Upaya Swasta Tanggulangi Ancaman Karhutla

Upaya Swasta Tanggulangi Ancaman Karhutla Kredit Foto: APRIL

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau tahun ini bakal berlangsung lebih lama dan lebih kering. Kemarau diperkirakan akan berlangsung pada Juli-Oktober dengan puncak kekeringan diprediksi terjadi pada bulan Agustus.

Memasuki awal Agustus, tak hanya titik panas, sejumlah titik api yang menyebabkan kebakaran dan kabut asap telah terjadi di beberapa provinsi sejak sepekan terakhir. Dilansir dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 29 Juli 2019, luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 42.740 hektare (ha).

Dari jumlah itu, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terluas terjadi di Riau mencapai 27.583 ha. Disusul oleh Kalimantan Timur (5.153 hektare), Kepulauan Riau (4.969 ha), Sumatera Selatan (2.274 hektare), dan Kalimantan Utara (792 hektare).

Sebagai salah satu perusahaan yang memiliki wilayah operasional di Riau, Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) telah mengintensifkan upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla di wilayah konsesi dan sekitar konsesinya dengan pendekatan terpadu.

Baca Juga: Sejak 2014, 88,56 Hektare Lahan Telah Direstorasi APRIL

Pendekatan terpadu yang dimaksud yakni pencegahan kebakaran dilakukan dari awal mulai dari memberikan pemahaman kepada masyarakat sekitar konsesi untuk tidak melakukan kegiatan pembukaan lahan tanpa bakar, yang diisinyalir menjadi penyebab utama karhutla selama ini. Tak sampai di situ, aksi nyata dengan kelengkapan personel cepat tanggap sampai teknologi terbaru dalam pemantauan karhutla dimiliki oleh APRIL dalam memaksimalkan upaya pencegahan kebakaran.

Hingga saat ini, APRIL telah menginvestasikan sebesar US$9 juta untuk sumber daya penanggulangan kebakaran, termasuk dua helikopter, dua airboats, 482 pompa air, dan 39 menara pemantauan api di Provinsi Riau.

APRIL Group, lewat unit bisnisnya PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), terus meningkatkan frekuensi patroli baik darat dan udara serta terus berkoordinasi dengan masyarakat dalam pencegahan karhutla selama periode rawan kebakaran. Sebelumnya, APRIL telah mengumumkan periode rawan kebakaran ke seluruh wilayah konsesi APRIL hingga 30 September 2019.

Perusahaan juga memiliki hingga 1.000 personel reaksi cepat, termasuk 260 personel pemadam kebakaran profesional. Tim penanggulangan kebakaran juga dilengkapi dengan teknologi terkini dengan menggunakan drone dalam pemantauan titik api.

Untuk memberikan pemahaman, APRIL membantu mengurangi risiko kebakaran melalui Program Desa Bebas Api (Fire Free Village Program) yang berfokus pada masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan ketahanan masyarakat dalam pengelolaan kebakaran. Hasilnya, tingkat insiden kebakaran setiap tahun di daerah FFVP terus berkurang. Pada 2018, area yang terbakar berkurang menjadi 0,02% dari total area yang dicakup program tersebut seluas 600.000 ha.

APRIL juga menjadi inisiator dalam pembentukan Fire Free Aliance (FFA) yang merupakan gabungan dari sejumlah perusahaan dalam pencegahan karhutla dengan melibatkan masyarakat. Saat ini, sedikitnya 200 desa dengan total luas 1,5 juta ha tergabung dalam program ini.

"Kolaborasi pencegahan kebakaran terus dilakukan, tidak hanya pemerintah saja namun juga dari kami pihak swasta, masyarakat dan seluruh pihak terkait terus bersinergi untuk menanggulangi karhutla," ucap Manager Pencegahan Kebakaran APRIL Group Sailal Arimi.

Memang, pekerjaan pencegahan karhutla di Tanah Air tak bisa diatasi sendiri. Peran seluruh pihak sangat berarti, mulai dari pemahaman untuk mengantisipasi karhutla sampai aksi nyata dalam pencegahan itu sendiri, seperti yang dilakukan APRIL Group.

Video Pilihan

Berita Terkait

HerStory

Terpopuler

Terkini