Portal Berita Ekonomi Rabu, 19 Juni 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 22:02 WIB. WSBP - Obligasi Waskita Beton Precast oversubscribed hinga 2,18 kali.
  • 21:48 WIB. ADHI - Adhi Karya meraih kontrak baru sebanyak Rp5 triliun hingga Mei 2019.
  • 21:21 WIB. BNI - BNI mencatatkan pertumbuhan kinerja kartu kredit sebesar 10% selama Ramadan 2019.
  • 20:32 WIB. Paris - Mitsubishi Aircraft Corp menjual pesawat 15 Spacejet M100 kepada maskapai Amerika Utara.
  • 20:07 WIB. Transportasi - Kemenko akan panggil Garuda & Lion untuk membahas investasi asing di penerbangan.
  • 19:27 WIB. BTN - Indeks harga rumah BTN tumbuh 7,3% di kuartal I-2019.
  • 19:17 WIB. BTN - Kuota subsidi rumah BTN diklaim habis bulan Juni ini.
  • 18:58 WIB. BTN - BTN targetkan outstanding KPR Gaess mencapai Rp7 triliun di akhir tahun ini.
  • 18:49 WIB. Minyak - U.S. West Texas Intermediate crude turun 3 cents menjadi $53.87 per barel.
  • 18:48 WIB. Minyak - Brent crude futures turun 46 cents at $61.68 per barel pada 1042 GMT.
  • 18:43 WIB. WIKA - Wijaya Karya telah merampungkan pembangunan Bandara Oecusse Timor Leste.
  • 18:33 WIB. Boeing - Qatar memesan 5  777F Boeing Co freighters.
  • 11:28 WIB. Gaming - Pasar electronic gaming global naik 9,6% menjadi US$152,1 miliar di tahun 2019.
  • 09:00 WIB. Washington - DPR AS minta Facebook menunda uang kriptonya.

AS-China Kembali Bersitegang, PDB Asia Tenggara Jadi Korban

AS-China Kembali Bersitegang, PDB Asia Tenggara Jadi Korban - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah Asia Tenggara diperkirakan akan menurun menjadi 4,8% tahun ini, dari 5,3% tahun lalu. Hal ini akibat perlambatan perdagangan global dan meningkatnya ketegangan perdagangan AS-China. Demikian terungkap dalam Economic Insight ICAEW terbaru terkait laporan Asia Tenggara.

Disebutkan bahwa permintaan domestik dapat memberikan keringanan bersama dengan kebijakan makro yang akomodatif meskipun ada keragaman di perekonomian di setiap negara.

Pertumbuhan PDB di seluruh wilayah Asia Tenggara melambat menjadi 4,6% dari tahun ke tahun pada Q1 2019, turun dari 5,3% yang tercatat di H1 2018. Hal ini merupakan hasil dari menurunnya pertumbuhan ekspor di seluruh perekonomian Asia Tenggara karena melemahnya permintaan impor China, melambatnya  siklus ICT global, dan  meningkatnya proteksionisme selama setahun terakhir ini.

Baca Juga: AS-China Perang Dagang, Jokowi Lihat Peluang untuk Indonesia

Total volume ekspor secara rata-rata adalah 1% lebih rendah dibandingkan Q1 2018, dengan adanya ketidakpastian atas permintaan eksternal yang juga cenderung membebani produksi perusahaan dan minat investasi di kuartal tahun tersebut. 

Hal serupa terjadi dengan terus menurunnya ekspor di seluruh wilayah Asia Tengara pada kuartal kedua, di mana hanya Vietnam yang tidak mengikuti tren, walaupun pertumbuhan negara tersebut juga menurun sejak tahun lalu. Di tengah terjadinya ketegangan baru perdagangan AS-China, tren ini kemungkinan akan berlangsung hingga tahun depan.

Pertumbuhan PDB di seluruh wilayah Asia Tenggara diperkirakan akan menurun sekitar 4,8% tahun ini, sebelum mengalami penurunan selanjutnya menjadi 4,7% pada 2020. Sebagai negara kecil dengan perekonomian terbuka yang sangat bergantung pada ekspor, Singapura akan mengalami pelambatan paling tajam, dengan pertumbuhan PDB turun dari 3,1% di tahun lalu menjadi sekitar 1,9% tahun ini.

Sementara itu, meskipun pertumbuhan terlihat mudah di Vietnam, sebesar 6,7%, hal ini akan menjadikan Vietnam sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Asia Tenggara.

"Kami berharap ekspor dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan akan terus meningkat walaupun berada di bawah tekanan ketegangan perdagangan AS dan China yang sepertinya akan terus berlanjut," kata Sian Fenner, ICAEW Economic Advisor & Oxford Economics Lead Asia.

Baca Juga: Waspada! Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Diproyeksi Tumbuh di Bawah 6%

"Dengan volume ekspor yang sudah berada di titik rendah sejak awal tahun, setiap bertambahnya ketegangan perdagangan dua ekonomi terbesar dunia tetap akan memperlambat pertumbuhan regional."

