Portal Berita Ekonomi Kamis, 20 Februari 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 12:00 WIB. IHSG - IHSG menguat 0,11% di akhir sesi I.
  • 08:55 WIB. Bursa - Indeks Shanghai dibuka positif 0,14% pada level 2.979
  • 08:55 WIB. IHSG - IHSG menguat 021% di awal sesi I.
  • 08:54 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng dibuka positif 0,03% pada level 27.677
  • 08:54 WIB. Bursa - Indeks Strait Times dibuka negatif 0,23% pada level 3.206
  • 08:53 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,09% terhadap Yuan pada level 7,0048 CNY/USD
  • 08:08 WIB. Valas - Rupiah dibuka melemah 0,02% terhadap Dollar AS pada level 13.695 IDR/USD
  • 08:07 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,17% terhadap Yen pada level 111,18 JPY/USD
  • 08:06 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,05% terhadap Poundsterling pada level 1,2927 USD/GBP
  • 08:05 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,06% terhadap Euro pada level 1,0811 USD/EUR
  • 08:04 WIB. OIL - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 59,12 USD/barel
  • 08:03 WIB. OIL - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 53,58 USD/barel
  • 08:03 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.609 USD/troy ounce
  • 08:02 WIB. Bursa - Indeks Nikkei dibuka positif 1,47% pada level 23.749
  • 08:02 WIB. Bursa - Indeks KOSPI dibuka positif 0,34% pada level 2.217

Sinyal Oversupply Terlambat, Buat Harga Ayam Meroket

Sinyal Oversupply Terlambat, Buat Harga Ayam Meroket - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Merosotnya harga ayam potong ras di kalangan peternak belakangan ini, sebenarnya bukan fenomena baru. Untuk setahun ini saja, anjloknya harga ayam potong sejatinya sudah mulai dirasakan sejak September 2018. Fungsi Kementrian terkait pun dipertanyakan karena tidak memberi sinyal kepada Kementerian Koordinator Perekonomian terkait kondisi ini hingga berujung parah.

 

“Kondisi seperti ini mesti diselesaikan dengan perpres. Kemenko Perekonomian harusnya mendorong adanya perpres. Cuma selama ini kan nggak ada sinyal dari Kementrian terkait,” ucap  Direktur Pusat Kajian Pertanian Pangan dan Advokasi (Pataka), Yeka Hendra Fatika, Senin (8/7/2019).

 

Menurut kondisi terus fluktuatifnya harga ayam tidak bisa diselesaikan hanya dari hulu ataupun hilir. Solusi yang komprehensif diperlukan lewat kebijakan setrara dengan peraturan presiden (perpres). 

 

Baca Juga: Kemendag Jamin Harga Ayam Berangsur Normal

 

Berdasarkan pengamatannya, kondisi kerap anjloknya harga ayam dikarenakan suplai yang berlebih dibandingkan kebutuhan. Kondisi oversupply disebabkan peternak maupun pengusaha terus membuat kandang sehingga meningkatkan suplai hingga kondisinya kini mencapai 68-70 juta per minggu. Padahal, permintaan ayam di pasaran kurang lebih hanya 60 juta ekor per minggu. 

 

Selain mengatur kandang ayam agar tidak terus meningkatkan suplai, Yeka menyatakan, konsumsi pun harus ditingkatkan. Soalnya konsumsi ayam per kapita cenderung stagnan di angka 12 kilogram per tahun. Jauh di bawah negara-negara lain. 

 

Kondisi oversupply inilah yang harus diserukan Kementrian terkait kepada Kemenko Perekonomian agar semua pihak bergerak. Tujuan akhirnya, perpres yang komprehensif untuk menyelesaikan masalah harga ayam dapat terbit. 

 

“Diperlukan regulasi setingkat Peraturan Presiden dalam membenahi industri perunggasan,” tegasnya lagi. 

 

Baca Juga: TTIC Kementan Serap Ayam Peternak Mandiri untuk Dongkrak Harga

 

Pihak-pihak yang mesti terlibat dalam masalah oversupply ayam ini, utamanya adalah Kementerian Pertanian yang mesti memberi sinyal masalah di hulu. Peran Kementerian Kesehatan pun diharapkan guna mempromosikan konsumsi ayam terkait masalah gizi. Kemendag maupun BKPM juga harus berperan.

 

Sebelumnya Yeka telah mengungkapkan, masalah utama anjloknya harga ayam sampai sempat menyentuh Rp5.000 per kilogram bersumber dari oversupply

 

“Adanya surat edaran tanggal 26 Juni 2019 untuk memotong DOC (day old chiken) artinya Kementan mengakui adanya kelebihan suplai itu,” ujarnya.

