Portal Berita Ekonomi Kamis, 23 Januari 2020

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

  • icon facebook kecil
  • icon twitter kecil
  • icon feed kecil
  • icon youtube kecil
  • icon email kecil
Executive Brief
  • 16:06 WIB. Valas - Yuan ditutup positif 0,41% terhadap Dollar AS pada level 6,93 CNY/USD.
  • 16:05 WIB. Valas - Rupiah ditutup negatif 0,05% terhadap Dollar AS pada level 13.639 IDR/USD.
  • 16:01 WIB. Bursa - Indeks Straits Times ditutup negatif 0,62% pada level 3.233.
  • 16:01 WIB. Bursa - Indeks Shanghai ditutup negatif 2,75% pada level 2.976.
  • 16:00 WIB. Bursa - Indeks Hang Seng ditutup negatif 1,52% pada level 27.909.
  • 15:32 WIB. Bursa - Indeks FTSE 100 dibuka negatif 0,47% pada level 7.536.
  • 15:31 WIB. Bursa - Indeks Nikkei ditutup negatif 0,98% pada level 23.795.
  • 15:31 WIB. Bursa - Indeks KOSPI ditutup negatif 0,93% pada level 2.246.

Impor Besi dan Baja Membludak, Indonesia Mesti Belajar dari Filipina dan Malaysia

Impor Besi dan Baja Membludak, Indonesia Mesti Belajar dari Filipina dan Malaysia - Warta Ekonomi
WE Online, Jakarta -

Importasi besi atau baja, baja paduan, dan produk turunannya ke pasar dalam negeri terus membludak. Hal ini masih menjadi permasalahan utama bagi produsen baja nasional.

Peningkatan impor tersebut selain menghimpit produsen baja lapis nasional yang pangsa pasarnya kian tergerus, juga secara langsung berimbas pada menurunnya permintaan produk hulu, yaitu cold rolled coil (CRC) dan hot rolled coil (HRC) dalam negeri yang merupakan bahan baku dari produk baja lapis.

Chairman The Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA), Silmy Karim mengatakan, peningkatan importasi telah membuat industri baja nasional semakin tidak sehat, di mana utilisasi produsen baja nasional terus menurun karena produk impor.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), terjadi peningkatan importasi besi dan baja pada kuartal pertama 2019 sebesar 14,65% (2,7 juta ton) jika dibandingkan dengan periode yang sama 2018 (2,4 juta ton). Diketahui peningkatan tersebut tidak hanya terjadi pada produk hulu, namun juga pada produk hilir, seperti baja lapis (coated sheet).

Baca Juga: BMAD Berakhir, Krakatau Steel Kembali Suplai 60 Ribu Ton Baja ke Australia

"Baik di hulu maupun hilir ikut mengisi pangsa pasar yang seharusnya diisi oleh produk dalam negeri," jelas Silmy Karim dalam keterangannya yang diperoleh di Jakarta, Kamis (25/7/2019).

Lanjut Silmy, tutupnya National Steel Corporation (NSC) di Filipina pada 2009 dan Megasteel di Malaysia pada 2016 lalu dapat dijadikan bahan evaluasi. Industri-industri baja hulu di negara-negara tersebut akhirnya mati akibat masuknya importasi di produk hilir, yang akhirnya secara langsung berdampak pada utilisasi industri hulu.

Dalam upaya mengendalikan importasi dan memperbaiki neraca perdagangan nasional, produsen baja nasional mengapresiasi respons positif pemerintah melalui pemberlakuan Permendag nomor 110/2018 sebagai upaya mengendalikan importasi baja yang diharapkan memberikan dampak positif bagi industri baja nasional, seperti peningkatan utilisasi melalui peningkatan penggunaan produk dalam negeri dan pengendalian importasi.

Baca Juga: Pemain Lokal Industri Baja Yakin Penuhi Kebutuhan Dalam Negeri

Namun, saat ini masih terdapat hal yang harus ditindaklanjuti segera oleh pemerintah, yaitu berkenaan dengan penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang mengatur terkait implementasi pemeriksaan di pelabuhan kedatangan (border inspection) dan/atau PLB sebagaimana diatur dalam Permendag 110/2018.

"Dalam kaitan dukungan terhadap keberlangsungan industri baja nasional, konsistensi dan komitmen yang kuat dalam menjamin kesesuaian implementasi Permendag nomor 110/2018 harus dilakukan oleh pemerintah agar situasi industri baja nasional kembali sehat," pungkas Direktur Utama Krakatau Steel itu.

Baca Juga

Tag: Baja, Impor

Penulis: Bambang Ismoyo

Editor: Rosmayanti

Foto: Reuters/Hannibal Hanschke

loading...
Kurs Rupiah
Mata Uang Simbol Nilai Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 1.00 3,650.70 3,613.99
British Pound GBP 1.00 17,989.98 17,805.55
China Yuan CNY 1.00 1,977.43 1,957.59
Dolar Amerika Serikat USD 1.00 13,694.13 13,557.87
Dolar Australia AUD 1.00 9,414.71 9,318.32
Dolar Hong Kong HKD 1.00 1,761.85 1,744.20
Dolar Singapura SGD 1.00 10,155.08 10,053.29
EURO Spot Rate EUR 1.00 15,186.79 15,034.32
Ringgit Malaysia MYR 1.00 3,366.31 3,330.35
Yen Jepang JPY 100.00 12,488.95 12,361.30
Ringkasan BEI
No Name Today Change Stock
1 Composite Index 6249.210 15.757 675
2 Agriculture 1389.817 -4.000 21
3 Mining 1481.192 -1.004 49
4 Basic Industry and Chemicals 965.949 11.937 77
5 Miscellanous Industry 1228.455 7.753 51
6 Consumer Goods 2078.820 6.780 57
7 Cons., Property & Real Estate 472.686 0.757 85
8 Infrastruc., Utility & Trans. 1096.781 5.772 76
9 Finance 1375.393 1.438 92
10 Trade & Service 745.215 -4.996 167
No Code Prev Close Change %
1 POLA 130 171 41 31.54
2 OMRE 750 930 180 24.00
3 PORT 500 600 100 20.00
4 GMTD 16,000 19,000 3,000 18.75
5 INAF 690 810 120 17.39
6 TIRA 256 300 44 17.19
7 LMAS 113 130 17 15.04
8 NIKL 610 695 85 13.93
9 ALKA 350 398 48 13.71
10 UNIT 161 181 20 12.42
No Code Prev Close Change %
1 PADI 75 50 -25 -33.33
2 GHON 1,580 1,210 -370 -23.42
3 PEGE 152 120 -32 -21.05
4 MTSM 236 190 -46 -19.49
5 PRIM 378 318 -60 -15.87
6 NZIA 690 585 -105 -15.22
7 ALMI 350 308 -42 -12.00
8 OCAP 176 155 -21 -11.93
9 PICO 895 800 -95 -10.61
10 ENVY 492 440 -52 -10.57
No Code Prev Close Change %
1 TOWR 830 830 0 0.00
2 KPIG 127 129 2 1.57
3 LUCK 630 600 -30 -4.76
4 MNCN 1,720 1,700 -20 -1.16
5 TCPI 6,700 6,875 175 2.61
6 DMND 1,370 1,530 160 11.68
7 GMFI 114 126 12 10.53
8 BBRI 4,710 4,740 30 0.64
9 ABBA 92 92 0 0.00
10 NIKL 610 695 85 13.93