Kebijakan makro dan fiskal meningkatkan permintaan domestik 

Permintaan domestik akan mendongkrak peningkatan pertumbuhan ekspor yang lebih lemah, didukung dengan kebijakan makro-akomodatif. Bahkan, kebijakan pengembalian yang tegas oleh US Federal Reserve dan inflasi yang terkendali telah membuka kesempatan untuk mempermudah kebijakan moneter di seluruh wilayah Asia Tenggara. Namun, hal ini bervariasi di berbagai negara.

Sebagai contoh, bank sentral di Filipina dan Malaysia telah mengurangi tingkat kebijakan bunga hingga 25bp di tengah ketidakpastian global. Sementara Indonesia, Thailand, dan Vietnam kemungkinan akan mempertahankan tingkat suku bunga.

Bank Indonesia akan tetap fokus menjaga stabilitas eksternal, Bank Vietnam akan mempertahankan kebijakan suku bunga tetap, dengan pemegang otoritas yang cenderung meningkatkan target pertumbuhan kredit jika kondisi ekonomi menjamin stimulus lebih lanjut.

Baca Juga: Melihat Peluang saat Perang Dagang untuk Perekonomian Indonesia

Kebijakan fiskal akan lebih mendukung permintaan domestik regional selama 2019-2020 dengan sebagian investasi infrastruktur mengimbangi investasi yang dilakukan oleh perusahaan dengan lebih berhati-hati. Terkecuali Malaysia, dengan tinjauan proyek infrastruktur dan target konsolidasi fiskal akan membatasi dukungan tahun ini hingga tahun depan dalam bentuk apa pun.

Mark Billington, Direktur Regional ICAEW, China & Asia Tenggara, mengatakan, "Ketegangan perdagangan terkini antara AS dan China terjadi saat pertumbuhan ekspor di seluruh Asia Tenggara menghadapi tantangan lingkungan secara eksternal. Nantinya, ekspor akan terus menghadapi tekanan dan efek negatif akan terasa di seluruh wilayah Asia Tenggara yang selanjutnya mengurangi pertumbuhan secara keseluruhan."

Tag: Produk Domestik Bruto (PDB), Perang Dagang

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Rosmayanti

Foto: China Daily/via Reuters

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,824.23 3,785.66
British Pound GBP 1.00 18,022.16 17,842.30
China Yuan CNY 1.00 2,081.78 2,061.17
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,342.00 14,200.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,864.43 9,763.92
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,832.47 1,814.21
Dolar Singapura SGD 1.00 10,487.75 10,382.39
EURO Spot Rate EUR 1.00 16,060.17 15,898.32
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,435.21 3,398.76
Yen Jepang JPY 100.00 13,219.65 13,085.15

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6339.262 81.932 636
2 Agriculture 1407.708 18.720 21
3 Mining 1616.036 27.374 46
4 Basic Industry and Chemicals 759.365 19.786 71
5 Miscellanous Industry 1319.906 24.495 47
6 Consumer Goods 2463.827 18.712 52
7 Cons., Property & Real Estate 491.971 8.540 76
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1197.863 24.917 74
9 Finance 1292.680 13.837 90
10 Trade & Service 804.545 2.212 159
No Code Prev Close Change %
1 SFAN 188 318 130 69.15
2 APLN 187 234 47 25.13
3 DUTI 4,750 5,825 1,075 22.63
4 WICO 510 615 105 20.59
5 ABMM 1,870 2,180 310 16.58
6 BRAM 10,725 12,500 1,775 16.55
7 NICK 236 274 38 16.10
8 PNSE 520 600 80 15.38
9 BOLA 370 422 52 14.05
10 ARMY 220 250 30 13.64
No Code Prev Close Change %
1 PLIN 4,750 3,700 -1,050 -22.11
2 GLOB 320 258 -62 -19.38
3 INAF 3,230 2,700 -530 -16.41
4 MFMI 605 525 -80 -13.22
5 LRNA 161 141 -20 -12.42
6 BMAS 348 310 -38 -10.92
7 OKAS 168 150 -18 -10.71
8 FORU 100 90 -10 -10.00
9 MINA 1,235 1,115 -120 -9.72
10 RICY 184 167 -17 -9.24
No Code Prev Close Change %
1 MNCN 1,130 1,125 -5 -0.44
2 INKP 7,325 8,175 850 11.60
3 APLN 187 234 47 25.13
4 TLKM 3,980 4,100 120 3.02
5 BBRI 4,260 4,290 30 0.70
6 PGAS 1,950 2,060 110 5.64
7 INAF 3,230 2,700 -530 -16.41
8 CENT 95 93 -2 -2.11
9 CCSI 246 232 -14 -5.69
10 BOLA 370 422 52 14.05