 

Baca Juga: Harga Ayam Diyakini Segera Mengacu Referensi Kemendag

 

Sekretaris Jenderal Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (Gopan) Sugeng Wahyudi, menyebutkan, kelebihan bibit ayam potong (day old chiken/DOC) sudah terjadi sejak awal tahun. Di mana produksi DOC di Indonesia saat ini sebesar 68 juta per minggu, sementara kebutuhan DOC hanya 60 juta.

 

“Itu dari awal tahun memang sudah ada kelebihan DOC-nya dibanding dengan kebutuhan DOC-nya. DOC ini nanti dibesarkan menjadi ayam, otomatis ayamnya juga kelebihan,” katanya pada wartawan, di kesempatan berbeda .

 

Produksi ayam yang berlebih itu pun dinilai menjadi penyebab tertekannya harga ayam sampai sempat menyentuh Rp5.000 per kilogram. Kondisi ini diperparah karena sempat terjadi salah memprediksi terkait dengan persediaan dan permintaan  ayam.

 

“Jadi, sebenarnya harus ada informasi jumlah sediaan anak ayam, tetapi tidak menghitung demand-nya,” keluhnya.

 

Baca Juga: Harga Ayam Naik, Masyarakat Diimbau Jangan Khawatir Karena...

 

Mentan Amran Sulaiman pun berjanji akan menindak tegas perusahaan yang menjadi broker sehingga menyulitkan peternak tersebut. 

 

“Yang jelas kalau ingin mempermainkan petani dan peternak kecil pasti kami tindak tegas," katanya saat mengunjungi Loka Penelitian Sapi Potong di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Jumat (28/6). 

 

Namun, identitas perusahaan yang diduga sebagai broker masih disembunyikan. 

Baca Juga

Tag: Daging Ayam, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), Peraturan Presiden (Perpres)

Penulis/Editor: Annisa Nurfitriyani

Foto: Antara/Yulius Satria Wijaya

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,680.49 3,643.67
British Pound GBP 17,831.59 17,652.80
China Yuan CNY 1,969.31 1,948.60
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,803.68 13,666.33
Dolar Australia AUD 9,176.69 9,082.64
Dolar Hong Kong HKD 1,775.78 1,758.07
Dolar Singapura SGD 1.00 9,877.41 9,777.73
EURO Spot Rate EUR 14,909.35 14,756.90
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,305.48 3,270.24
Yen Jepang JPY 12,406.69 12,282.13
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5928.791 41.829 682
2 Agriculture 1299.796 3.897 22
3 Mining 1431.685 6.913 49
4 Basic Industry and Chemicals 884.689 9.587 77
5 Miscellanous Industry 1099.458 20.831 51
6 Consumer Goods 1922.005 13.971 57
7 Cons., Property & Real Estate 458.538 -0.304 88
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1018.422 4.633 78
9 Finance 1345.852 10.608 92
10 Trade & Service 704.848 1.905 168
No Code Prev Close Change %
1 INDO 97 130 33 34.02
2 FORU 81 105 24 29.63
3 ASPI 240 300 60 25.00
4 SQMI 191 238 47 24.61
5 BACA 280 344 64 22.86
6 TIRA 212 258 46 21.70
7 SIPD 825 1,000 175 21.21
8 GHON 1,400 1,680 280 20.00
9 LION 410 490 80 19.51
10 MLPT 336 388 52 15.48
No Code Prev Close Change %
1 MINA 71 50 -21 -29.58
2 TOPS 67 50 -17 -25.37
3 ERTX 147 110 -37 -25.17
4 AYLS 272 204 -68 -25.00
5 MTSM 206 156 -50 -24.27
6 YPAS 382 298 -84 -21.99
7 JMAS 820 650 -170 -20.73
8 GTBO 124 100 -24 -19.35
9 INTD 240 200 -40 -16.67
10 AKPI 400 350 -50 -12.50
No Code Prev Close Change %
1 MNCN 1,495 1,490 -5 -0.33
2 TOWR 875 875 0 0.00
3 MKNT 50 50 0 0.00
4 PURA 204 206 2 0.98
5 TELE 197 179 -18 -9.14
6 TLKM 3,620 3,620 0 0.00
7 BBRI 4,400 4,480 80 1.82
8 PGAS 1,505 1,530 25 1.66
9 ADRO 1,330 1,305 -25 -1.88
10 ANTM 690 705 15 2.17