.00 18,451.29 18,260.82
China Yuan CNY 1.00 2,114.10 2,092.94
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,586.00 14,440.00
Dolar Australia AUD 1.00 10,022.04 9,915.95
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,858.33 1,839.70
Dolar Singapura SGD 1.00 10,570.33 10,458.46
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,263.39 16,099.16
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,480.31 3,442.19
Yen Jepang JPY 100.00 13,233.53 13,097.51

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6032.696 93.060 633
2 Agriculture 1370.530 9.038 21
3 Mining 1649.204 16.278 47
4 Basic Industry and Chemicals 722.627 12.743 71
5 Miscellanous Industry 1239.630 17.875 46
6 Consumer Goods 2382.807 22.091 52
7 Cons., Property & Real Estate 444.574 2.807 76
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1101.266 30.131 74
9 Finance 1217.684 24.828 90
10 Trade & Service 796.572 4.890 156
No Code Prev Close Change %
1 LMSH 478 590 112 23.43
2 POLA 940 1,145 205 21.81
3 IIKP 56 66 10 17.86
4 BEEF 164 189 25 15.24
5 HITS 570 650 80 14.04
6 RDTX 6,000 6,800 800 13.33
7 MBTO 126 139 13 10.32
8 CNTX 535 590 55 10.28
9 OKAS 150 165 15 10.00
10 MPRO 620 680 60 9.68
No Code Prev Close Change %
1 HDFA 171 112 -59 -34.50
2 BMSR 130 86 -44 -33.85
3 MKNT 165 116 -49 -29.70
4 KONI 282 214 -68 -24.11
5 ARTA 486 380 -106 -21.81
6 POOL 2,780 2,260 -520 -18.71
7 INCF 312 254 -58 -18.59
8 DUTI 5,600 4,600 -1,000 -17.86
9 JSPT 1,245 1,040 -205 -16.47
10 BAYU 2,030 1,735 -295 -14.53
No Code Prev Close Change %
1 BBRI 3,770 3,850 80 2.12
2 MNCN 950 1,030 80 8.42
3 TLKM 3,540 3,660 120 3.39
4 BBCA 27,300 28,025 725 2.66
5 BMRI 7,300 7,575 275 3.77
6 JPFA 1,360 1,400 40 2.94
7 JAYA 140 130 -10 -7.14
8 TAMU 4,810 4,830 20 0.42
9 PTBA 2,850 2,880 30 1.05
10 MAMI 135 132 -3 -2.22