Portal Berita Ekonomi Kamis, 22 Agustus 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 08:07 WIB. Kupang - Jokowi bagikan 2.706 sertifikat gratis di NTT.
  • 07:52 WIB. Google - Google tambah kemampuan koreksi bahasa ke Gmail.
  • 07:21 WIB. XL - XL harus rogoh kocek Rp569 miliar buat blokir ponsel BM.
  • 06:43 WIB. Brexit - Prancis memperkirakan akan terjadi 'no deal Brexit'
  • 06:23 WIB. Mandiri - Mandiri akan mengembangkan ekosistem untuk mengoptimalisasi usaha kopi.
  • 06:14 WIB. Amazon - Di Indian Amazon sudah mempekerjakan 62.000 orang.
  • 23:43 WIB. Israel - Korsel dan Israel sepakati perdagangan bebas untuk hadapi peningkatan proteksionisme di banyak negara
  • 23:17 WIB. Hyderabad - Amazon membangun kampus terbesarnya di India.
  • 23:10 WIB. Beijing - China akan memberi sanksi bagi perusahaan yang terlibat penjualan F-16 ke Taiwan.
  • 21:51 WIB. Gojek - Kabinet Malaysia beri lampu hijau Gojek bisa mengaspal di sana.

Pakar: Uni Eropa Harus Larang AI terkait Credit Scoring dan Pemantauan Penduduk

Pakar: Uni Eropa Harus Larang AI terkait Credit Scoring dan Pemantauan Penduduk - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Sejumlah pakar yang dibentuk Uni Eropa merekomendasikan agar UE melarang penggunaan AI untuk pengawasan dan credit scoring warga lantaran hal ini dinilai berpotensi mengumpulkan beragam data tentang warga, mulai dari catatan kriminal hingga perilaku di media sosial–dan kemudian bisa digunakan untuk membuat judgement atau penilaian integritas moral atau etika warga.

Rekomendasi tersebut merupakan bagian dari upaya berkelanjutan UE untuk mengukuhkan mereka sebagai apa yang disebut sebagai "AI etis". Awal tahun ini, UE mengeluarkan pedoman pertamanya terkait topik tersebut, yang menyatakan bahwa AI di UE harus dikerahkan secara terpercaya dan "human-sentris".

Baca Juga: Microsoft Mau Kaji Ulang Etika AI Perusahaan?

Para pakar merekomendasikan beberapa hal, termasuk mengidentifikasi bidang-bidang penelitian AI yang membutuhkan dana, mendorong UE memasukkan pelatihan AI ke sekolah dan universitas, dan menyarankan metode baru untuk memantau dampak AI. Namun, rekomendasi tersebut belum akan menjadi cetak biru untuk dijadikan undang-undang.

Kekhawatiran terkait credit scoring warga lewat AI menyusul laporan tentang sistem kredit sosial di China yang baru diberlakukan belum lama ini. Program ini sering disajikan sebagai alat dystopian yang akan memberikan Pemerintah China kendali besar atas perilaku warga negara, memungkinkan pemerintah memberi hukuman (seperti melarang seseorang bepergian dengan kereta api berkecepatan tinggi) sebagai respons terhadap pelanggaran ideologis (seperti mengkritik Partai Komunis di media sosial).

Baca Juga: Kurangi Pencurian, Walmart Gunakan Vision AI

Para pakar juga mencatat bahwa sistem pengawasan dan hukuman yang serupa sudah ada di Barat, tapi bukan diawasi oleh pemerintah, melainkan dijalankan oleh perusahaan swasta. Belum jelas bagaimana detail larangan UE terhadap credit scoring. Apakah SKSN mencakup kegiatan perusahaan asuransi, kreditor, atau platform media sosial misalnya.

Para pakar juga menyarankan bahwa warga tidak boleh "dikenakan pelacakan atau identifikasi pribadi, fisik atau mental yang tidak dapat dibenarkan" menggunakan AI. Misalnya, menggunakan AI untuk mengidentifikasi emosi dalam suara seseorang atau melacak ekspresi wajah mereka. Meski sebenarnya metode ini sudah digunakan perusahaan untuk memantau produktivitas karyawan mereka.

Tag: Artificial Intelligence, Uni Eropa

Penulis: Yosi Winosa

Editor: Rosmayanti

Foto: Microsoft Indonesia

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,820.93 3,782.86
British Pound GBP 1.00 17,441.04 17,266.80
China Yuan CNY 1.00 2,034.56 2,014.40
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,330.00 14,188.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,718.61 9,620.88
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,827.15 1,808.98
Dolar Singapura SGD 1.00 10,354.05 10,249.96
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,904.87 15,745.84
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,435.63 3,398.32
Yen Jepang JPY 100.00 13,462.98 13,325.82

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6252.967 -42.771 651
2 Agriculture 1352.538 3.379 21
3 Mining 1594.204 -6.101 49
4 Basic Industry and Chemicals 839.668 -9.022 72
5 Miscellanous Industry 1141.967 -9.977 49
6 Consumer Goods 2401.664 -24.300 53
7 Cons., Property & Real Estate 504.990 0.189 80
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1224.736 -5.147 74
9 Finance 1248.608 -11.827 91
10 Trade & Service 790.366 1.634 162
No Code Prev Close Change %
1 ARTO 665 830 165 24.81
2 KOTA 404 490 86 21.29
3 JIHD 525 630 105 20.00
4 KONI 500 595 95 19.00
5 MKNT 53 62 9 16.98
6 POLY 69 78 9 13.04
7 TFCO 620 695 75 12.10
8 ARKA 1,280 1,425 145 11.33
9 MTPS 1,500 1,655 155 10.33
10 PDES 1,000 1,100 100 10.00
No Code Prev Close Change %
1 FMII 560 424 -136 -24.29
2 PCAR 1,665 1,500 -165 -9.91
3 POLI 850 775 -75 -8.82
4 VINS 109 101 -8 -7.34
5 MEGA 6,200 5,775 -425 -6.85
6 PAMG 193 181 -12 -6.22
7 TBMS 810 760 -50 -6.17
8 ERTX 120 113 -7 -5.83
9 MTRA 350 330 -20 -5.71
10 EAST 212 200 -12 -5.66
No Code Prev Close Change %
1 KPIG 134 143 9 6.72
2 IPTV 224 224 0 0.00
3 BBRI 4,100 4,050 -50 -1.22
4 MNCN 1,260 1,295 35 2.78
5 ERAA 1,875 1,835 -40 -2.13
6 MDKA 5,975 6,100 125 2.09
7 TLKM 4,470 4,410 -60 -1.34
8 ANTM 1,050 1,070 20 1.90
9 PGAS 1,920 1,870 -50 -2.60
10 ASII 6,425 6,350 -75 -1.17