Portal Berita Ekonomi Senin, 09 Desember 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 08:35 WIB. OIL - Harga acuan Brent diperdagangkan pada level 64,09 USD/barel
  • 08:34 WIB. OIL - Harga acuan WTI diperdagangkan pada level 58,88 USD/barel
  • 08:33 WIB. Gold - Spot price emas diperdagangkan pada level 1.460 USD/troy ounce
  • 08:32 WIB. Valas - Rupiah dibuka menguat 0,23% terhadap Dollar AS pada level 14.005 IDR/USD 
  • 08:31 WIB. Valas - Dollar AS diperdagangkan pada level 108,58 JPY/USD
  • 08:29 WIB. Valas - Dollar AS melemah 0,04% terhadap Poundsterling pada level 1,3145 USD/GBP
  • 08:28 WIB. Valas - Dollar AS menguat 0,03% terhadap Euro pada level 1,1057 USD/EUR
  • 08:25 WIB. Bursa - Indeks Strait Times dibuka negatif 0,09% pada level 3.191
  • 08:24 WIB. Bursa - Indeks Nikkei dibuka positif 0,18% pada level 23.400
  • 08:16 WIB. Bursa - Indeks KOSPI dibuka positif 0,34% pada level 2.088

Dear Pemerintah, Intervensi Sektor Pangan Belum Efektif Stabilkan Harga

Dear Pemerintah, Intervensi Sektor Pangan Belum Efektif Stabilkan Harga - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Pemerintah sudah menerapkan berbagai kebijakan pada sektor pangan. Namun sayangnya, intervensi ini belum efektif menstabilkan harga pangan, baik di tingkat petani maupun konsumen.

Terjadi hubungan asimetris karena kenaikan harga di tingkat konsumen tidak akan memengaruhi harga di tingkat petani (penghasilan tetap dan tidak bertambah). Namun, jika harga di tingkat konsumen turun, petani akan langsung merasakan dampak berkurangnya penghasilan. Ini berarti, baik konsumen maupun petani, berada di posisi yang tidak menguntungkan.

Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, salah satu penyebabnya, masih di seputar harga pembelian bahan pangan yang harus sesuai dengan harga pembelian pemerintah (HPP). Penetapan HPP ini mengakibatkan terbatasnya ruang swasta untuk terlibat dalam pasar pangan.

Baca Juga: Kemandirian Pangan Sudah Terwujud, Buktinya Ekspor Beras?

"Terlebih lagi, faktanya HPP yang harusnya melindungi petani justru seringkali menjadikan petani sebagai pihak yang paling dirugikan. Belum lagi rantai distribusi yang panjang mengakibatkan harga di tingkat konsumen menjadi mahal," jelas dia melalui keterangannya, Jumat (12/7/2019).

Ia pun menambahkan, selain penerapan HPP, sektor pangan masih kerap terkendala masalah cuaca. Ketika musim panen, harga justru jatuh. Namun, ketika tidak musim panen, harga naik. Siklus seperti ini harus dihentikan.

Untuk itu, sektor pangan harus benar-benar diperhatikan pemerintah. Pemerintah harus menyadari mereka tidak dapat berjalan sendiri. Kerja sama yang strategis dengan pihak swasta dapat terjalin untuk mencapai ketahanan pangan.

"Salah satu yang dapat dimanfaatkan dari kerja sama dengan sektor swasta adalah dalam hal teknologi, khususnya dalam perbaikan dan peningkatan infrastuktur, semisal dalam masalah produksi beras yang kerap terkendala pada infrastruktur pascapanen dan masalah pergudangan. Melihat fakta ini, perbaikan sektor pangan dapat berdampak baik bagi peningkatan konsumsi rumah tangga dan tentunya menekan inflasi," jelasnya.

Baca Juga: Mentan: Mafia Pangan Bukan Isapan Jempol Belaka

Pangan merupakan salah satu sektor penyumbang terbesar inflasi di Indonesia. Berdasarkan data Badan  Pusat Statistik (BPS), sektor pangan pada Juni 2019 mengalami inflasi sebesar 1,63% atau terjadi kenaikan indeks dari 152,04 pada Mei 2019 menjadi 154,52 pada Juni 2019. Semakin tinggi laju inflasi akan berdampak pula bagi penurunan daya beli masyarakat.

"Mereka yang tergolong dalam masyarakat miskin adalah yang paling terdampak dengan tingginya harga pangan. Dengan penghasilan yang mereka miliki, kalau hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan pangan, mereka akan sulit memenuhi kebutuhan lainnya seperti pendidikan dan kesehatan," tandasnya.

Baca Juga

Tag: Pangan, Petani, Center for Indonesian Policy Studies (CIPS)

Penulis: Redaksi WE Online

Editor: Rosmayanti

Foto: Kementan

Loading...

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,762.12 3,724.29
British Pound GBP 1.00 18,565.06 18,378.94
China Yuan CNY 1.00 2,002.78 1,982.01
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,107.19 13,966.82
Dolar Australia AUD 1.00 9,654.96 9,557.49
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,801.85 1,783.73
Dolar Singapura SGD 1.00 10,372.93 10,268.21
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,671.68 15,514.34
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,387.89 3,351.77
Yen Jepang JPY 100.00 12,978.10 12,845.42

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6186.868 34.751 667
2 Agriculture 1434.346 37.746 20
3 Mining 1474.400 -6.728 50
4 Basic Industry and Chemicals 979.828 11.348 76
5 Miscellanous Industry 1201.074 10.720 50
6 Consumer Goods 2055.194 19.613 56
7 Cons., Property & Real Estate 510.207 10.418 83
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1137.751 -1.677 76
9 Finance 1298.193 3.365 90
10 Trade & Service 766.195 1.154 166
No Code Prev Close Change %
1 REAL 100 170 70 70.00
2 VRNA 67 90 23 34.33
3 KARW 62 79 17 27.42
4 VINS 121 152 31 25.62
5 MSKY 1,000 1,250 250 25.00
6 AGAR 392 490 98 25.00
7 KPAL 232 290 58 25.00
8 MKPI 13,500 16,200 2,700 20.00
9 BWPT 104 121 17 16.35
10 DART 276 312 36 13.04
No Code Prev Close Change %
1 MAMI 326 246 -80 -24.54
2 MASA 466 390 -76 -16.31
3 PDES 730 615 -115 -15.75
4 FORZ 70 59 -11 -15.71
5 DWGL 230 194 -36 -15.65
6 YULE 150 131 -19 -12.67
7 FILM 190 167 -23 -12.11
8 BCAP 165 146 -19 -11.52
9 IKAI 115 102 -13 -11.30
10 ICON 83 74 -9 -10.84
No Code Prev Close Change %
1 IPTV 530 525 -5 -0.94
2 MNCN 1,390 1,395 5 0.36
3 TOWR 740 745 5 0.68
4 MAMI 326 246 -80 -24.54
5 ACES 1,550 1,485 -65 -4.19
6 WSKT 1,290 1,420 130 10.08
7 BBRI 4,220 4,170 -50 -1.18
8 BNLI 1,140 1,255 115 10.09
9 TLKM 4,060 4,100 40 0.99
10 ERAA 1,490 1,520 30 2.01