Portal Berita Ekonomi Kamis, 18 Juli 2019

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 09:16 WIB. Perang Dagang - Para pemimpin China mengadakan pertemuan rahasia untuk mempersiapkan menghadapi delegasi AS.
  • 09:00 WIB. IHSG - IHSG dibuka merah 0,15% di awal sesi I.
  • 07:45 WIB. Google - Trump akan selidiki tuduhan Google disusupi intelijen China.
  • 07:30 WIB. Qualcomm - Qualcomm bikin chipset khusus ponsel gaming.
  • 07:15 WIB. Perang Dagang - Para pemimpin China mengadakan pertemuan rahasia untuk mempersiapkan menghadapi delegasi AS.
  • 06:49 WIB. LAPAN - Satelit LAPAN catat polusi udara Jakarta di level waspada.
  • 06:05 WIB. Facebook - Perancis dan Jerman tolak uang kripto Facebook.
  • 23:40 WIB. Libra - Pertemuan mentri keuangan G-7 diwarnai ketakukan akan uang kripto Facebook.
  • 23:29 WIB. Orang kaya - Bill Gates kini orang terkaya no.3 di dunia, tahun lalu no.2 (Bloomberg Billioners Index).
  • 23:14 WIB. Drone - Polisi AS tidak menerima drone buatan China.
  • 22:01 WIB. Hong Kong - Ekonomi Hong Kong mulai melambat akibat demo berkepanjangan.
  • 21:09 WIB. Mobil listrik - Toyota Motor Corp setuju untuk membeli batrei dari Contemporary Amperex Technology Ltd.
  • 20:46 WIB. Formula E - Jakarta belum tentu jadi tuan rumah Formula E.
  • 20:05 WIB. Global - Bloomberg: 10 miliar penghuni dunia akan membutuhkan makanan modifikasi genetik.
  • 19:49 WIB. Elon Musk - Neuralink mengatakan siap untuk menyambungkan otak manusia dengan komputer.

Harga Cabai Meroket, Ini Sebabnya!

Harga Cabai Meroket, Ini Sebabnya! - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Harga cabai merah di pasar tradisional per 11 Juli 2019 kian meroket,   hingga menyentuh angka Rp56.380 per kilogram (kg) rata-rata secara nasional. Kenaikan harga cabai lebih signifikan bahkan terjadi di Jakarta,  yang pada 11 Juli 2019 sudah menyentuh angka Rp70.850 per kilogram.

 

Tidak adanya pengaturan produksi penyuluhan untuk penciptaan bibit unggul  terkait penanaman cabai diindikasikan menjadi penyebab utamanya. Persoalan berulang ini gagal diantisipasi Pemerintah.

 

Pengamat Ekonomi dari Institute for Development of Economic and Finance (Indef), Rusli Abdullah, mengatakan secara umum, harga cabai yang naik hingga hampir 100% di beberapa daerah disebabkan kekeringan yang ekstrem. Hal ini pun mengakibatkan produksi dan suplai cabai menjadi terbatas.

 

“Itu karena supply-nya yang terbatas karena produksinya yang belum optimal,” katanya kepada wartawan, beberapa waktu lalu. 

 

Baca Juga: Kendalikan Harga, Toko Tani Indonesia Gelar Pasar Cabai Murah

 

Ia mengatakan, Pemerintah kurang optimal dalam mendorong penciptaan varietas unggulan yang tahan terhadap perubahan iklim. Padahal, varietas itu dapat ditemukan dengan   misalnya dengan berinovasi pada cara tanam. Menurutnya, permasalahan ini tidak hanya terjadi pada cabai, tetapi juga tanaman-tanaman lain. 

 

“Dia lebih kepada bagaimana memproduksi, tapi bagaimana adaptif terhadap perubahan iklim itu kurang optimal di situ,” ucapnya lagi.

 

Sementara  dari sisi permintaan, Rusli mengatakan, pemerintah harus mulai perlu mendorong supaya masyarakat tidak bergantung lagi pada cabai segar. Hal ini bisa dilakukan dengan membiasakan masyarakat mengonsumsi cabai bubuk atau sambal olahan. Jadi, produksi cabai yang melimpah pada musim panen dapat terserap menjadi produk yang tahan lama. 

 

“Jadi pemerintah harus  mendorong masyarakat agar mereka lebih bisa adaptif terhadap cabe olahan,” ucapnya.

 

Baca Juga: Cabai Merah dan Emas Penyumbang Terbesar Inflasi Juni 2019

 

Senada, pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Kudhori melihat, naiknya harga komoditas cabai merah yang terjadi saat ini salah satunya disebabkan oleh minimnya stok cabai yang tidak seimbang dengan permintaan. 

 

Kurangnya ketersediaan cabai merah pun disinyalir disebabkan oleh jumlah produksi cabai dari petani yang kurang maksimal. Salah satunya karena mengalami kekeringan lahan dan bahkan gagal panen karena kemarau.

