Portal Berita Ekonomi Sabtu, 08 Agustus 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief

Batubara Laku Keras, Pemanfaatan FABA Digenjot

Batubara Laku Keras, Pemanfaatan FABA Digenjot
WE Online, Jakarta -

Gelombang trasformasi energi yang tengah terjadi di sejumlah sektor industri perlu mulai mendapatkan perhatian dari sejumlah pihak. Hal ini seiring kebijakan yang diambil oleh sejumlah pelaku industri yang mulai mengganti kebutuhan energinya dari semula bergantung pada pasokan minyak dan gas bumi yang cadangannya diprediksi hanya tersisa untuk 20-30 tahun ke depan, bergeser pada pemanfaatan batubara yang relatif masih tersedia hingga 50 tahun mendatang. 

 

Tak kurang para pelaku dari sejumlah sektor industri seperti tekstil dan produk tekstil (TPT), petrokimia, semen, dan pupuk, dan berbagai manufaktur lain diketahui telah mulai mengganti sumber energinya ke batubara. Tak terkecuali PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang banyak membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dengan energi primernya juga menggunakan batubara.

 

Baca Juga: Dukung Energi Terbarukan, Sejumlah Pengusaha Gunakan PLTS Atap

 

Sejalan dengan peningkatan penggunaan batubara, pemanfaatan fly ash and bottom ash (FABA) sebagai limbah padat hasil pembakaran batubara juga harus didorong dengan sama massifnya karena jika tidak bakal menumpuk sebagai limbah tanpa memberikan nilai tambah.

 

“Padahal FABA sebagai limbah masih bisa dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bagi, substitusi energi ataupun bahan baku di sejumlah industri manufaktur, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini,” ujar Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Teddy Caster Sianturi, dalam keterangan resminya, di Jakarta, Jumat (12/7).

 

Baca Juga: Di KTT G20, Indonesia-Arab Saudi Jajaki Kerja Sama Energi

 

Dicontohkan Teddy, pemanfaatan FABA misalnya saja dapat diolah menjadi produk lain yang bermanfaat seperti genteng atau produk lain seperti paving block. Selain itu banyak pembangunan infrastruktur yang juga dapat memanfaatkan FABA sebagai bahan dasar atau campuran untuk  pembangunan jalan dan berbagai pemanfaatan lainnya. Upaya pemanfaatan FABA itu, menurut Teddy, sesuai dengan implementasi program prioritas pada peta jalan Making Indonesia 4.0 yang telah dicanangkan oleh pemerintah. 

 

Meski demikian, Teddy mengakui bahwa untuk dapat memanfaatkan FABA secara lebih luas, pelaku industri masih terhambat oleh berbagai prosedur sebagaimana telah ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 

 

Baca Juga: 6 Strategi Indonesia dalam Transisi Energi Perlindungan Lingkungan

 

Aturan tersebut dinilai sejumlah pihak terlalu rigid karena didasarkan kepada Peraturan Pemerintah (PP) No. 101 tahun 2014 yang memasukkan FABA sebagai limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) serta dilakukan dalam rangka pengendalian dampak lingkungan hidup. 

 

“Itulah sebabnya, bila memang ada arahan, nantinya Kemenperin akan berinisiatif mengajukan Peraturan Presiden (Perpres) yang dapat mengakomodasi kepentingan pihak industri. Diharapkan Menteri Koordinator Perekonomian ataupun Menteri Koordinator Maritim dapat mewadahi menteri-menteri terkait. Dengan demikian tujuan pengendalian polusi udara tetap terjaga, tapi di sisi lain FABA juga masih dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang bermanfaat,” tegas Teddy. 

Tag: Batubara, energi

Penulis/Editor: Annisa Nurfitriyani

Foto: Sufri Yuliardi

Baca Juga

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,925.40 3,885.82
British Pound GBP 1.00 19,310.01 19,112.04
China Yuan CNY 1.00 2,113.12 2,091.20
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,720.24 14,573.77
Dolar Australia AUD 1.00 10,619.18 10,510.60
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,899.36 1,880.44
Dolar Singapura SGD 1.00 10,735.30 10,626.93
EURO Spot Rate EUR 1.00 17,442.01 17,267.00
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,510.67 3,471.60
Yen Jepang JPY 100.00 13,942.26 13,802.23
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 5143.893 -34.379 697
2 Agriculture 1182.126 4.501 23
3 Mining 1420.039 -17.397 48
4 Basic Industry and Chemicals 750.026 -7.720 80
5 Miscellanous Industry 936.518 5.337 52
6 Consumer Goods 1901.378 -17.731 58
7 Cons., Property & Real Estate 287.698 -4.036 92
8 Infrastruc., Utility & Trans. 891.398 -15.669 78
9 Finance 1123.701 -6.899 93
10 Trade & Service 635.015 7.240 173
No Code Prev Close Change %
1 IPOL 70 92 22 31.43
2 TOYS 436 545 109 25.00
3 WOWS 72 89 17 23.61
4 OPMS 128 151 23 17.97
5 YULE 172 197 25 14.53
6 BBHI 146 167 21 14.38
7 EMTK 4,290 4,900 610 14.22
8 DART 220 248 28 12.73
9 CSRA 310 346 36 11.61
10 PTSN 208 232 24 11.54
No Code Prev Close Change %
1 PGJO 55 50 -5 -9.09
2 VRNA 115 107 -8 -6.96
3 INDO 130 121 -9 -6.92
4 IBFN 290 270 -20 -6.90
5 LUCK 232 216 -16 -6.90
6 PGLI 204 190 -14 -6.86
7 BAYU 1,100 1,025 -75 -6.82
8 APII 191 178 -13 -6.81
9 TARA 59 55 -4 -6.78
10 CSMI 208 194 -14 -6.73
No Code Prev Close Change %
1 TOWR 1,150 1,080 -70 -6.09
2 ANTM 835 840 5 0.60
3 BBKP 182 193 11 6.04
4 UNTR 23,775 24,700 925 3.89
5 GIAA 258 260 2 0.78
6 TLKM 3,020 2,980 -40 -1.32
7 PURA 124 126 2 1.61
8 MDKA 2,020 2,050 30 1.49
9 PWON 388 376 -12 -3.09
10 ERAA 1,525 1,620 95 6.23