Portal Berita Ekonomi Rabu, 24 Juli 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 12:01 WIB. BNI - BNI meraih laba bersih sebesar Rp7,63 triliun sepanjang semester I 2019.
  • 12:00 WIB. IHSG - IHSG ditutup¬†merah 0,24% di akhir sesi I.
  • 11:50 WIB. BRI - BRI menghadirkan Agen BRILink untuk menggaet calon nasabah unbanked tahun ini.
  • 10:29 WIB. China - China berkomitmen tidak akan menggunakan nuklir untuk ancam negara bebas nuklir atau area bebas nuklir
  • 10:27 WIB. Nuklir - China tidak akan terlibat dalam perlombaan senjata nuklir dengan negara lain
  • 08:30 WIB. Otomotif¬†- GM mempercepat penggantian produknya di China untuk mendongkrak penjualannya
  • 08:28 WIB. Uni Eropa - Kinerja ekspor terbaik UE: daging babi, minuman, wine, dan makanan bayi
  • 08:24 WIB. Eletronik - China catatkan pendapatan manufaktur elektronik dan software tahun 2018 lebih dari US$2,3 triliun
  • 08:19 WIB. Cryptocurrency - CipherTrace:US$1,2 miliar lenyap di cryptocurrency dari Januari-Maret
  • 16:28 WIB. Tekno - Rudiantara tegaskan Traveloka dan Tokopedia bukan penyelenggara umrah.

Dear Pemerintah, Intervensi Sektor Pangan Belum Efektif Stabilkan Harga

Dear Pemerintah, Intervensi Sektor Pangan Belum Efektif Stabilkan Harga - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Pemerintah sudah menerapkan berbagai kebijakan pada sektor pangan. Namun sayangnya, intervensi ini belum efektif menstabilkan harga pangan, baik di tingkat petani maupun konsumen.

Terjadi hubungan asimetris karena kenaikan harga di tingkat konsumen tidak akan memengaruhi harga di tingkat petani (penghasilan tetap dan tidak bertambah). Namun, jika harga di tingkat konsumen turun, petani akan langsung merasakan dampak berkurangnya penghasilan. Ini berarti, baik konsumen maupun petani, berada di posisi yang tidak menguntungkan.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, salah satu penyebabnya, masih di seputar harga pembelian bahan pangan yang harus sesuai dengan harga pembelian pemerintah (HPP). Penetapan HPP ini mengakibatkan terbatasnya ruang swasta untuk terlibat dalam pasar pangan.

Baca Juga: Kemandirian Pangan Sudah Terwujud, Buktinya Ekspor Beras?

"Terlebih lagi, faktanya HPP yang harusnya melindungi petani justru seringkali menjadikan petani sebagai pihak yang paling dirugikan. Belum lagi rantai distribusi yang panjang mengakibatkan harga di tingkat konsumen menjadi mahal," jelas dia melalui keterangannya, Jumat (12/7/2019).

Ia pun menambahkan, selain penerapan HPP, sektor pangan masih kerap terkendala masalah cuaca. Ketika musim panen, harga justru jatuh. Namun, ketika tidak musim panen, harga naik. Siklus seperti ini harus dihentikan.

Untuk itu, sektor pangan harus benar-benar diperhatikan pemerintah. Pemerintah harus menyadari mereka tidak dapat berjalan sendiri. Kerja sama yang strategis dengan pihak swasta dapat terjalin untuk mencapai ketahanan pangan.

"Salah satu yang dapat dimanfaatkan dari kerja sama dengan sektor swasta adalah dalam hal teknologi, khususnya dalam perbaikan dan peningkatan infrastuktur, semisal dalam masalah produksi beras yang kerap terkendala pada infrastruktur pascapanen dan masalah pergudangan. Melihat fakta ini, perbaikan sektor pangan dapat berdampak baik bagi peningkatan konsumsi rumah tangga dan tentunya menekan inflasi," jelasnya.

Baca Juga: Mentan: Mafia Pangan Bukan Isapan Jempol Belaka

Pangan merupakan salah satu sektor penyumbang terbesar inflasi di Indonesia. Berdasarkan data Badan  Pusat Statistik (BPS), sektor pangan pada Juni 2019 mengalami inflasi sebesar 1,63% atau terjadi kenaikan indeks dari 152,04 pada Mei 2019 menjadi 154,52 pada Juni 2019. Semakin tinggi laju inflasi akan berdampak pula bagi penurunan daya beli masyarakat.

"Mereka yang tergolong dalam masyarakat miskin adalah yang paling terdampak dengan tingginya harga pangan. Dengan penghasilan yang mereka miliki, kalau hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan pangan, mereka akan sulit memenuhi kebutuhan lainnya seperti pendidikan dan kesehatan," tandasnya.

Tag: Pangan, Petani, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Rosmayanti

Foto: Kementan

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,754.53 3,717.10
British Pound GBP 1.00 17,505.50 17,330.06
China Yuan CNY 1.00 2,044.87 2,024.54
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,081.00 13,941.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,828.54 9,729.42
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,802.39 1,784.29
Dolar Singapura SGD 1.00 10,312.73 10,207.95
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,694.68 15,535.85
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,418.55 3,381.28
Yen Jepang JPY 100.00 13,015.07 12,884.47

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6456.539 53.245 652
2 Agriculture 1359.948 0.169 21
3 Mining 1656.555 1.125 49
4 Basic Industry and Chemicals 836.222 20.201 72
5 Miscellanous Industry 1262.035 -2.850 49
6 Consumer Goods 2419.754 33.936 53
7 Cons., Property & Real Estate 497.831 2.310 80
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1241.954 8.326 74
9 Finance 1325.581 8.757 91
10 Trade & Service 819.503 2.647 163
No Code Prev Close Change %
1 POLU 1,260 1,575 315 25.00
2 PAMG 416 520 104 25.00
3 GLOB 505 630 125 24.75
4 PICO 486 605 119 24.49
5 KIOS 520 630 110 21.15
6 FUJI 123 143 20 16.26
7 ASBI 340 384 44 12.94
8 ARKA 1,035 1,165 130 12.56
9 TMPO 162 180 18 11.11
10 IKBI 274 298 24 8.76
No Code Prev Close Change %
1 KBLV 436 390 -46 -10.55
2 KAYU 498 448 -50 -10.04
3 IIKP 62 57 -5 -8.06
4 SRAJ 310 286 -24 -7.74
5 SAPX 745 690 -55 -7.38
6 MINA 1,400 1,300 -100 -7.14
7 NICK 266 248 -18 -6.77
8 PBSA 760 710 -50 -6.58
9 TNCA 324 304 -20 -6.17
10 DSFI 135 127 -8 -5.93
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 350 352 2 0.57
2 BHIT 81 85 4 4.94
3 MNCN 1,365 1,435 70 5.13
4 IPTV 242 248 6 2.48
5 BPTR 97 104 7 7.22
6 POSA 214 204 -10 -4.67
7 BDMN 4,840 5,100 260 5.37
8 ANTM 950 940 -10 -1.05
9 LPKR 278 284 6 2.16
10 BBRI 4,450 4,480 30 0.67