 

“Ya ini siklus tahunan. Dan tahun ini kan kalau dibandingkan tahun sebelumnya kekeringan lebih panjang jadi di daerah-daerah yang selama ini menjadi basis produksi cabai itu ada gangguan,” jelas Kudhori.

 

Baca Juga: Harga Cabai dan Bawang Merangkak Naik

 

Kudhori mengatakan, fenomena gagal panen atau rusaknya tanaman cabai saat terjadi kemarau panjang atau kekeringan yang berlebih merupakan hal wajar. Fenomena sama pun, Kudhori sebut juga terjadi pada tanaman hortikultura lainnya. 

 

“Ini seperti tanaman hortikultura yang lain lah kalau ada gangguan di level budidaya dalam bentuk perubahan iklim ya pasti dampaknya kerasa di panennya. Ketika terjadi anomali atau penyimpangan iklim cuaca itu bukan hanya soal air. Biasanya itu juga berbarengan dengan hama dan penyakit ya,” sambungnya. 

 

Kudhori pun menyimpulkan bahwa para petani seharunya bisa mengantisipasi datangnya musim kemarau, lantaran Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) telah rutin mengumumkan perkiraan iklim per tiga bulan sekali. 

 

Baca Juga: Jelang Lebaran Haji Harga Telur dan Cabe Anjlok

 

Sementara Peneliti Center for Indonesia Policy Studies (CIPS) Galuh Octania mengatakan, minimnya produksi cabai juga disebabkan oleh ketakutan para petani untuk menanam cabai di musim kemarau yang berkepanjangan. Galuh menyebutkan, banyak petani tidak berani mulai menanam cabai karena takut mengalami gagal panen. 

 

“Jadi nggak berani aja mereka nanem karena kerugiannya akan lebih besar nantinya. Karena mereka lihatnya juga dari keuntungan petani sendiri apakah kalau saya menanam, saya akan panen ya nanti,” ujar Galuh. 

 

Galuh berpendapat, pemerintah seharunsya bisa belajar dari kesalahan masa lalu karena siklus ini terjadi tiap tahun. Pola kemarau yang membuat produksi sejumlah komoditas berkurang, menurut Galuh, harusnya bisa diantisipasi pemerintah. 

 

“Ya itu berarti pemerintah harus meyakinkan petani untuk dapat menanam itu di luar musim kemarau dimanfaatkan semaksimal mungkin menanam di luar musim kemarau, sebelum musim kemarau,” paparnya. 

Tag: Cabai Merah, Cabai

Penulis/Editor: Annisa Nurfitriyani

Foto: Sufri Yuliardi

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,738.00 3,699.88
British Pound GBP 1.00 17,403.19 17,223.84
China Yuan CNY 1.00 2,036.85 2,016.51
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 14,019.00 13,879.00
Dolar Australia AUD 1.00 9,828.72 9,729.18
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,794.23 1,776.19
Dolar Singapura SGD 1.00 10,317.95 10,211.15
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,718.10 15,555.58
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,408.46 3,371.14
Yen Jepang JPY 100.00 12,962.55 12,829.54

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6394.609 -7.271 652
2 Agriculture 1360.695 -1.524 21
3 Mining 1639.706 -0.398 49
4 Basic Industry and Chemicals 799.891 -0.595 72
5 Miscellanous Industry 1259.816 -47.920 49
6 Consumer Goods 2371.485 22.616 53
7 Cons., Property & Real Estate 495.215 -0.879 80
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1230.336 -6.362 74
9 Finance 1326.341 -0.371 91
10 Trade & Service 817.488 -0.352 163
No Code Prev Close Change %
1 SSTM 400 500 100 25.00
2 KAYU 360 450 90 25.00
3 ARKA 665 830 165 24.81
4 GLOB 326 406 80 24.54
5 MINA 1,010 1,250 240 23.76
6 TALF 286 348 62 21.68
7 MTPS 1,050 1,200 150 14.29
8 OCAP 420 480 60 14.29
9 TOPS 605 665 60 9.92
10 WIIM 242 266 24 9.92
No Code Prev Close Change %
1 POSA 322 242 -80 -24.84
2 KIOS 620 515 -105 -16.94
3 CASS 730 620 -110 -15.07
4 DWGL 93 80 -13 -13.98
5 YULE 179 154 -25 -13.97
6 MYTX 72 63 -9 -12.50
7 INCF 82 72 -10 -12.20
8 INPP 820 720 -100 -12.20
9 ASBI 386 340 -46 -11.92
10 PALM 258 228 -30 -11.63
No Code Prev Close Change %
1 SRIL 340 344 4 1.18
2 MNCN 1,445 1,420 -25 -1.73
3 POSA 322 242 -80 -24.84
4 ASII 7,450 7,100 -350 -4.70
5 IPTV 246 244 -2 -0.81
6 ANTM 895 900 5 0.56
7 BIPI 52 52 0 0.00
8 MAMI 93 94 1 1.08
9 SWAT 117 116 -1 -0.85
10 BBRI 4,550 4,520 -30 -0.66